HomeOpiniMengenal Dr. Hj. Evi Muafiah, Rektor IAIN Ponorogo

Mengenal Dr. Hj. Evi Muafiah, Rektor IAIN Ponorogo

Bertemu dengan tokoh yang memiliki jabatan struktural tertinggi dalam sebuah lembaga tentunya bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Tapi tidak demikian dengan Dr. Hj. Evi Muafiah, rektor perempuan dari IAIN Ponorogo. Beliau dengan latar belakang aktifis gender, sangat terbuka untuk semua kalangan tanpa memandang jabatan akademik maupun struktural.

Nilai keadilan dan kemanusiaan yang sudah menjadi pembawaan beliau selama menjadi aktifis gender ini ternyata tak berubah meskipun mengalami perubahan jabatan. Beliau tetaplah seorang Dr. Hj. Evi Muafiah dengan segala kerendahan hatinya. Kedudukannya sebagai pimpinan tertinggi di IAIN Ponorogo sama sekali tak merubah karakter yang melekat dalam dirinya.

Adil Gender Dimulai Sejak dalam Fikiran

Ada banyak nilai-nilai kemanusiaan yang saya dapatkan selama berinteraksi dengan Dr. Hj. Evi Muafiah. Salah satunya ketika saya mendapatkan kesempatan melakukan perjalanan dinas bersama. Sebagai anak pesantren yang selalu didoktrin untuk tunduk dan taat pada kyai dan nyai, ditambah dengan doktrin perempuan jawa yang harus tau diri, melihat seorang rektor yang mengangkat koper dan tas seorang sendiri membuat saya pekewuh (serba tidak enak).

Apalagi posisi saya saat ini adalah dosen biasa, bukan pejabat, bahkan tergolong dosen baru. Namun sudah pasti, beliau tidak akan mau menerima bantuan saya. Tawaran saya untuk membantu membawa sebagian barangnya sudah pasti ditolak. Beliau berjalan dengan sejajar, menaiki pesawat dengan kelas yang sama, menunggu pesawat di tempat ekonomi dan terus membuka obrolan agar perjalanan kami tidak canggung.

Kami mengobrol seolah tidak ada sekat antara kami. Tampak beliau justru yang berusaha membuat saya tetap nyaman, agar diperlakukan sebagaimana interaksi yang seharusnya antar manusia. Tidak memperlakukan  berdasarkan jabatan dan strata sosialnya.

Menumbangkan Sakralitas Jabatan dan Profesi

Kata kunci dalam keadilan gender adalah setara dan adil. Setara berarti semua pihak memiliki kesempatan yang sama dan memiliki hak sebagai manusia untuk berpartisipasi dalam pembangunan maupun menikmati hasil pembangunan. Adil berarti memperlakukan semua pihak tanpa beban ganda, subordinasi, dan marginalisasi terhadap kelompok tertentu.

Menyoal keadilan gender dalam relasi jabatan yang setara mungkin bukan hal yang susah meskipun tidak juga gampang. Namun bagaimana dengan relasi kuasa dalam jabatan? Apakah makna adil dan setara juga bisa diimplementasikan ataukah hanya teori dan wacana semata?. Bukannya dalam konsep Weberian semakin tinggi hierarki jabatan semakin tinggi pula kekuasaannya?

Sikap Dr. Hj. Evi Muafiah yang mengedepankan nilai kemanusiaan dalam menjalankan jabatannya, mematahkan stigma birokrasi rektorat sebagai lembaga yang sakral. Rektorat sebagai pusat kegiatan civitas akademika erat dengan relasi top to down. Meletakkan mahasiswa sebagai pihak yang membutuhkan, dan menempatkan pejabat rektorat sebagai “pahlawan” bagi kelancaran mahasiswa menuju sarjana. Seolah hanya mahasiswa yang membutuhkan, padahal keduanya menjalin simbiosis mutualisme.

Sistem kerja birokrasi termasuk birokrasi kampus masih terperangkap pada sistem kerajaan. Yang menempatkan pimpinan tertinggi sebagai sosok yang dilayani, bukan melayani. Maka keterbukaan Dr. Hj. Evi Muafiah terhadap seluruh civitas akademika mematahkan sakralitas tersebut. Dengan perspektif adil gender yang beliau miliki, ibu dengan satu anak tersebut berusaha menumbuhkan nuansa birokrasi yang memanusiakan seluruhnya.

Semua pihak, termasuk didalamnya adalah mahasiswa, dosen, pegawai, tenaga pendidik, birokrat kampus juga bisa menghadap langsung ke beliau sebagai pimpinan tertinggi. Semuanya diberi hak dan kesempatan akses yang sama. Pun tidak selalu memberikan jalan keluar dan mendapatkan solusi yang solutif, namun keterbukaan beliau untuk menerima kehadiran seluruh pihak menunjukkan bahwa relasi yang dibangun adalah relasi kesetaraan. Dengan tujuan menciptakan keadilan untuk semua dan meninggalkan hierarki birokrasi yang sakral.

Adil Gender Bukan Tentang Perempuan Namun Tentang Kemanusiaan

Sikap yang dicontohkan Dr. Hj. Evi Muafiah dalam kepemimpinannya membuktikan bahwa ketika sifat adil gender ini sudah terinternalisasi dalam jiwa seseorang, maka akan tampak dalam semua sikap lahiriyahnya. Adil gender bukankah sebuah teori yang dihafal, pun bukan sebuah doktrin yang bisa dipaksakan. Adil gender adalah sebuah sikap yang memandang semuanya dalam kacamata kesetaraan atas dasar kemanusiaan.

Adil gender tidak hanya mengedepankan dan menguntungkan ego perempuan saja. Namun adil gender berkaitan dengan bagaimana kita memanusiakan manusia dalam segala aktifitas, ucapan, dan sikap dimanapun dan kapanpun. Tanpa memandang strata, jenis kelamin, dan status sosial. Sikap yang mengedepankan keadilan gender atas dasar kemanusiaan ini adalah nilai pokok yang diajarkan dalam Islam.

Sebagai seorang manusia biasa, tentunya ada banyak kekurangan yang dilakukan. Pun demikian dengan Dr. Hj. Evi Muafiah sebagai rektor di IAIN Ponorogo. Baik secara kelembagaan, struktural, maupun dari segi lainnya tentu tidak semuanya bisa berjalan dengan maksimal. Kritik atas kinerja kepemimpinan adalah sesuatu yang wajar terjadi dalam birokrasi untuk menuju tatanan yang lebih baik.

Apalagi birokrasi di Indonesia lahir dari sistem relasi kuasa. Kekuasaan birokrasi ini menyebabkan ketergantungan dan dominasi. Maka cara beliau memperlakukan semua pihak dengan kacamata kemanusiaan ini menjadi nilai penting yang harus diinternalisasi oleh semua pihak terutama bagi diri saya sendiri.

Agar tidak ada lagi manusia yang merasa berkuasa atas manusia lainnya hanya karena gelar dan jabatan yang disandangnya.  Apapun jabatan, strata, jenis kelamin, dan status sosial manusia tak ada gunanya di hadapan Allah. Karena sebaik-baik manusia, dan yang membedakan manusia satu dengan yang lainnya hanyalah ketaqwaan kepada Allah SWT sebagai pemilik hidup dan penguasa alam semesta.

 

 

 

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments