Friday, May 22, 2026

Dewi Candraningrum, Lukisan Perempuan, Kemanusiaan, Ekofemisme, dan Berdaya Bersama

Editor: Yuyun Khairun Nisa

Awal perjumpaan dengan Dewi Candraningrum atau akrab disapa Mbok Dewi yaitu tahun 2021 di galeri dan studio miliknya, Jejer Wadon di Boyolali, Jawa Tengah. Ruangan milik Mbok Dewi penuh dengan wajah-wajah perempuan-perempuan dengan ekspresi penuh emosi.

Lukisan-lukisan tersebut merupakan cara Mbok Dewi untuk mendokumentasikan cerita-cerita dan perempuan-perempuan penyintas Ianfu (korban budak seks zaman penjajahan Jepang), tragedi 1965, dan para pejuang lingkungan seperti perempuan-perempuan Kendeng.

Para penyintas tersebut rata-rata sudah tua, atau bahkan ada yang sudah meninggal. Itu salah satu tantangan membuat karya dan mendokumentasikan saksi sejarah, yaitu kejar-kejaran dengan waktu. Mbok Dewi konsisten menyuarakan kepada dunia mengenai suara mereka yang dibungkam melalui lukisan sebagai salah satu medianya. 

Sambil menunjukkan lukisan penyintas Ianfu, Mbok Dewi bercerita tentang Mardiyem yang dulu menjadi Ianfu sejak kecil karena ditipu dan diiming-imingi pekerjaan oleh tentara Jepang. Momoye, “Budak Seks”, mengubur mimpinya setelah diperkosa belasan tentara yang mengakibatkan alat reproduksinya luka parah dan terpaksa operasi angkat rahim.

Dari lukisan-lukisan yang dipajang, saya terbayang bagaimana tangan terampil Mbok Dewi menggoreskan beragam warna menggunakan kuas, memadukan warna gelap dan terang untuk memberikan gambaran betapa beragamnya pengalaman, perjuangan, trauma, dan usaha pemulihan korban.

Mbok Dewi pun ingin karya-karyanya bisa dibawa ke mana-mana dengan mencetak lukisan-lukisan tersebut di kain selendang atau pashmina. Hal ini menjadi salah satu medium baginya untuk mengkampanyekan suara korban agar tidak redam. Menjadikan potret korban suatu karya yang bermakna dan powerful.

Mengabadikan cerita perempuan penyintas merupakan hal yang sangat penting agar masyarakat bisa mengambil makna, mencegah berulangnya peristiwa kelam, dan sebagai inspirasi untuk melawan ketidakadilan dengan terus membawa suara-suara korban dalam narasi atau karya publik.

Selain sebagai seorang seniman, Dewi Candraningrum juga adalah dosen di bidang gender, dan aktivis lingkungan. Selain lukisan, karya lainnya ialah buku serial Kajian Ekofeminisme berisi kajian yang melibatkan para akademisi mengenai pelestarian hutan di Nusa Tenggara Timur, interseksi antara warisan budaya batik dengan kesehatan reproduksi, perjuangan perempuan Kendeng mempertahankan sumber daya alamnya, serta kajian potensi bencana di wilayah Filipina dan persamaannya dengan Indonesia.

Perempuan yang juga pernah menjadi pemimpin redaksi Jurnal Perempuan itu mengajak kita untuk menggeser pemikiran bahwa ‘semua yang ada di alam adalah subjek’. Karena makhluk hidup dan lingkungan merupakan subjek yang punya kekuatan dan hak untuk saling menjaga dan merawat. 

Di masyarakat, Mbok Dewi juga terjun sebagai koordinator Jejer Wadon, sebuah komunitas perempuan yang fokus kepada isu-isu feminis dan gerakan sosial di Solo Raya. Beberapa aksi yang dilakukan yaitu aksi solidaritas terkait kasus kekerasan seksual pada anak, pembacaan puisi, pameran bersama bertajuk Ianfu Global Fund for Women, pementasan monolog dengan isu kekerasan seksual terhadap perempuan, dan masih banyak lagi. 

Mbok Dewi membuat saya sebagai orang muda terinspirasi mendokumentasikan kisah-kisah perjuangan perempuan dan kelompok rentan yang ada di sekitar melalui media seni. Mbok Dewi mengajari kita untuk dekat dengan alam, mengenali tubuh, dan berkolaborasi dengan ragam komunitas untuk berani menyuarakan ketidakadilan yang ada di sekitar.

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha