Bayangan seperti apa yang terlintas di kepala kita ketika mendengar “pesantren besar” dengan ribuan santri? Kebanyakan tak jauh dari sosok kiai pria: bersarung, berwibawa, dan menjadi satu-satunya pemegang keputusan. Gambaran itu tidak salah, sebab begitulah pemandangan umum pesantren di Indonesia selama berabad-abad.
Tapi kalau kita berkunjung ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy di Cirebon, Jawa Barat, pandangan itu seketika berubah. Pesantren besar ini justru dipimpin langsung oleh seorang ulama perempuan: Nyai Hj. Masriyah Amva.
Tentu saja, perjalanan Nyai Masriyah sebagai pengasuh utama setelah suaminya, KH. Muhammad, meninggal pada tahun 2007 bukanlah hal yang mudah. Di tengah rasa duka yang belum usai, beliau harus menghadapi kenyataan yang sangat pahit.
“Satu per satu orang tua menjemput anaknya yang nyantri di sini. Para alumni dan pengurus pesantren pun diam-diam mencibir. Mereka memandang saya sebelah mata,” kenang Nyai Masriyah.
Banyak orang meragukan kemampuannya hanya karena ia perempuan. “Kenapa perempuan begitu direndahkan? Kenapa pesantren seolah-olah cuma boleh dipimpin laki-laki?” tanyanya.
Di situlah turning point Nyai Masriyah menyadari bahwa perempuan memiliki hak yang selama ini seringkali dipinggirkan. Namun, beliau tidak membalas cibiran atau rasa sakit hati itu dengan kemarahan.
Rasa duka dan kekecewaan justru beliau jadikan dorongan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Nyai Masriyah memilih bangkit untuk membimbing santri-santri yang masih bertahan.
Beliau tidak lagi menggantungkan harapan pada manusia atau otoritas laki-laki, melainkan menjadikan Allah sebagai satu-satunya penuntun, pelindung, dan tempat bersandar—sebuah keteguhan batin yang mengingatkan kita pada sosok perempuan sufi, Rabiah Al-Adawiyah.
Menurutnya, ketika manusia bersandar sepenuhnya kepada Allah, sekat hierarki antara laki-laki dan perempuan seketika runtuh. Jika kita memuliakan Tuhan, maka kita juga harus memuliakan seluruh makhluk-Nya, laki-laki maupun perempuan.
Melalui pendekatan spiritual inilah membentuk cara pandang dan pemahamannya sebagai ulama perempuan yang mengedepankan kesetaraan. Beliau tidak memimpin pesantren dengan aturan yang kaku atau menakutkan, melainkan lewat kelembutan hati dan kasih sayang yang ia curahkan pada bait puisi, sastra, dan kearifan budaya—seperti yang ia tuangkan dalam bukunya, Ketika Aku Gila Cinta.
Melalui keteguhannya, pesantren Kebon Jambu perlahan bangkit dan kian maju. Mendirikan bangunan baru, mengembangkan sistem pendidikan, dan santri-santri baru pun terus berdatangan hingga jumlahnya ribuan. Perjalanan Nyai Masriyah membuktikan bahwa kepemimpinan perempuan menunjukkan nilai-nilai perdamaian (salām), kedisiplinan, dan kemajuan lembaga keagamaan tidak harus dibangun di atas rasa takut dan meminggirkan hak perempuan, melainkan lewat rasa saling mengasihi dan menghargai sesama.
Ketika Ulama Perempuan Menyuarakan Hak Perempuan dan Pelestarian Alam
Perjuangan beliau menjadi semakin nyata ketika kita melihat bagaimana nilai kesetaraan itu dipraktikkan. Bagi Nyai Masriyah, memperjuangkan hak-hak perempuan bukanlah teori impor dari Barat, melainkan ajaran Islam itu sendiri yang memang mengajarkan kesetaraan dan keadilan. Keberanian beliau makin terlihat jelas saat Pesantren Kebon Jambu sebagai tempat digelarnya Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) I pada tahun 2017.
Momenini membuka mata banyak orang bahwa ulama perempuan memiliki peran penting dalam mendorong peradaban yang berkeadilan dan merumuskan pandangan atas berbagai persoalan nyata di masyarakat, seperti mencegah kekerasan terhadap perempuan dan kelompok rentan, menolak pernikahan anak, hingga pengelolaan sampah..
Tidak hanya urusan di mimbar agama, Nyai Masriyah juga mengajarkan para santrinya untuk peduli pada kelestarian alam. Bagi beliau, merawat bumi adalah bagian langsung dari rasa beriman kepada Tuhan.
Menjaga kebersihan lingkungan pesantren, menanam pepohonan, hingga merangkul warga sekitar—seperti petani jagung, petani jamur, dan pedagang kecil—menjadi bagian utuh dari dakwahnya. Beliau menunjukkan bahwa ulama perempuan punya kepekaan yang kuat untuk menjaga alam sekaligus merawat kehidupan rakyat kecil.
Kisah perjalanan Nyai Masriyah Amva memberi kita pelajaran yang sangat berharga. Beliau membuktikan bahwa ulama perempuan bukan sekadar pendamping atau pendukungmelainkan aktor utama yang bekerja nyata untuk menciptakan perdamaian, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan.
Di tengah kehidupan saat ini yang sering dipenuhi perdebatan dan perbedaan, kepemimpinan Nyai Masriyah Amva terasa amat sejuk. Beliau mengingatkan kita pada satu hal sederhana: bahwa cara terbaik untuk meruntuhkan pemahaman yang meminggirkan perempuan bukanlah dengan berteriak paling keras, melainkan dengan memberi bukti lewat aksi yang penuh kasih sayang, konsistensi dalam kebaikan,, dan rasa peduli kepada sesama manusia dan alam.
Sumber:
Rusli Latief. (n.d.). Masriyah Amva. Kupi Pedia. Retrieved September 1, 2026, from https://kupipedia.id/index.php/Masriyah_Amva







