Pasca Konflik kepentingan yang mengatasnamakan agama di Poso, orang-orang jadi was-was dan saling curiga, padahal sebelumnya mereka hidup aman dan tentram di Poso. Di tengah kecurigaan dan ketakutan yang menyelimuti, seorang perempuan penjual ikan justru mendobrak dinding prasangka. Sarino, namanya.
Sebelum konflik di Poso terjadi, Sarino menjual ikannya berkeliling pasar dan desa. Saya dan kawan-kawan Jelajah Toleransi bertemu dengan beliau di tepi pantai di Desa Tokorondo. Kami menikmati ikan segar yang baru dibakar ditemani angin sepoi yang berhembus.
Sarino bercerita pengalamannya tetap berjualan ikan meski di situasi konflik. Ia bercerita kalau kala itu ia berhasil memantapkan hati untuk mulai berjualan lagi dari desa ke desa, termasuk Desa Kasiguncu yang mayoritas Kristen. Meskipun Sarino seorang muslim, ia tidak pernah mempermasalahkan identitas siapa saja yang berinteraksi dengannya.
Sebelum berjualan kembali paska konflik, keluarga Sarino berusaha mencegahnya keluar dari pemukiman Muslim karena dianggap tidak aman. Mereka khawatir karena sering mendengarkan cerita penculikan, penembakan, pembunuhan misterius, rangkaian bom, dan sebagainya yang bisa mengancam nyawa. Sarino pun mendengarkan cerita tersebut. Meski ada rasa gugup, ia tetap memilih melanjutkan hidup dengan berjualan ikan ke desa sebelah.
Sarino berjalan kaki menyusuri hutan-hutan, kebun yang ditinggalkan, dan dibiarkan terbengkalai akibat konflik. Di rumah, keluarganya khawatir dengan nasib Sarino. Sendirian dan dalam sepi, ia melangkah memikul bakul berisi ikan segar agar dapat bertemu juga dengan saudara-saudara yang terpisah. Ia rindu namun diliputi perasaan takut.
Masih terngiang dalam ingatan Sarino. Setiap kali ia berjualan ikan, ia juga sembari berbincang-bincang santai di dapur. Itu membuktikan bahwa sejak dulu masyarakat Poso sebetulnya sudah terbiasa hidup berdampingan dengan kelompok beragam dan tidak mempermasalahkan perbedaan itu hadir di tengah mereka. Mereka berteman, bahkan saling menganggap seperti saudara sendiri dengan tulus dan penuh empati.
Sarino bercerita kepada kami kalau sesampainya di Desa Kasiguncu, warga desa langsung menghampirinya. Mereka keluar rumah dan memeluk Sarino. Saling bertanya kabar dan bercerita kondisi satu sama lain. Konflik memisahkan mereka.
Setelah saling bercerita, mereka menyadari bahwa konflik dan berita simpang siur itu hanya merugikan masyarakat sipil yang tidak tahu apa-apa. Kenyataannya mereka tidak saling benci, justru mereka saling menyayangi dan mengasihi sebagai manusia.
Sepulangnya dari Desa Kasiguncu, Sarino bercerita kepada keluarganya bahwa ia disambut oleh warga dengan hangat dan menyenangkan. Keluarga Sarino bersyukur, tenang, dan penuh haru.
Cerita Sarino yang tetap nekat berjualan itu terdengar oleh tetangga dan penjual ikan lainnya. Keberanian Sarino memberikan kekuatan bagi mereka sehingga bisa ikut berjualan kembali.
Sejak saat itu, Sarino semakin lantang mengabarkan kepada orang-orang Islam dan Kristen di desa-desa kalau keadaan aman dan tidak ada kebencian antar komunitas. Kabar baik dari Bu Sarino itu cepat menyebar dari mulut ke mulut masyarakat.
Cerita dan kabar baik yang terus direproduksi tersebut membuat warga percaya dan kembali beraktivitas seperti biasa sebelum konflik meletus. Mengikuti jejak Sarino, para pedagang ikan lain juga berjualan sambil membawa pesan damai dari desa ke desa.
Dari kisah Sarino ini, kita semakin diyakinkan bahwa dalam situasi konflik perempuan bukan sebatas korban. Perempuan mampu menjadi subjek perdamaian. Meskipun perempuan termasuk kelompok rentan, ia memiliki agensi—daya tangguh dan kemampuan negosiasi—untuk mendorong perdamaian terwujud di masyarakat.







