HomeOpiniMenelusuri Dusun Krecek, Kampung Buddhis

Menelusuri Dusun Krecek, Kampung Buddhis

“Di setiap rumah terdapat altar buddhis, anjing-anjing berkeliaran di depan kamu. Bahkan menemanimu makan, dan melakukan segala bentuk kegiatan. Lingkungan yang sangat asri di perkampungan. Dingin, dan penuh dengan pemandangan hijau dari berbagai sisi. Uniknya, kamu tidak merasa asing di tempat tinggal ini. Warga melakukan kegiatan pada umumnya selayaknya di kampung.”

Pernah nggak membayangkan tinggal di tempat seperti di atas?  Saya belum pernah terbayangkan sebelumnya, hidup di tengah-tengah masyarakat yang 99% Buddha. Makan di dekat anjing yang berkeliaran, terkadang datang mengelus-elus kaki, ataupun bersikap manja selayaknya kucing.

Pertama kali menginjakkan kaki ke Dusun Krecek, Desa Gletuk Kecamatan Kalora, Kabupaten Temanggung, saya terkesan dengan suasananya yang dingin. Kira-kira ketika berada disini, saya seperti dejavu ketika mengingat kota Batu, Malang, Jawa Timur, yang juga memiliki suasana dingin dan pemandangan yang cukup indah. Berada di pedalaman dengan akses yang tidak sulit, saya membayangkan bahwa hidup di tempat ini adalah fase yang menenangkan.

Namun, pikira tersebut ambyar ketika di tengah keasikan melihat pemandangan, ada banyak anjing yang mendekat kepada saya. Sontak saya kaget dengan perilaku anjing-anjing tersebut. Sebab saya tidak terbiasa bersama dengan hewan-hewan tersebut. Di tempat ini saya melihat kehidupan yang sangat berbeda dengan kampung halaman. Tidak ada suara adzan ketika subuh (dari kampung sebelah terdengar), atau tidak ada tahlilan malam Jumat seperti pada yang dilakukan di kampung halaman.

Ya, karena ini adalah kampung Buddhis. Semua keluarga yang tinggal di dusun ini beragama Buddha. Terdapat satu pendopo untuk beribadah serta vihara yang masih dalam proses pembangunan. Di tempat ini saya berkenalan dengan sosok Mbah Sukoyo, seorang pamomong dusun, yang sudah memberikan teladan kepada warga sekitar untuk terus merawat alam dan mempraktekkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Berbicara dengan Mbah Sukoyo, rasanya seperti menemukan ruang yang sangat tenang. Pembawaannya yang tenang, raut mukanya yang sudah keriput, menyimpan banyak sekali rahasia kehidupan untuk dipelajari anak muda. “Dulu waktu 8 tahun, saya sempat mengaji dan sholat. Disini awalnya adalah muslim, hingga suatu waktu ada 9 orang yang datang kesini dan menyebarkan agama Buddha, jadi sampai sekarang semua penduduk di sini beragama Buddha,” tutur Mba Koyo, sapaan akrabnya.

Dusun Krecek dikenal dengan Kampung Buddha. Menurut penyampaian Mba Koyo, kampung ini pada mulanya penduduknya beragama Islam. Akan tetapi, tanpa menyebut waktunya kapan, masyarakat kemudian seluruhnya beragama Buddha ketika datang beberapa orang yang menyebarkan agama Buddha. Sosok Mbah Koyo adalah lelaki luar biasa yang saya kenal.

Seperti lelaki jawa pada umumnya, perilaku dan teladan yang ia berikan ketika bersahabat dengan alam, selalu memberikan manfaat luar biasa kepada masyarakat sekitar. Mbah Sukoyo pernah mendapatkan penghargaan Masjchun Sofwan Awards 2021 dalam bidang konservasi alam. Acara tersebut disiarkan melalui kanal TV Temanggung. Pengalamannya dalam mengelola alam, menanam dan melakukan banyak hal untuk pelestarian alam, menjadi salah satu ciri khas Mbah Koyo.

Hidup Tidak Hanya Perihal Tentang Manusia, tapi Tentang Semua Makhluk

Seperti yang saya katakan sebelumnya, Mbah Koyo adalah lelaki Jawa luar biasa. Pembawaannya tenang seperti tidak ada beban. Ada kalimat yang masih saya ingat sampai hari ini,“Saya tuh selalu tenang ketika menghadapi masalah apapun. Sebab hidup itu tidak perlu terburu-buru, atau apapun. Tetap tenang di segala kondisi,” kira kira begitu ungkapan dari Mbah Koyo yang tidak terlalu lancar bahasa Indonesia.

Tidak hanya itu, dekat dengan alam, melestarikan alam, menurut Mbah Koyo adalah cara manusia menghargai bumi. Sebab dalam menjalankan hidup, kita tidak hanya hidup bersama manusia. Akan tetapi juga  hidup bersama alam, yang terdiri dari lingkungan, tanah, air, tumbuhan, dll.

“Saya hanya meneruskan tradisi sesepuh terdahulu untuk merawat lingkungan terutama sumber air. Dan memang sejak 20 tahun yang lalu saya menjaga tradisi tersebut dengan menanami lahan-lahan kosong serta di dekat sumber mata air di dusun kami, Krecek, dengan pohon-pohon beringin,” ucap Mbah Sukoyo dalam sebuah wawancara.

Teladan Mbah Koyo mampu menghidupi masyarakat Krecek yang tidak pernah kekurangan air, menciptakan guyub rukun antar sesama warganya, serta terus melakukan konservasi alam agar terus bisa bersahabat dengan alam. Manusia hidup tidak hanya bersama manusia yang lain. Akan tetapi, kita butuh alam yang akan menunjang kebutuhan  hidup.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments