HomeOpiniPerempuan: Tangan Dingin Pencipta Perdamaian

Perempuan: Tangan Dingin Pencipta Perdamaian

Tahukah kamu bahwa perempuan dilekatkan dengan makhluk tangan dingin pencipta perdamaian dalam term kehidupan. Hal ini karena salah satu alasan besarnya yakni kodrat yang dimiliki perempuan, yakni melahirkan. Proses melahirkan yang dialami oleh perempuan, dipersepsikan bahwa dia pencipta kehidupan dan pemberi kehidupan, (dengan catatan bahwa peran tersebut bukanlah menghaous peran Tuhan sebagai Maha Pemberi Kehidupan). Sebab seorang anak sejak dalam kandungan sudah bersama perempuan. hal inilah yang menjadi alasan mengapa seorang perempuan mampu menciptakan perdamaian dalam kehidupan masyarakat.

Persepsi bahwa perempuan lebih didekatkan pada perdamaian serta memungkinkan untuk menjadi negosiator perdamaian tidak lain karena beberapa alasan, diantaranya: pertama, perempuan dipercaya sebagai makhluk tangan dan memiliki bawaan sejak lahir. Artinya, jika dibandingkan dengan laki-laki, sikap dan perilaku yang ditampilkan oleh perempuan sangat berbeda. Laki-laki cenderung agresif sedangkan perempuan tidak.

Kedua, pembangunan karakter biologis keduanya berbeda. Artinya, selama ini pihak yang berkuasa dan mencoba menguasai dengan pembangunan karakter tersebut adalah laki- laki. Dengan demikian, laki-laki akan bersifat lebih berkuasa dan menindas dibandingkan dengan perempuan. Bahkan, terdapat tokoh perempuan perdamaian diberbagai belahan dunia

Untuk Tokoh perempuan millenial yang paling kita ingat, dan peraih nobel perdamaian paling muda yakni Malala Yosafzai. Melalui keberaniannya melawan Taliban, ia berhasil menyuarakan hak-hak anak perempuan untuk bersekolah, serta menyuarakan perdamaian ditengah konflik yang memanas.

Tidak hanya Malala, beberapa perempuan yang meraih nobel perdamaian, diantaranya: Ellen Johnson Sirleaf (2011), Tawakkol Karman (2011), Shirin Ebadi (2003), Leymah Gbowee (2011), Wangari Mutha Maathai (2004), Aung San Su Kyi (1991). Peran perempuan diatas, belum seberapa jika melihat perjuangan perempuan hebat dalam menciptakan perdamaian di negaranya.

Siobhan Mullaly, dalam tulisannya yang berjudul, “Women, Peace, and Security in Contemporary Pakistan : Meeting the Challenge of Security Council Resolution 1325 ?” menceritakan secara detail bagaimana peran perempuan pada daerah konflik di negara Pakistan tersebut dan menjadi bukti bahwa kehadiran perempuan tidak salah disebut sebagai negosiator perdamaian.

Simmon Haris, dalam tulisan yang berjudul “Gender, Participation, and Post-Conflict Planning in Northern Srilanka”, menunjukkan bahwa perempuan memiliki power yang luar biasa dalam menangani konflik pasca peperangan yang daerah Sri lanka. Di Indonesia, salah satu konflik yang membuat kita tidak melupakan yakni daerah poso yang dikenal sebagai daerah konflik. Sosok perempuan, Lian Gogali misalnya. Menjadi salah satu figur yang cukup memiliki power untuk memulihkan pasca konflik dengan berbagai strategi ciamik yang dilakukan. bahkan kehadirannya justru mampu menggerakkan perempuan di daerah tersebut untuk berdikari, mandiri dan melakukan berbagai upaya pemberdayaan masyakarat.

Dengan fakta demikian, sebenarnya masih banyak perempuan dengan tangan dinginnya, mampu berdiri tegak ditengah daerah konflik. Mereka mampu menerjang ombak dan pengalaman pahit, bahkan membuat perubahan dengan ekspresi gerakan yang beragam. Kita bisa memulai menjadi agen perdamaian Kesuksesan perempuan dalam menjadi negosiator perdamaian, bukan merupakan ketidakmungkinan untuk kita menjadi penerusnya. Apalagi, tren konflik dari berbagai sisi, semakin meningkat dengan berkembangnya penggunaan media sosial.

Memulai menjadi aktor perdamaian melalui media sosial merupakan hal sederhana yang sangat bisa kita lakukan. Melakukan konter narasi terhadap berbagai persoalan yang terjadi adalah keharusan bagi perempuan millenial. Apalagi dengan maraknya hoaks, serta narasi yang bersifat adu domba dan berpotensi memecah belah, bahkan merusak NKRI, sebuah keawajiban kita, khususnya perempuan untuk melakukan konter narasi agar tidak membuat kegaduhan.

Untuk menciptakan demikian, upaya yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kemampuan literasi. Literasi bisa dimulai dengan bacaan, menelaah dari berbagai referensi untuk melakukan kontra narasi, agar informasi yang diberikan tidak sekedar mengejar viral, melainkan bertujuan memberikan edukasi terhadap masyarakat. Tidak hanya itu, melek literasi digital tidak kalah penting dalam menanggapi persoalan ini.

Sebab dengan kemampuan demikian, kita akan cakap menggunakan media sosial, memilih strategi kampanye seperti apa, agar informasi bisa tepat sasaran. Melalui upaya-upaya tersebut, kita bisa menjadi perempuan agen perdamaian, baik untuk diri sendiri, sebagai wujud pengembangan diri dan bentuk memanfaatkan kemampuan yang diberikan oleh Tuhan ataupun memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat luas.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments