HomeOpiniDrama Korea King the Land: Potret Perempuan yang Menerobos Batas Gender

Drama Korea King the Land: Potret Perempuan yang Menerobos Batas Gender

Drama Korea juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari budaya populer global. Di Indonesia, drama Korea justru menjadi bagian penting dari keseharian. Bahkan menjadi ruang fantasi setelah penat melakukan berbagai kegiatan yang menyita tenaga, seperti pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. Cerita dalam drama Korea tidak lepas dari masalah-masalah populer yang terjadi pada masyarakat.

Jika kehidupan perempuan selalu dilekatkan dengan standart sosial, dibatasi dengan norma, dan disadarkan oleh kehadiran budaya, namun dalam drama korea King the Land nampaknya menjadi merepresentasikan kehidupan perempuan. Selama ini, drama Korea selalu familiar dengan kisah-kisah romantis, akan tetapi kita perlu melihat lebih jauh tentang esensi cerita yang diungkap. Ada banyak drama Korea selalu menyajikan isu-isu populer untuk diangkat ke publik. Hal ini bisa dilihat melalui isu kekuasaan, ketimpangan ekonomi, hingga ketimpangan gender.

Drama King the Land merepresentasikan bahwa kehadiran perempuan dalam dunia bisnis bukanlah sebuah hiasan semata. Terlebih dalam dunia perhotelan, di mana perempuan kerapkali dipandang sebelah mata akibat perannnya yang hanya sebagai pelengkap. Drama ini mengisahkan tentang perempuan yang menerobos batas gender dan bergerak dengan sangat taktis dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi.

Karakter yang dibangun dalam drama ini cukup kompleks dan cerdas. Beberapa perempuan yang membintangi drama ini, adalah perempuan dengan karakter cerdas dan berprinsip. Bahkan, para Perempuan dalam drama tersebut  mampu bertanggung jawab atas pilihan-pilihan yang sudah ditentukan.

Perempuan yang Hidup Atas Keputusan Sendiri

Salah satu sosok perempuan dalam drama ini adalah Cheon Sa-Rang dengan karakter yang ceria, cerdas dan memiliki prinsip yang kuat. Sa-Rang memulai karir di Hotel King sebagai bawahan. Tahun demi tahun dilewati dengan keteguhan hati dan prinsip yang keras, ia menjadi karyawan terbaik di perusahaan tersebut berkat ketulusan dan keteguhan sikap yang dimiliki.

Setelah melewati fase bekerja, ia merasa tidak cocok dengan lingkungan pekerjaan tersebut lalu memilih untuk resign dan membuka bisnis hotel sendiri. Karakter Cheon Sa Rang digambarkan sebagai sosok yang lantang dalam menyampaikan pendapat. Ia bisa menentukan sikap dengan mempertimbangkan segala konsekuensi yang mungkin akan dihadapi di masa yang akan datang.

Di beberapa episode, ia tampil sebagai sosok yang berjuang untuk mendapatkan penghormatan dan berjuang untuk membuktikan kemampuannya di tengah keraguan atas jenis kelaminnya sebagai perempuan. Memperkuat dan mempertahankan posisinya sebagai orang yang berpengaruh, membuktikan bahwa ia adalah perempuan yang berjuang untuk membuktikan kemampuannya. Upaya tersebut tidak menghilangkan sikap empati dan orisinilitasnya sebagai manusia.

Memperkuat Posisi sebagai Ibu Rumah Tangga dan Wanita Karir

Selain Cheon Sa-Rang, ada pula Kang Da-Eul. Ia adalah perempuan karir sekaligus ibu rumah tangga. Kedua peran tersebut dijalankan dengan sangat baik bahkan sempurna. Peran tersebut digambarkan sebagai perempuan yang berani melawan norma sekaligus meretas batas kemampuan dan aspirasi dalam dirinya.

Da-Eul adalah sosok yang memiliki keberanian karena sudah melampaui ekspekstasi budaya.  Pada episode awal, ia terkesan sebagai sosok yang egois karena tampil sebagai sosok istri yang pembangkang dan bersikap seenaknya sebagai istri. Namun, belakangan diketahui bahwa, ia adalah sosok perempuan yang sebaliknya. Ia memilih sebagai perempuan karir disaat suaminya tidak memilik pekerjaan.

Karakter Da-eul memiliki diceritakan memiloki situasi ekonomi yang tidak menentu. Da-eul sama sekali tidak menyalahkan keadaan bahkan takdir. Justru sebaliknya, ia melakukan peran (ibu dan karir) dengan sangat baik untuk menyelamatkan kehidupannya di masa yang akan datang.

Sementara itu, sosok lain yang juga tampil dengan cukup struggle adalah Oh Pyeong-Hwa. Ia adalah perempuan yang cukup berbeda dengan kedua perempuan di atas karena tampil sebagai sosok yang suka mengalah. Meskipun begitu, ia sangat tulus dalam menjalankan kehidupan bahkan hubungan apapun.

Ia adalah sosok pramugari yang sudah bekerja bertahun-tahun namun tidak kunjung naik pangkat. Meskipun berkali-kali mendapatan kecurangan, ia justru menjalani dengan sabar. Kesabarannnya diuji ketika seniornya memojokkan dirinya dengan menyebut bahwa ia sudah menikah dan menjadi janda. Ia-pun angkat bicara tentang kepala pilot (mantan pacarnya) yang mendaftarkan pernikahan tersebut.

Ia juga angkat bicara tentang mantan pilotnya yang masih menggodanya meskipun sudah berkeluarga.  Pada sosok Pyeong-Hwa, penonton diajak berefleksi bahwa untuk tidak bungkam terhadap bullyan yang justru menjatuhkan harga diri dan martabat sebagai manusia. Penonton diajak berefleksi tentang kehidupan yang seharusnya terus diperjuangkan untuk mendapatkan keamanaan dan kelayakan.

Nampaknya kita perlu mengapresiasi pada tiga karakter Perempuan dalam darama tersebut. Dalam drama King the Land adalah perempuan-perempuan tangguh yang memiliki karakter cerdas dan bertanggung jawan atas kehidupan yang dipilih. Bagaimana menurutmu?

 

 

 

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments