Thursday, October 15, 2026

Menumbuhkan Damai Dari Pesantren, Belajar Menjadi Bagian dari Islam yang “Hijau”: Inspirasi dari Buku dan Pengalaman Reflektif

Tasamuh atau toleransi merupakan salah satu nilai dasar yang seharusnya tumbuh dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Tasamuh tidak hanya sebatas sikap menghargai perbedaan, tetapi juga menjadi bentuk nyata dari penerapan “hablum minannas”, yaitu hubungan baik antar sesama manusia. Dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan keberagaman, sikap toleransi menjadi penting untuk menciptakan suasana yang harmonis, saling menghormati, dan terhindar dari konflik yang disebabkan oleh perbedaan.

Dalam konteks tersebut, pesantren memiliki peran strategis dalam menanamkan sekaligus memberikan teladan tentang nilai-nilai tasamuh. Pesantren tidak hanya menjadi tempat untuk mempelajari ilmu agama, tetapi juga menjadi ruang pembentukan karakter dan akhlak para santri.

Seperti yang diajarkan oleh guru saya di Pesantren Salafiyah Al-Qodir Yogyakarta, KH. Masrur Ahmad, dalam buku beliau yang berjudul Islam Hijau, memaparkan Islam hendaknya dipahami dan diwujudkan sebagai agama yang membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil ‘alamin). Islam tidak semestinya ditampilkan dalam bentuk yang radikal, kaku, eksklusif, atau menakutkan.

Sebaliknya, wajah Islam haruslah tampil secara teduh, sejuk, dan “hijau”, yaitu menghadirkan kedamaian, rasa aman, kasih sayang, serta kemaslahatan bagi siapa saja. Baik sesama muslim maupun non-muslim. Nilai tersebut bukan hanya menjadi sebuah gagasan yang disampaikan secara teoritis, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui sikap saling menghormati, keterbukaan, dan penghargaan terhadap keberagaman.

Nilai-nilai tersebut diimplementasikan dalam kehidupan di pondok pesantren, salah satunya dengan membuka ruang dialog, interaksi, dan pengalaman hidup bersama dengan umat agama lain. Pondok kami cukup sering menerima program live-in dari umat agama lain, seperti para siswa Seminari maupun para suster dari Paroki. Kehadiran mereka di lingkungan pondok menjadi kesempatan bagi para santri untuk berinteraksi secara langsung, saling mengenal, berbagi pengalaman, serta belajar memahami kehidupan dan tradisi keagamaan yang berbeda.

Foto: Pribadi

Saya masih ingat ketika Suster Michaela, salah satu suster dari Yayasan Syantikara yang mengikuti kegiatan live-in di pondok. Kebetulan pada saat itu beliau menginap di kamar saya, sehingga kami memiliki kesempatan untuk berbincang cukup panjang tentang berbagai hal, salah satunya mengenai kisah dan sejarah para nabi dalam Islam dan Katolik. Dari percakapan tersebut, kami menemukan banyak kesamaan dalam kisah-kisah para nabi yang kami kenal, meskipun kisah tersebut hadir dan dikemas dalam tradisi keagamaan yang berbeda.

Pengalaman sederhana itu memberikan kesadaran yang mendalam bagi saya bahwa di tengah berbagai perbedaan cara memahami agama, terdapat nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual yang dapat mempertemukan kita. Dari sana saya semakin memahami bahwa perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi penghalang untuk saling mengenal dan menghormati. Bagi saya, pengalaman tersebut menjadi salah satu cara untuk memahami bahwa Tuhan itu Esa, sementara manusia memiliki cara dan jalan yang berbeda dalam mengimani serta mendekatkan diri kepada-Nya.

Pengalaman tersebut bagi saya juga menjadi gambaran sederhana tentang bagaimana nilai tasamuh dapat tumbuh melalui perjumpaan, dialog, dan pengalaman untuk memahami orang lain secara lebih dekat. Sebagaimana penjelasan dalam buku Islam Hijau, menjadi seorang muslim yang taat tidak harus berjarak dengan menjadi warga negara yang toleran.

Ketaatan beragama justru dapat berjalan beriringan dengan sikap terbuka terhadap perbedaan, karena keberagaman merupakan kenyataan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bersama. Perbedaan keyakinan tidak harus dihadapi dengan kecurigaan ataupun permusuhan, tetapi dapat menjadi kesempatan untuk membangun dialog yang inklusif, sikap saling menghormati, dan kesediaan untuk memahami satu sama lain.

Bagi saya, perjumpaan dengan Suster Michaela mengajarkan bahwa dialog lintas iman bukan tentang mencari siapa yang paling benar atau menyeragamkan keyakinan. Melainkan tentang menemukan ruang kemanusiaan yang memungkinkan setiap orang untuk tetap menjalankan keyakinannya sekaligus hidup berdampingan secara damai.

Dari pengalaman tersebut, saya semakin memahami bahwa toleransi bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama yang dianut, melainkan belajar menghargai keberadaan dan keyakinan orang lain tanpa kehilangan identitas diri. Nilai tasamuh juga tidak cukup hanya dipahami sebagai sebuah konsep, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap dan tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari, seperti mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai perbedaan, serta membangun komunikasi yang terbuka.

Pada akhirnya, perjumpaan lintas iman mengingatkan saya bahwa kehidupan yang harmonis tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan untuk menerima perbedaan dan menemukan titik temu sebagai sesama manusia. Inilah semangat Islam rahmatan lil ‘alamin yang saya pahami: tetap teguh dalam keyakinan, tetapi pada saat yang sama mampu menghadirkan kedamaian, persaudaraan, dan kasih sayang bagi sesama, tanpa menjadikan perbedaan agama sebagai alasan untuk saling bermusuhan.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha