Thursday, June 11, 2026

Membaca Rukiah, Mengungkap Sejarah dari Perspektif Sastrawan Perempuan yang Terpinggirkan (Bagian 1)

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

“Ketika 24 April 1969, saya dibebaskan dan bisa bertemu anak-anak, syarat yang diberikan pemerintah saat itu adalah saya tidak menulis lagi. Tulisan yang sudah masuk ke penerbit pun tidak boleh dipublikasikan. Pemerintah tahu, itu adalah hukuman paling berat bagi penulis,” ujar Siti Rukiah Kertapati.

Nama Siti Rukiah, perempuan kelahiran Purwakarta ini memang tak sepopuler NH Dini, yang diperbincangkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Tak juga banyak yang tahu, dia yang memiliki enam anak tersebut adalah perempuan pertama yang memenangkan penghargaan sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional pada tahun 1953, menyejajarkan diri dengan sastrawan sekelas Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, atau Utuy Tatang Sontani.

Salah satu penulis, dan peneliti kesusastraan Ruth Indiah Rahayu pada acara diskusi karya S. Rukiah Kertapati, yang diadakan Komnas Perempuan tahun 2018, mengatakan Rukiah adalah penulis yang “realis” karena tulisannya nyata mengisahkan kehidupan sehari-hari perempuan Indonesia pada masa Perang Revolusi tahun 1945-1949. 

Ketika para penulis lelaki seperti Pramoedya sudah menciptakan tokoh protagonis perempuan yang kuat, mereka tetap tak piawai menggali kedalaman karakter perempuan, seperti halnya Rukiah yang  menggambarkan gejolak batin seorang perempuan dengan sangat alami, serta mampu menjadikan pikiran dan perasaan bisa selaras dalam tulisan.

 

Mengenal Siti Rukiah dan Perjalanan Revolusi Kepenulisannya

Siti Rukiah lahir di Purwakarta 25 April 1927. Di usia 19 tahun, dia telah menulis puisi untuk Majalah Gelombang Zaman dan Godam Jelata, selain juga menjadi anggota Palang Merah di Purwakarta, yang menyokong para pejuang kemerdekaan, yang saat itu bernama LRJR (Laskar Rakyat Jakarta Raya). Aktivitas itulah yang mempertemukannya pertama kali dengan Sidik Kertapati, yang kelak kemudian menjadi suaminya. 

Kegiatan menulis Rukiah terus berlanjut, dan di usia 23,  Siti Rukiah diangkat menjadi Sekretaris Redaksi Majalah Pudjangga Baru oleh Sutan Takdir Alisjahbana. Pada tahun yang sama, novelnya yang berjudul “Kedjatuhan dan Hati” diterbitkan Pustaka Rakjat dan mendapat pujian positif dari para kritikus sastra.

“Kedjatuhan dan Hati”, menceritakan kisah romansa yang berlatar belakang masa gejolak Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Susi, tokoh utama dalam cerita tersebut, diciptakan Rukiah sebagai perempuan yang berbeda dengan karakter fiksi perempuan yang lazim direpresentasikan dalam karya sastra pada masa itu. Ia menolak narasi laki-laki yang heroik dan gagah, terutama dalam konteks era revolusi kemerdekaan. 

Dua tahun kemudian, Rukiah menikah dengan Sidik Kertapati, yang juga editor majalah Godam Jelata. Rukiah pun menggunakan nama pena S. Rukiah Kertapati.

Setelah menikah, Rukiah malah makin aktif menulis, dan berorganisasi, serta menunjukkan perhatian khusus pada pengembangan sastra anak-anak.

Karya yang muncul dari tangan Rukiah antara lain Si Rawun dan Kawan-Kawannya (1955), Teuku Hasan Johan Pahlawan (1957), Pak Supi Kakek Pengungsi, Taman Sandjak Si Kecil (1959), Dongeng-Dongeng Kutilang (1962), Jaka Tingkir (1962), dan Kisah Perjalanan Si Apin (1962). Termasuk cerita-cerita rakyat untuk Balai Pustaka, seperti cerita rakyat Irian dan cerita rakyat Belitung.

Tokoh-tokoh perempuan dalam novel-novel Rukiah terdahulu diungkap Ruth Indiah Rahayu, mewakili generasi yang sedang mengalami revolusi, sedangkan anak-anak dalam novel-novel selanjutnya mewakili generasi pasca-revolusi. “[Buku anak-anak] juga mendefinisikan kembali imajinasi anak-anak Indonesia tentang pahlawan yang seharusnya, karena makna dari kata kontroversial tersebut telah berubah secara dramatis setelah revolusi,” kata Ruth. (JakartaGlobe.ID).

Tak hanya bergiat dalam dunia penulisan, Rukiah juga aktif di beberapa organisasi seperti Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), selain menjadi penulis untuk majalah yang diterbitkan PKI dan Gerwani.

“Jadi ketika ada isu komunis, dia (Rukiah) masuk dalam daftar yang harus ditangkap,” kata Giovanni Dessy Austriningrum dalam diskusi tentang “Siti Rukiah Kertapati, Sastrawati Era Kemerdekaan“, di Yogyakarta pertengahan November 2018. Giovanni merupakan peneliti isu perempuan yang terlibat dalam penelitian tentang 10 penulis perempuan Indonesia yang telah meninggal dan hilang dalam sejarah Indonesia.

Sejarawan Universitas Sanata Dharma, Yerry Wirawan, mengatakan nama Rukiah Kertapati sengaja dihilangkan dari sejarah perempuan dan sejarah sastra Indonesia modern, di mana namanya dihapus dari buku antologi sastra Indonesia karya HB Jassin. Kata Yerry lagi, Rukiah menjadi perempuan muda penggerak literasi saat itu, selain menjadi perempuan pertama dengan karya Tandus, memenangkan hadiah Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN), Rukiah juga menjadi perempuan kedua yang menulis dan menerbitkan karyanya saat itu, setelah istri Husein Djajadiningrat, sekaligus menjadi penggerak sastra anak yang waktu itu masih sangat sedikit.

“Menjadi penulis dan sampai menerbitkan karyanya bukan hal mudah pada masa itu bagi perempuan. Apalagi Rukiah bukan berasal dari keluarga ternama,” tegas Yerry lagi.  

Imbas dari paska peristiwa 1965, karya-karya Rukiah dinyatakan sebagai karya terlarang oleh Pemerintah. Rukiah pun ditangkap dan menjadi tahanan di kompleks Corps Polisi Militer (CPM) Purwakarta dan rutan di Bandung, yang berarti dipaksa terpisah dari anak-anaknya dan suaminya.

Ketika tahun 1969, Rukiah kembali ke rumahnya di Purwakarta dengan pengawasan ketat aparat setempat, Rukiah hanya bertemu anak-anaknya yang sebelumnya dititipkan pada keluarga yang lain. Keenam anak ini dan keluarga besarnya baru tahu bahwa ibunya seorang penulis, karena ada tentara mengawai rumahnya, dan anak-anaknya pun diancam.

Sidik Kertapati, suami Rukiah yang terpaksa meninggalkan tanah air dan puluhan tahun menjalani kehidupan sebagai seorang eksil untuk menghindari penangkapan pemerintah pasca peristiwa 1965, membuat Rukiah bekerja keras sebagai pembuat kue, menjahit, dan menyulam untuk membiayai kehidupan anak-anaknya. 

Pasangan pegiat literasi itu tak pernah bertemu lagi, sampai Rukiah berpulang di tahun 1996. 

 

Bersambung ke Bagian 2

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha