Saturday, May 23, 2026

Musdah Mulia Berbicara Kesehatan Reproduksi di Afghanistan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

*Peringatan pemicu*

Musdah Mulia atau sering dipanggil Bunda Musdah merupakan muslimah progresif yang peduli dan aktif berkontribusi dalam isu kesehatan reproduksi, gender, dan pemberdayaan perempuan. Keberpihakannya pada perempuan dan kelompok rentan terkadang memang tidak bisa menyenangkan semua pihak. 

Bunda Musdah pernah berbicara mengenai kesehatan reproduksi di Afghanistan yang keadaan politik, sosial, dan budayanya tidak stabil pada 2012. Saat itu, Bunda Musdah mengiyakan permintaan dari UNFPA (United Nations Population Fund) untuk berbicara tentang penguatan hak dan kesehatan reproduksi di Kabul, Afghanistan.

Sebelum memasuki Afghanistan, Bunda Musdah melihat perempuan Afghanistan tidak mengenakan penutup kepala, lalu ia memakai penutup kepala ketika sampai di Afghanistan. Selain itu, di bandara, beliau melihat banyak tentara yang memegang senapan yang bisa digunakan untuk menembak kapan saja.

Dalam perjalanan menuju tempat kegiatan, Bunda Musdah melihat perempuan dengan burqa (penutup tubuh dan wajah, hanya ada celah-celah kecil di sekitar mata) yang menggendong bayi di dalam burqa tersebut. Bunda Musdah pun khawatir akan kesehatan bayi tersebut. Ia takut sang bayi mungil tersebut akan kekurangan oksigen. Bunda Musdah dan rombongan pun perlu menaiki mobil yang anti peluru.

Ketika Taliban (kelompok teroris) berkuasa di Afghanistan, perempuan disembunyikan dari ruang-ruang publik. Eksistensi perempuan dianggap sumber, dosa, aurat, yang harus berada di belakang, manusia yang tidak boleh bebas, perlu mengasingkan diri agar suci, dan sebagainya. Perempuan pun dilarang bekerja dan harus berada di rumah. Mereka kehilangan pekerjaan, semakin miskin, kuasanya dihilangkan, tidak mempunyai pilihan. Perempuan-perempuan merasa tidak aman, tidak leluasa, dan terbatasi dalam segala hal. Mereka bahkan dilarang untuk menempuh pendidikan dan tidak diberikan partisipasi dalam pemerintahan, sehingga tak ada kebutuhan dan keterwakilan untuk memperjuangkan hak-hak mereka.

Anehnya, negara tersebut membiarkan perempuan menjadi pengemis dan pelacur. Perempuan pun terpaksa melakukan pekerjaan menjadi pengemis dan pelacur karena hanya itu yang bisa dilakukan. Mereka butuh menghidupi dirinya sendiri dan anaknya. Negara tersebut lupa kalau perempuan pun bisa menjadi ibu tunggal yang bertanggung jawab kepada diri dan buah hatinya.

Pekerjaan mengemis bukan tanpa resiko. Perempuan Afghanistan yang mengemis dan menggendong anaknya dan menggunakan pakaian burqa bisa kelelahan, dehidrasi, terkena polusi udara, anaknya kekurangan oksigen karena digendong dalam burqa, mendapatkan stigma karena keluar rumah, risiko di lalu lintas, terancam keamanannya karena banyak orang yang membawa senjata, dan sebagainya.

Perempuan yang bekerja sebagai pelacur pun penuh resiko, seperti resiko tertular penyakit menular seksual, kekerasan fisik, mental, ekonomi, dan sebagainya. Pekerjaan ini mendapatkan stigma dan sering dianggap rendah, padahal perempuan tersebut bertahan hidup dan bertanggung jawab akan hidup dirinya dan anaknya. 

Bunda Musdah pun merasa sangat perlu dan penting untuk menyuarakan tentang kesehatan reproduksi kepada tokoh-tokoh agama (mullah) yang moderat di Afghanistan. Ketika awal pelatihan, Bunda Musdah dituduh oleh peserta bahwa ia agen Amerika dan dianggap kelewatan, tidak sopan karena menjadi pembicara di depan umum menceramahi laki-laki dan perempuan. Bunda Musdah dengan penuh kesabaran, kesadaran, dan pengertian nya pun tetap tenang, fokus, dan melanjutkan pengajaran tentang pentingnya kesetaraan gender dan kesehatan reproduksi.

“Muslim Indonesia semuanya kafir karena mempraktikkan Keluarga Berencana (KB)”, ucap seorang peserta laki-laki dalam pelatihan. Selama ini kontrasepsi masih dianggap negatif, menyalahi aturan agama, stigma ‘seks bebas’, dan sebagainya. Padahal, kontrasepsi merupakan bentuk tanggung jawab, kesepakatan, komunikasi, saling menghargai, pertimbangan jangka panjang, dan relasi yang sehat.

Bunda Musdah dengan keahliannya dalam pelatihan pun merangkul perbedaan-perbedaan pendapat. Sejatinya, perbedaan pendapat itu wajar, karena dengan itu kita lebih kritis dan bijak. Dalam kegiatan pelatihan, peserta mendapatkan perspektif dan edukasi dari negara lain tentang keluarga berencana, pengaturan jarak kehamilan, kasih sayang dalam keluarga, layanan kesehatan, dan kesetaraan laki-laki dan perempuan. Harapannya, peserta yang merupakan mullah bisa menyebarkan edukasi tersebut ke lingkungan sekitar. 

Di hari terakhir pelatihan, para peserta menghampiri Bunda Musdah untuk meminta maaf karena pernah berperilaku tidak ramah selama kegiatan. Akhirnya, mereka sadar akan pentingnya HKSR (Hak-Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi) bagi laki-laki, perempuan, dan semua orang.

Bunda Musdah yakin kalau pemaksaan dalam beragama dan berkeyakinan adalah hal yang perlu dihentikan. Perlu ada pelatihan kesehatan reproduksi selanjutnya agar lebih banyak tokoh agama yang terlibat mendiskusikan kesehatan reproduksi dan kesetaraan kepada masyarakatnya. HKSR penting agar manusia lebih mengerti tentang dirinya dan tubuhnya sendiri, berdaya, menghargai orang lain, tidak berbuat kekerasan dalam bentuk apapun, dan saling empati.

 

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha