HomeCerita Haniah : Menakar Peluang Menghadapi Tantangan (Part 2)

Cerita Haniah : Menakar Peluang Menghadapi Tantangan (Part 2)

“Kekuatan yang tidak terorganisir akan dikalahkan oleh kelemahan yang terorganisir.” Kalimat ajaib tersebut ibarat sebuah mantra bagi Haniah yang membuatnya yakin bahwa perubahan akan terjadi dengan pengorganisasian masyarakat yang tepat.  Menurutnya, teori kadang tidak sesuai dengan kejadian di lapangan, karena itu penting untuk melakukan pengorganisasian. Mendeteksi peluang dan tantangan sebagai modal strategi sangat penting untuk dilakukan. “Kelemahan-kelemahan ini akan menjadi kekuatan ketika dikelola dengan baik,” tambahnya.

Meskipun jauh dari pusat kota dan kurangnya akses transportasi maupun informasi, pulau-pulau tersebut mempunyai potensi wisata dan kekayaan Bahari yang melimpah. Haniah bercerita bahwa teman-teman media sering menghubunginya untuk kepentingan meliput. Bahkan pernah satu pulau di desa Mattiro Matae yang Bernama pulau Gondong Bali diliput tim Indonesiaku Trans 7 pada Juni 2022 lalu. Haniah juga mengaku terbantu dengan dukungan dari pemerintah desa, teman-teman aktivitas perempuan yang lain, dan juga teman-teman media. Tak jarang Haniah menulis terkait permasalahan di desa ataupun kritik terhadap pelayanan lembaga pemerintah, teman-teman media hadir membantunya menerbitkan tulisan tersebut.

Haniah juga menambahkan bahwa perempuan-perempuan yang berada di pulau terluar justru lebih berdaya. Menurutnya ini menjadi potensi yang sangat bagus untuk memajukan desa. Meskipun memang dalam satu desa bisa terdiri dari beberapa pulau dan potensi antara satu pulau dan pulau lainnya kadang berbeda, namun rata-rata sudah seperti itu.  “Perempuan-perempuan di beberapa pulau terluar itu sudah terbiasa dengan aktivitas di luar rumah. Dalam hal pengeringan ikan dan rumput laut, perempuan semua yang mengerjakan. Mereka sudah lebih sibuk, keluar dari aktivitas domestik,” ujarnya.

Meskipun begitu, kemiskinan dan akses pendidikan masih menjadi tantangan terbesar. Kabupaten Pangkep masih masuk dalam daftar kabupaten termiskin di Sulawesi Selatan. SMA hanya ada di ibukota kecamatan yang jaraknya bisa sampai 5-8 jam dari pulau. Hal ini menyebabkan banyak anak putus sekolah, mereka hanya bisa bersekolah sampai SD.  Hanya mereka yang mempunyai dana lebih lah yang bisa menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak anak perempuan yang harus putus sekolah karena biasanya laki-laki yang lebih diberikan kesempatan bersekolah. Akhirnya perempuan pun terjebak dalam perkawinan usia anak.

Terlebih, banyak guru-guru ASN yang jarang datang ke pulau karena alasan kendala transportasi. Belum lagi tantangan bekerja sama dengan pemerintah lokal yang menurut Haniah terlalu bertele-tele. Terlalu berkutat pada perencanaan, konsep dan rapat-rapat tanpa adanya action yang jelas. Sangat bertentangan sekali dengan prinsip Haniah yang Talk less Do More.

Membangun Kebersamaan, Menciptakan Perubahan

Melihat semua kerentanan, tantangan, dan potensi tersebut haniah memutuskan untuk masuk ke tengah-tengah masyarakat melalui strategi membangun kebersamaan. Pelan-pelan Haniah masuk ke komunitas dan melakukan pendampingan kepada para perempuan dan anak supaya mereka lebih sadar akan potensi dan hak-haknya. Pelan-pelan merubah mindset perempuan yang awalnya beranggapan bahwa tugas perempuan hanya di rumah, menjadi lebih berdaya dan bermanfaat bagi keluarga dan komunitas.

Ketika ditanya mengenai kesulitan yang dialami saat mendekati masyarakat, khususnya perempuan dan anak muda, Haniah menjawab bahwa tidak ada kesulitan yang berarti. “Saya masuk dengan cara yang bersaudara,” ujarnya. Pembawaannya yang santai dan apa adanya menjadi nilai plus karena membuang sekat-sekat sosial yang ada.  

Dia menanamkan nilai-nilai toleransi dengan cara yang sangat halus. Dalam diskusi-diskusi santai bersama warga, Haniah tidak pernah memunculkan isu-isu kesukuan maupun isu agama. Background pendidikannya yang belajar tentang perbandingan agama membuatnya merasa tidak perlu mempersoalkan agama, suku ataupun latar belakang teman diskusinya. 

“Saya tidak pernah menanyakan kamu agamanya apa, umurmu berapa dan sebagainya. Karena itu sebenarnya akan muncul sendiri dalam proses diskusi. Saya hanya fokus mengajak mereka diskusi santai yang menjadi isu Bersama misalnya terkait pelayanan publik atau apapun,” ujarnya menceritakan strateginya membangun kebersamaan yang toleran.

“Saya mengamati mereka tanpa bertanya. Saya mengamati karakter dan aktivitas mereka. Mengidentifikasi kapan waktu-waktu mereka bisa diajak diskusi, dan ini tidak cukup kalau saya ada di pulau hanya satu atau dua hari, minimal seminggu saya harus ada di sana membersamai mereka,” tambahnya.

Pendekatan yang dilakukan Haniah kepada kelompok-kelompok perempuan dan anak muda dengan memaksimalkan ruang interaksi organik seperti kumpul-kumpul di pinggir pantai atau dermaga nyatanya mampu memperkuat social bonding masyarakat. Sesekali Haniah yang mempunyai hobi fotografi memotret aktivitas para anak muda dan perempuan-perempuan di sana, mereka pun senang.

Dalam diskusi-diskusi santai di pinggir pantai dan dermaga sambil sesekali memotret aktivitas mereka itulah Haniah dapat pelan-pelan menyebarkan narasi-narasi anti kekerasan. Dia berangkat dari kejadian yang relate dengan masyarakat.  Misalnya, masyarakat sering kesulitan mengurus perceraian karena terkendala akses transportasi dan juga biaya, akhirnya ditinggal begitu saja oleh suami dan status mereka digantung. Atau banyaknya ibu melahirkan yang kemudian meninggal. Haniah menekankan bahwa masalah tersebut tidak akan terjadi jika kita mencegah perkawinan anak. Pencegahan perkawinan usia seperti yang tertuang dalam Undang-Undang perkawinan adalah dalam rangka menjaga kemaslahatan.

Dari diskusi-diskusi santai diselingi candaan itu, ternyata memberikan dampak positif yang signifikan. Para perempuan yang awalnya menganggap bahwa masalah keluarga tabu untuk diceritakan dan menjadi aib, sekarang lebih berani curhat terkait kekerasan yang dialami. Mereka sudah lebih sadar akan haknya dan mau melakukan perlawanan. Meskipun tidak mudah, pelan-pelan mindset mereka terbuka dan mulai berani mengatakan tidak pada perkawinan anak dan kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu, akibat terbukanya ruang dialog dan perjumpaan dengan ibu-ibu yang lain, banyak dari mereka yang kemudian memberikan masukan dan ide-ide yang inovatif. Para ibu sekarang banyak yang berinisiatif mencari penghasilan tambahan di samping melaut. Banyak dari mereka yang berjualan kue, lauk pauk ataupun gorengan ketika suaminya melaut. Inisiatif ini tentu sangat bermanfaat bagi transformasi dan pemberdayaan ekonomi para nelayan.  Mereka butuh pemasukan lain agar mereka bisa tetap survive hidup, bahkan ketika musim badai dan paceklik melanda yang membuat suami mereka tidak bisa melaut.

Kebun Sayur di Lahan Pasir, Mengapa Tidak?

Haniah percaya bahwa dengan memberdayakan perempuan, maka masyarakat desa juga akan ikut berdaya. Karena itu Haniah melakukan pendampingan perempuan melalui kelompok Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK). Haniah mencoba mengubah mindset PKK yang awalnya masih sangat domestikasi menjadi lebih memiliki daya kebermanfaatan.  Jika dulunya peringatan hari kartini dirayakan dengan lomba memasak ibu-ibu atau lomba merangkai bunga, sekarang sudah bergeser menjadi pelatihan mengolah sampah, dan pelatihan terkait bidang pertanian.

Haniah bercerita bahwa dia merasakan keresahan ketika melihat banyaknya lahan kosong di pulau. Ketika bertanya kepada ibu-ibu PKK mengapa tidak ditanami sayuran, Mereka malah balik bertanya, memang bisa kah? Hal ini menandakan bahwa memang akses pengetahuan masyarakat masih terbatas dan Haniah merasa perlu hadir di situ meyakinkan masyarakat bahwa lahan tersebut bisa dimanfaatkan untuk menanam sayuran.

“Kebetulan saya pernah ke pulau Tunda di Jawa, nah di pulau tersebut sayuran bisa tumbuh di atas pasir putih. Saya pun belajar hal baru di sana dan menduplikasi itu di wilayah pulau dampingan saya. Saya yakinkan masyarakat akan pentingnya ketahanan pangan juga sebagai pencegahan stunting. Paling tidak merubah mindset bahwa kita tidak bisa selamanya ketergantungan dengan daratan terkait pengadaan sayur mayur,” ujarnya

Akhirnya para ibu-ibu PKK itu mencoba mengolah lahan dan menyulapnya menjadi kebun sayur. “Wah ternyata bisa tumbuh ya,” ujar ibu-ibu itu dengan antusias. Usaha tidak menghianati hasil, desa Mattiro Matae yang menjadi desa dampingan Haniah itu pun terpilih menjadi desa inovasi dengan kebun sayurnya.  Suatu prestasi dan transformasi yang membanggakan tentunya. Sekarang pun inovasi terus berlanjut dengan pengolahan sampah limbah plastik menjadi ecobrick. Ke depannya, Haniah sangat berharap bisa membuat Sekolah Perempuan di pulau-pulau yang menjadi dampingannya, sehingga potensi para perempuan ini bisa semakin dioptimalkan dengan peningkatan capacity building.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments