HomeOpiniTradisi Beas Perelek di Dusun Mancagar: Upaya Perempuan Memelihara Perdamaian

Tradisi Beas Perelek di Dusun Mancagar: Upaya Perempuan Memelihara Perdamaian

Dalam menciptakan dan memelihara perdamaian tidak semudah membalikan telapak tangan, perlu ada usaha yang berkelanjutan sehingga perdamaian terus tercipta, terlebih di Indonesia kita hidup dengan penuh keberagaman. Masing-masing daerah di Indonesia mempunyai keunikan tersendiri, salah satunya adalah tradisi Beas Perelek yang dilakukan oleh para perempuan. Tradisi ini merupakan tradisi lama masyarakat tatar sunda salah satunya di Dusun Mancagar Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis.

Tradisi ini tumbuh dari zaman nenek moyang hingga saat ini. Tradisi beas perelek merupakan sebuah tradisi dimana setiap rumah yang berpenghuni mengisi sebuah cangkir yang terbuat dari gelas atau bekas kemasan air mineral dengan beas (beras). Takaran beras tidak pasti sesuai dengan keikhlasan dari setiap penghuni rumah ada yang setengah gelas bahkan ada yang full satu gelas.

Beas atau beras yang disimpan dalam gelas atau cangkir tersebut di gantungkan di depan rumah masing-masing dan setiap sore beras tersebut dikumpulkan oleh salah seorang perempuan yang bersedia melakukan penjemputan (biasanya dilakukan secara bergiliran). Pengepulan beas perelek biasanya dimulai dariĀ  ba da ashar hingga menjelang waktu maghrib. Biasanya dilakukan pengepulan dari lokasi yang terdekat dahulu hingga akhirnya ditimbang total yang didapatkan setiap harinya.

Hadirnya tradisi ini bukan tanpa tujuan, tujuan dari beas perelek ini adalah untuk meringankan beban saudara kita yang satu Dusun. Tradisi beas perelek di Dusun Mancagar perhitungan beas pereleknya dikoordinir per RT bukan per Dusun. Tradisi beas perelek diharapkan mampu mengatasi krisis pangan dan ekonomi yang dihadapi warga setempat sehingga beban warga tidak terlalu besar.

Beas perelek yang telah terkumpul di koordinir oleh Ibu RT dan biasanya dijual sebagian kepada warga yang kesulitan membeli beras dan dijual dengan harga dibawah pasar. Hasil yang dikumpulkan biasanya diberikan kepada warga yang kesulitan mendapatkan pangan dan Uang hasil penjualan beas perelek tersebut biasanya dipergunakan untuk menjenguk warga yang sakit/kena musibah, warga yang lahiran, kerja bakti dan acara-acara keagamaan seperti maulid Nabi, memperingati Isra Mi’raj dan memperingati tahun baru Islam.

Tradisi beas perelek ini perlu terus dilestarikan dengan cara rajin mengisi gelas atau cangkir di depan rumah dengan beras, memperkenalkan tradisi ini kepada anak cucu kita, mengingat terdapat segudang dampak positif yang dihasilkan. Misalnya dengan hadirnya tradisi beas perelek maka hal tersebut dinilai sebagai upaya pencegahan konflik salah satunya konflik ekonomi (pemelihara perdamaian) seperti warga yang membutuhkan bantuan pangan, sakit tidak mempunyai biaya berobat, mengingat di Dusun mancagar angka kemiskinan masih tergolong tinggi sehingga perlu adanya wadah untuk menanggulangi hal tersebut.

Berjalannya tradisi beas perelek bukan hanya mencegah krisis pangan atau konflik ekonomi lainnya tetapi juga memupuk rasa persaudaraan dan gotong royong karena dengan suka rela kita mau menyisihkan beras kita untuk digunakan dalam hal kemanusiaan. Penjemputan beas perelek dilakukan oleh perempuan hal ini juga merupakan salah satu wujud dari upaya perempuan dalam memelihara perdamaian di wilayah publik (Dusun) sebelum ke wilayah yang lebih luas lagi yang mana hal ini bisa melatih jiwa kepemimpinan perempuan juga.

Selain itu bagi setiap pengepul beas perelek dengan terlibat kegiatan tersebut diharapkan akan lebih membangun dan memupuk rasa empati kepada warga yang lain karena bisa melihat lebih dekat keadaan setiap warga saat hendak melakukan penjemputan beas perelek tersebut. Dengan tumbuhnya rasa empati tersebut maka rasa kepedulian kita terhadap warga lain akan semakin terbangun dan hal tersebut merupakan salah satu modal awal untuk menciptakan dan memelihara perdamaian dimulai dari ruang lingkup terkecil.

Tradisi beas perelek ini bisa dicontoh warga lainnya untuk membantu meringankan beban saudara kita dengan cara bergotong royong dimulai dari hal kecil agar nantinya terbiasa dan bisa melakukan hal yang lebih besar lebih dari hanya mengisi sebuah cangkir dengan beras. Segelas beras kecil mungkin kecil bagimu namun berarti bagi mereka yang membutuhkan karena dengan hal tersebut banyak senyum yang tercipta.

 

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments