Kalau kita mendengar istilah moderasi beragama, mungkin yang langsung terbayang adalah toleransi, menghargai perbedaan, dan tidak memaksakan keyakinan kepada orang lain. Namun, setelah membaca kisah Alifatul Arifiati dalam buku Perempuan Penggerak Perdamaian: Cerita Perempuan Lintas Iman Menjaga Perdamaian di Ciayumajakuning yang diterbitkan oleh Lembaga Fahmina pada tahun 2024, saya melihat bahwa moderasi beragama ternyata bisa dilakukan lewat hal-hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.Â
Salah satu tokoh yang menginspirasi saya dalam upaya membangun moderasi beragama adalah, Alifatul Arifiati atau yang biasa dipanggil Alif merupakan seorang aktivis perempuan asal Cirebon. Ia aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan keadilan gender, pluralisme, toleransi, dan perdamaian.Â
Ia juga pernah terlibat dalam kegiatan Fahmina dan berbagai ruang yang mendorong masyarakat untuk lebih terbuka terhadap keberagaman. Dari sini, menurut saya, Alif bukan hanya berbicara tentang perdamaian, tetapi juga berusaha mempraktikkannya melalui kegiatan yang ia tekuni.
Ketertarikan Alifatul terhadap isu keberagaman mulai berkembang ketika ia masih menjadi mahasiswa di STAIN (Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri) Cirebon, kini berganti menjadi UIN SSC (Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon). Sekitar semester tiga, ia mulai mengikuti diskusi dan kegiatan yang diselenggarakan oleh Yayasan Fahmina dan Forum Sabtuan.Â
Di sana, ia mendapatkan kesempatan untuk mengenal berbagai pemikiran tentang pluralisme, feminisme, demokrasi, dan hak asasi manusia. Ia juga belajar dari beberapa tokoh pemikir Islam seperti KH Husein Muhammad, KH Marzuki Wahid, dan KH. Faqihuddin Abdul Kodir. Pengalaman tersebut menjadi titik penting bagi Alif karena dari lingkungan belajar seperti itulah ia bisa mulai melihat persoalan sosial dari sudut pandang yang lebih luas.
Mengenal Perdamaian Melalui Perjumpaan Langsung dengan Kelompok Berbeda
Alif banyak terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan pendidikan, diskusi, dialog lintas iman, serta pemberdayaan anak muda. Ia mencoba membuat ruang perjumpaan bagi orang-orang yang berbeda latar belakang. Tidak hanya mengajak orang untuk mengatakan bahwa kita harus toleran, tetapi juga mendorong adanya pertemuan secara langsung.Â
Dengan bertemu dan berdiskusi, kita bisa mengetahui bahwa orang yang berbeda agama dengan kita juga mempunyai kehidupan, pengalaman, dan persoalan yang mungkin sebenarnya tidak jauh berbeda. Kita boleh berbeda atas nama agama, suku, ataupun latar belakang lainnya, tetapi kita sama atas nama kemanusiaan.
Kegiatan Alif tidak hanya dilakukan di Cirebon, tetapi juga meluas hingga wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan). Dalam buku Perempuan Penggerak Perdamaian, salah satu kiprahnya dikaitkan dengan Komunitas Pemuda Pelopor Toleransi atau Kumparan di Majalengka. Komunitas tersebut menjadi ruang bagi anak muda dari berbagai agama untuk bertemu, bertabayun dan berdiskusi mengenai toleransi.Â
Bagi saya, kegiatan seperti ini sangat relevan dengan kondisi sekarang, terutama karena anak muda cukup mudah menemukan informasi tentang agama dan kelompok lain melalui media sosial. Tanpa bertemu langsung, tanpa berdialog dua arah, dari situlah timbul kerentanan dalam pemahaman, sehingga terkadang informasi tersebut bisa menimbulkan salah paham atau prasangka.
Kita tidak mungkin selalu berada di lingkungan yang memiliki keyakinan, budaya, dan cara berpikir yang sama. Perbedaan adalah keniscayaan. Karena itu, kemampuan untuk menghargai perbedaan sangat dibutuhkan.Â
Perbedaan seharusnya tidak langsung dianggap sebagai ancaman. Justru, dengan saling mengenal, kita bisa belajar bahwa setiap orang mempunyai latar belakang dan pengalaman yang berbeda.
Merajut Perdamaian dan Kesetaraan Gender
Alif juga menghubungkan isu perdamaian dengan keadilan gender. Menurut saya, ini merupakan hal yang menarik karena perdamaian tidak hanya berbicara tentang hubungan antar agama. Perdamaian juga berkaitan dengan bagaimana kita memperlakukan sesame manusia secara adil, termasuk perempuan dan kelompok rentan lainnya.Â
Perempuan dan laki-laki, keduanya memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berbicara, berorganisasi, dan ikut mengambil peran dalam membangun masyarakat. Perdamaian juga dibangun dari kesetaraan dan keadilan bagi semua orang, tanpa terkecuali.
Salah satu pengalaman lainnya yang cukup berkesan bagi saya dalam perjalanan Alif adalah ketika ia mengikuti dialog lintas iman dan berkunjung ke gereja. Dari pengalaman tersebut, ia belajar bahwa bertemu dengan orang yang berbeda keyakinan tidak berarti harus meninggalkan keyakinan sendiri. Kita tetap bisa menjalankan agama masing-masing, tetapi pada saat yang sama tetap menghormati orang lain.
Dari kisah Alifatul Arifiati, hal yang paling saya pelajari adalah bahwa menjadi penggerak perdamaian tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Hal sederhana seperti mau mendengarkan, tidak mudah menghakimi, menghargai perbedaan, dan berani berkomunikasi dengan orang yang berbeda sudah menjadi bagian dari proses menjaga perdamaian. Perempuan sebagai aktor perdamaian.







