Thursday, June 11, 2026

Sakola Kautamaan Istri: Perjuangan Dewi Sartika untuk Perempuan di Bidang Pendidikan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Pendidikan saat masa kolonial Belanda memiliki karakteristik spesifik yakni adanya perbedaan antara penjajah dan terjajah, diskriminasi peranan antara golongan Eropa dan Bumiputra. Meskipun kaum bumiputra mendapatkan pendidikan tetapi mereka hanya berfokus pada pendidikan laki-laki. Kaum perempuan sangat dibatasi bahkan tidak memiliki peranan untuk memperjuangkan hak pendidikan. Perempuan tidak mendapatkan pendidikan yang sama karena adanya faktor sosial dan budaya. 

Budaya patriarki pada masa kolonial menempatkan kaum laki-laki sebagai pemimpin dari segala bidang dan perempuan dalam ranah domestik. Kondisi yang menimpa kaum perempuan di masa pemerintahan Belanda selalu mengalami ketidakadilan seperti di ranah politik yang tidak memiliki hak pilih dan kebijakan hukum yang mendiskriminasi perempuan. Di ranah pendidikan, perempuan tidak diperbolehkan mengenyam pendidikan bahkan keluarga dari priyayi sekalipun. Dan dalam ranah privat, perempuan mengalami diskriminasi ganda karena perempuan pribumi lebih diasosiasikan sebagai gundik bagi orang Eropa atau Timur Asing (cakrawikara.id, 2022). Dari rasa keprihatinan tersebut, muncullah tokoh-tokoh yang ingin mengubah masa depan bangsa. Para pahlawan perempuan yang memiliki kesadaran tentang pentingnya pendidikan bagi kaum perempuan menjadi sinar untuk memperjuangkan hak-hak perempuan dan menempatkan mereka sejajar dengan laki-laki. Salah satu pahlawan perempuan yang berjasa mempelopori gerakan emansipasi perempuan adalah Dewi Sartika. 

Dewi Sartika adalah pahlawan nasional perempuan yang terlahir dari keluarga menak yang terhormat.  Beliau bersekolah di Europesche Lagere School (ELS) yang merupakan sekolah khusus anak-anak Belanda dan di umur 9 tahun Dewi Sartika terpaksa dikeluarkan dari sekolah akibat tuduhan makar kepada bupati bandung baru yaitu R.A.A Martanagara karena ayahnya diasingkan ke Ternate, Maluku. Pasca kejadian tersebut, paman Dewi Sartika membawanya dan mengajari pendidikan keterampilan seperti putrinya sendiri. 

Dewi Sartika menganggap bahwa pendidikan sangatlah penting sehingga beliau sangat ingin mendirikan sekolah bagi kaum perempuan. Dalam membangun sekolah tidaklah mudah karena niat baiknya ditolak oleh Bupati Bandung karena saat itu perempuan memang tidak diberikan fasilitas dan akses bersekolah. Meskipun Dewi Sartika mendapatkan penolakan tetapi daya juangnya terus bergerilya untuk mendirikan sekolah yang pada akhirnya mendapatkan persetujuan dari Bupati Bandung. 

Pada 16 Januari 1904 didirikanlah “Sekolah Istri” di Paseban Kabupaten Bandung Barat dengan Dewi Sartika sebagai pengajar bersama dengan Ibu Purma dan Ibu Uwit. Sekolah tersebut terbuka bagi siapapun dan berasal dari keluarga manapun yang ingin belajar. Sekolah tersebut sangat diminati masyarakat karena tidak ada sekolah lain yang memberikan kesempatan belajar bagi rakyat jelata. Seiring berjalannya waktu, para pendaftar semakin banyak hingga pendopo dan ruang kepatihan Bandung tidak dapat menampung jumlah murid. Ketertarikan perempuan dalam mengenyam pendidikan sangat banyak, hal ini terbukti dari pertambahan murid setiap tahun semakin meningkat dan dukungan dari masyarakat juga semakin meluas. 

Pembelajaran di Sekolah Istri berfokus pada keterampilan perempuan meliputi 1) belajar rumah tangga seperti membersihkan rumah, menyapu, mencuci pakaian dan perabotan, serta memasak makanan. 2) Mempelajari adat dan tata cara yang sesuai dengan kedudukan atau latar belakang anak tersebut. Misalnya anak dari keluarga Menak maka harus diajarkan tata cara menghadapi seseorang yang lebih tinggi, sederajat atau lebih rendah. 3) Belajar segala keperluan dapur 4) Merawat dan menjaga orang sakit 5) Mempelajari agama. Adanya sekolah tersebut diharapkan mampu meningkatkan derajat, meningkatkan kecerdasan agar mampu membaca dan menulis, memahami kewajiban sekaligus hak nya menjadi seorang istri. Budaya patriarki yang selalu menindas kaum perempuan harus dihilangkan karena menyudutkan kaum perempuan (Aeni, 2022). 

Pada tahun 1920, sekolah istri berubah nama menjadi Sakola Kautamaan Istri yang memiliki sejumlah cabang di berbagai kota seperti Ciamis, Bogor, dan Serang. Pengaruh Sakola kautamaan Istri bagi emansipasi perempuan di Jawa Barat sangat masif. Kaum perempuan menjadi semakin terbuka untuk mendapatkan pendidikan seperti HIS, ELS, MULO, dan HBS (Lubis, 1998). Pengaruh pendidikan bagi perempuan sangatlah besar yang mampu mengubah pemikiran serta menyelesaikan permasalahan kehidupan. Perjuangan Dewi Sartika bagi seluruh perempuan Indonesia patut dikenang, beliau telah memberikan penerangan jalan bagi kaumnya untuk menapaki jalan gelap dan pengekangan pada masa kolonial Belanda. 

 

Referensi 

Aeni, A. D., & Fachrurozi, M. H. (2022). Gerakan emansipasi perempuan dalam bidang pendidikan di Jawa Barat pada awal abad kedua puluh. Bihari: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Ilmu Sejarah, 5(1). 

https://cakrawikara.id/publikasi/artikel/perempuan-di-masa-kolonial-membayangkan-indonesia/

https://purnama1smkjkt.sch.id/pembelajaran/kisah-dewi-sartika-dirikan-sekolah-perempuan-pertama-untuk-perjuangkan-kesetaraan-dalam-pendidikan/

Arifah
Arifah
Seorang penulis aktif yang tertarik dengan isu keperempuanan dan kesetaraan gender.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha