Wednesday, August 12, 2026

Sekolah Perempuan Perdamaian Sindoro Indah: Kisah Istikomah Mendobrak Angka Tidak Sekolah (ATS) Melalui Advokasi Paket B & C

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Pada 2016, Desa Gemblengan Kabupaten Wonosobo menghadapi persoalan serius terkait tingginya angka anak tidak sekolah. Kondisi tersebut mendorong Istikomah, Ketua Sekolah Perempuan Perdamaian Sindoro Indah, untuk mencari solusi bersama masyarakat.

Ia memahami bahwa persoalan tersebut bersumber dari kerumitan yang mempengaruhi akses fasilitas serta rendahnya dorongan dari lingkungan sekitar. Isti melihat bahwa untuk merajut kembali harapan masyarakat, diperlukan sebuah inisiatif yang dapat menjangkau langsung akar masalah. 

Ia mulai menyusun rencana untuk memasukkan pendidikan kesetaraan ke dalam program pembangunan desa. Perjuangan awal tersebut memerlukan advokasi yang keras dan keyakinan teguh pada potensi setiap individu di desanya. Ia sadar, inisiatif ini musti datang dari warga sendiri agar terbangun collective ownership dan berkelanjutan.

Program Kejar Paket B dan C kemudian menjadi jawaban atas kegelisahan tersebut. Program tersebut menawarkan jalur formal bagi warga dewasa dan anak muda yang terpaksa putus sekolah. Konsepnya sederhana, yaitu menggunakan Dana Desa untuk membiayai ijazah kesetaraan. Gagasan tersebut muncul seiring dengan keikutsertaan Isti dalam komunitas Sekolah Perempuan Perdamaian Sindoro Indah. 

Ia memanfaatkan betul wadah tersebut sebagai kendaraan awal untuk menyuarakan usulannya ke Pemerintah Desa (Pemdes). Tentu saja, meyakinkan Pemdes bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan waktu satu tahun penuh untuk audiensi, advokasi, dan menyusun anggaran. Isti harus menunjukkan rincian biaya yang valid, bekerja sama dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di tingkat kecamatan, sebelum anggaran puluhan juta Rupiah disetujui untuk membiayai warganya.

 

Strategi Advokasi Pendidikan Kesetaraan

Mendapatkan dukungan Pemdes menjadi tantangan pertama, tetapi tantangan yang lebih besar adalah menggerakkan hati warga. Isti memulai pendekatannya dari kelompok perempuan yang ia kenal baik melalui Sekolah Perempuan. Ia seringkali mendapati jawaban pesimis dari ibu-ibu yang merasa sudah terlalu tua untuk kembali belajar dan mengenyam pendidikan. 

Mereka beranggapan ijazah tidak begitu penting sebagai ibu rumah tangga. Isti lantas mengubah narasi tersebut menjadi sebuah panggilan mulia. Ia mengingatkan para ibu bahwa mereka merupakan “Madrasah Utama” bagi anak-anak di rumah. Jika ibu berpendidikan rendah, bagaimana ibu bisa mendampingi, menemani, dan menyemangati anak untuk meraih cita-cita yang lebih tinggi? Ijazah minimal SMA akan menjadi kebanggaan dan contoh positif bagi generasi selanjutnya.

Pendekatan terhadap laki-laki memerlukan narasi yang berbeda, disesuaikan dengan peran sosial mereka. Isti menekankan peran laki-laki sebagai tulang punggung keluarga dan kepala rumah tangga. Ia menjelaskan bahwa di masa sekarang, ijazah merupakan syarat formal yang mutlak diperlukan untuk mencari pekerjaan yang lebih layak. Ia memberi contoh sederhana bahwa di Wonosobo, mencari pekerjaan sebagai penjaga toko kue pun mensyaratkan ijazah minimal SMA. 

Sembari mengakui bahwa bekerja bisa dilakukan tanpa ijazah, ia menyoroti bahwa memiliki ijazah setidaknya menjadi persiapan untuk masa depan yang lebih baik. Ada atau ketiadaan kebutuhan sekarang, ijazah menjadi pegangan penting sewaktu-waktu diperlukan. Strategi motivasi yang personal dan kontekstual ini berhasil menjaring banyak peserta dari berbagai usia.

Setelah program disetujui, pelaksanaan KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) berjalan di Balai Desa. Isti dan seorang guru lokal menjadi tutor bagi para peserta. Kurikulum yang digunakan mengikuti standar yang telah ditetapkan oleh Dinas Pendidikan agar memastikan kualitas setara dengan sekolah formal. Namun, pendekatan pengajaran yang Isti terapkan sangatlah personal. 

Sesi belajar selalu diawali dengan motivasi yang kuat untuk menumbuhkan semangat juang peserta. Ia tak lelah mengingatkan bahwa pendidikan kesetaraan memiliki derajat yang sama dengan pendidikan formal. Ia mendorong mereka untuk memegang teguh kesempatan kedua ini dan meraih ijazah yang dapat membuka banyak pintu baru.

 

Peran Sentral Sekolah Perempuan

Kehadiran Sekolah Perempuan (SP) menjadi motor penggerak utama program Kejar Paket. Komunitas yang diinisiasi oleh AMAN Indonesia ini menyediakan wadah bagi Isti untuk mengasah kepemimpinan, menajamkan nalar kritis, memperkuat kepekaan sosial, dan mendorong keberanian dalam menyuarakan aspirasinya. Isti merasa komunitas tersebut menjadi tempat yang tepat untuk mengeksplorasi potensi perempuan desa. 

Sekolah Perempuan menyediakan tempat yang inklusif bagi semua perempuan yang ingin mengembangkan diri. Isti menggunakan jaringan anggota SP di lima dusun untuk menyebarluaskan informasi dan menjaring calon peserta Kejar Paket.

Bagi Isti, SP memberikan dorongan personal yang sangat besar. Setelah menikah dan memiliki anak, Isti merasa kehilangan sebagian identitasnya karena harus fokus di rumah. Sekolah Perempuan menjadi tempat ia kembali menemukan semangat dan meningkatkan kapasitas diri. Materi yang disampaikan sangat relevan sehingga ia merasa hidup kembali setelah lama vakum dari kegiatan organisasi. 

Ketika para anggota SP memilihnya sebagai koordinator, tanggung jawabnya pun melebar. Ia lantas mulai diundang ke Musrenbangdes, mewakili aspirasi kelompok perempuan. Kehadiran SP di forum perencanaan desa ini memberikan Isti jalur resmi untuk memperjuangkan program-program yang menjadi kebutuhan warganya.

Menurut Isti, pengaruh SP mencapai angka 80% dalam mewujudkan perubahan di desa. Anggota SP secara kolektif bergerak, walaupun gerakannya dimulai dari hal-hal kecil. Aksi mereka meliputi mengajak tetangga, memberikan informasi, atau sekadar memotivasi keluarga sendiri untuk ikut Kejar Paket. 

Gerakan tersebut menunjukkan bahwa perubahan kolektif dimulai dari langkah-langkah sederhana yang terorganisir. Dukungan dari komunitas ini memastikan bahwa program Kejar Paket mendapatkan peserta yang konsisten.

 

Dampak Jangka Panjang dan Ketahanan Program

Keberhasilan program mulai terlihat jelas ketika Angka Tidak Sekolah (ATS) menurun drastis dan jumlah lulusan meningkat. Puncak kelulusan terjadi pada tahun 2018 dengan 35 peserta, termasuk sebuah kejutan yang menggembirakan. Bapak Kepala Desa sendiri menjadi salah satu peserta yang ikut ujian Kejar Paket C. 

Keterlibatan Kepala Desa menjadi peluang emas bagi Isti untuk meningkatkan motivasi warga. Isti menegaskan, jika pemimpin desa saja mau kembali belajar, maka warganya pun harus memiliki semangat yang sama. Hal ini semakin memperkuat citra positif pendidikan kesetaraan.

Keberlanjutan program sempat terancam oleh pandemi COVID-19 dan pergantian kepemimpinan desa. Kepala Desa yang baru sempat mempertimbangkan penghentian alokasi dana untuk Kejar Paket. Mereka berargumen bahwa anggaran perlu diprioritaskan untuk kegiatan fisik dan non-fisik yang tertunda karena pandemi. 

Isti lantas kembali berjuang melalui advokasi yang gigih. Ia mengingatkan Pemdes bahwa pendidikan kesetaraan merupakan prioritas nasional dalam upaya pengentasan kemiskinan. Ia juga menunjukkan bahwa warga Gemblengan masih sangat membutuhkan program tersebut. Berkat upaya konsisten ini, alokasi anggaran Kejar Paket masih dipertahankan hingga kini.

Dampak perubahan paling transformatif terlihat pada kelembagaan desa. Saat ini, mayoritas perangkat desa sudah lulusan SMA, bahkan banyak yang memiliki gelar sarjana. Hal ini sangat berbeda dengan kondisi sebelumnya. Seorang alumni Kejar Paket bahkan merupakan Kepala Dusun. 

Hal ini tentu menjadi bukti bahwa ijazah kesetaraan membuka akses ke pekerjaan yang lebih baik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia di pemerintahan desa lantas mengubah cara pandang serta taraf hidup masyarakat secara keseluruhan.

 

Mengatasi Hambatan dan Warisan Perjuangan

Hambatan terbesar yang dihadapi Isti dalam memberdayakan masyarakat adalah pola pikir yang harus diubah. Masyarakat perlu dipahamkan mengenai nilai krusial dari pendidikan kesetaraan. Awalnya, peserta program Kejar Paket berjumlah sedikit, kurang dari sepuluh orang. Namun, setelah terlihat hasilnya, peminatnya bertambah banyak hingga mencapai puluhan. 

Perubahan pola pikir ini terwujud berkat pertemuan-pertemuan rutin dan obrolan-obrolan positif yang terus-menerus disampaikan. Memahami bahwa pendidikan itu penting merupakan kunci keberhasilan jangka panjang program tersebut.

Dampak positif program juga terasa kuat di kalangan perempuan. Perempuan yang dulunya lulusan SD atau SMP, kini lebih percaya diri saat menghadiri musyawarah atau mengusulkan ide di forum desa. Mereka juga bisa mengakses pelatihan yang mensyaratkan ijazah minimal SMA, yang sebelumnya mustahil dijangkau. 

Kisah Kartium, seorang ibu yang ikut Kejar Paket bersama anaknya, menjadi inspirasi. Ia menunjukkan bahwa semangat belajar orang tua menjadi teladan kuat bagi generasi penerus. Ia merasa bangga dan motivasi anaknya semakin tinggi untuk menyelesaikan pendidikan.

Bagi para perempuan yang ingin berjuang serupa di desa mereka, Isti memberikan pesan utama yaitu harus bergerak. Perubahan mustahil datang tanpa adanya pergerakan dari diri sendiri. Ia menekankan bahwa setiap orang memiliki kontrol atas tubuh dan gerakannya.  Jika ada keinginan untuk merubah kondisi, inisiatif musti diambil secara pribadi. Meskipun tantangan dan birokrasi banyak, langkah pertama selalu berasal dari dorongan internal.

Konsistensi menjadi kunci untuk melalui perjalanan panjang ini. Isti menemukan motivasi untuk tetap konsisten dengan melihat kebutuhan masyarakat yang masih banyak. Selama ada warga yang butuh diperjuangkan, selama itu pula ia merasa musti terus bergerak. 

Melalui Kisah Gemblengan mengajarkan kita bahwa pendidikan kesetaraan adalah alat yang ampuh untuk membongkar batasan sosial dan meningkatkan kualitas hidup. Perempuan-perempuan desa menjadi agen transformasi yang mendefinisikan ulang peran gender dan mewariskan nilai kesetaraan kepada anak-anak mereka. Hal inilah yang menjadi esensi keadilan gender yang harus terus diperjuangkan.

 

Referensi:

She Builds Peace Indonesia (2025). Dari Anak Petani, Hingga Mengadvokasi Pendidikan Perempuan. [online] YouTube. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=-wV1DDO2zjc [Accessed 7 Oct. 2025].

Layyin Lala
Layyin Lala
Just a girl with a pen, a passion, and a purpose. Writing her heart out, one word at a time.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha