Friday, May 29, 2026

Dari Bumi Amungme: Perlawanan Yosepha Alamong dalam Pusaran Konflik PT Freeport

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Suku Amungme adalah suku asli yang tinggal di pegunungan tengah Papua, Indonesia. Mereka hidup secara tradisional melalui berdagang, berburu, beternak babi dan bercocok tanam. Masyarakat Amungme menganggap bentang alam sebagai ibu mereka dan puncak-puncaknya memiliki nilai sakral. Mereka senantiasa melihat daerahnya dengan penuh rasa hormat dan perhatian yang telah ditanamkan oleh para leluhurnya. Adanya PT Freeport yang melakukan penambangan besar-besaran memunculkan kekhawatiran mendalam bagi suku Amungme yang tinggal dekat dengan konsesi pertambangan. 

Pada tahun 1974, Freeport mengadakan pertemuan dengan suku Amungme dan membuat kesepakatan untuk mengizinkan operasi tambang. Namun, suku Amungme menolak penambangan tersebut dan mendapatkan intimidasi oleh militer Indonesia bahkan tahun 1977, militer menembaki desa hingga menewaskan sekitar 30 orang Papua dan beberapa pemukiman rusak berat. Pasca kejadian tersebut, bentrokan terus terjadi antara suku Amungme, militer, dan Freeport dalam beberapa tahun. 

Yosepha Alomang adalah perempuan dari Suku Amungme lahir tahun 1940 di Kampung Tsinga yang berjarak sekitar 20 KM sebelah timur Tembagapura dimana Freeport melakukan operasi penambangan. Mama Yosepha sebagai Koordinator lembaga Hak Asasi Manusia Amungme, Papua. Beliau membela hak asasi kaum perempuan yang berkaitan dengan lingkungan terjadi pada tahun 1992. Beliau dengan berani menggerakkan ratusan kaum perempuan Amungme membuat tungku api besar-besaran di bandara Timika hingga membuat penerbangan berhenti total. 

Mama Yosepha juga menghancurkan makanan impor ketika Freeport menolak membeli buah-buahan dan sayuran lokal hingga memotong pipa Freeport. Aksi protes ini dilakukan sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang diterima para masyarakat karena adanya praktik perampasan tanah dan kebun sayur masyarakat Timika oleh PT Freeport yang ingin membangun gedung dan hotel di daerah Timika (Astuti, 2012). 

Pelanggaran Ham yang dilakukan demi kepentingan pribadi telah terjadi di area tambang dan bukan menjadi rahasia umum bahwa rakyat Papua berusaha mati-matian untuk mempertahankan wilayahnya. Mereka mengalami kekerasan, intimidasi, penembakan, dan pembunuhan demi terwujudnya operasi tambang emas. Pada tahun 1997, Mama Yosepha dan suku Amungme pernah bersembunyi dari kejaran para militer Indonesia karena dianggap membakar pipa tambang hingga menjadikan buronan. Dalam pelarian tersebut, Anak sulungnya yang masih berusia 3 tahun harus meninggal akibat kelaparan di dalam hutan, beliau sangat terpukul dan marah atas kejadian yang menimpanya saat itu. Akan tetapi, Mama Yosepha tetap berusaha memperjuangkan masyarakat Papua salah satunya membentuk kelompok doa dan koperasi simpan pinjam yang diberi nama Koperasi Kulakok yang mampu berkembang pesat (validnews.id, 2017). 

Selain itu, Suku Amungme dipaksa pindah dan menderita tanpa diberikan ganti rugi atas lahan yang diambil. Kegiatan operasi Freeport memunculkan modernitas dan perubahan infrastruktur, akan tetapi hal itu tidak bisa dirasakan oleh masyarakat Amungme. Mereka mendapatkan tanah yang sangat tercemar dan dipindahkan ke daerah yang tidak sehat, terserang malaria, dan mengalami kerugian secara fisik dan materi. 

Dari banyaknya permasalahan yang dialami masyarakat suku Amungme, Mama Yosepha bersama para perempuan Papua mengajukan gugatan terhadap PT Freeport melalui pengadilan federal dan Negara bagian New Orleans Amerika Serikat. Mereka memperjuangkan hak asasi manusia yang sudah direnggut serta ketidakadilan yang menimpa masyarakat Papua lainnya oleh perusahaan tambang dengan semena-mena. 

Pada tahun 1993, Beliau bergabung dengan lembaga masyarakat adat Amungme, tetapi setahun kemudian ditangkap karena dituduh membantu Organisasi Papua Merdeka (OPM) Luviana, 2002). 2 tahun pasca penangkapan, mama Yosepha mengajukan tuntutan perdata atas freeport McMoran Copper & Gold di Amerika dan menuntut ganti rugi atas dirinya dan kerusakan lingkungan akibat penambangan tersebut hingga akhirnya memenangkan gugatan. 

Perjuangan mama Yosepha mengantarkannya mendapatkan penghargaan dari The Goldman Environmental Prize dan Yap Thiam Hien. Beliau juga mendirikan Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK) dan aktif bekerja untuk masyarakat adat dan Ham (Konde.co, 2023). Kisah inspiratif yang telah dilakukan oleh Mama Yosepha Alomang bersama dengan para perempuan adat Amungme demi mempertahankan lingkungan dan tempat tinggalnya. Semangat perjuangan untuk menegakkan keadilan menjadi nilai luhur dari sosok perempuan Papua yang menginspirasi para perempuan lainnya untuk berani melawan ketidakadilan. 

 

Referensi

Astuti, T. M. P. (2012). Ekofeminisme dan peran perempuan dalam lingkungan. Indonesian Journal of Conservation, 1(1).

Luviana. 2002. “Perampuan Indonesia Pejuang Lingkungan”. dalam Jurnal Perempuan.

No. 21 hal. 85-96. 

‘https://validnews.id/kultura/Yosepha-Alomang–Pejuang-Hak-Rakyat-Papua-zPX

https://www.konde.co/2022/02/jalan-hidup-yosepha-alomang-perempuan-pejuang-di-papua/

Mama Aleta, Yosepha Alomang, dan Delima Silalahi: Pejuang Lingkungan Berperspektif Perempuan

Arifah
Arifah
Seorang penulis aktif yang tertarik dengan isu keperempuanan dan kesetaraan gender.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha