Monday, August 3, 2026

Dari Khadijah hingga Aisyah: Mengenal Para Pemimpin dan Pejuang Hak Perempuan di Zaman Nabi Muhammad SAW

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Dalam setiap momentum perayaan Hari Maulid Nabi, kita seolah diingatkan kembali tentang keberhasilan Nabi menyebarkan Islam dan keteladan beliau tentang keberpihakan pada kelompok-kelompok rentan, termasuk perempuan. Tetapi ada yang sering luput saat mengingat kelahiran Sang Nabi tersebut, yakni perjuangan para perempuan-perempuan yang membantu jalan dakwah Nabi.

Ada banyak perempuan masa itu, yang ikut berjuang bahkan bertaruh nyawa untuk ikut melindungi Nabi dan juga menyebarkan ajaran Islam. Salah satu perempuan yang aktif menyokong dakwah Nabi Muhammad Saw diantaranya Khadijah binti Khuwailid bin Asad bin Qushai al-Qurasyiah al-Asadiyah. Ia adalah istri pertama Rasulullah SAW, juga orang pertama yang mengimani Islam, Assabiqunal Awwalun.

Saat Nabi menerima wahyu pertama, beliau begitu kalut, gemetar dan juga takut, Khadijah lah orang pertama yang dengan sigap menenangkan, menyelimuti ketakutan Nabi. Bahkan tanpa keraguan apapun ia segera menyatakan keimanannya pada Allah.

Khadijah adalah pengusaha yang sukses. Ia rela mengorbankan semua hartanya untuk perjuangan menegakkan kebenaran dan menyebarkan kemaslahatan dan kebaikan.

Bersama Nabi, Khadijah bukanlah semata-mata sebagai istri yang melayani kebutuhan harian suami dalam urusan domestik dan melahirkan anak-anaknya. Lebih dari itu, Khadijah adalah pemimpin dan mitra setara dalam berdialog, berstrategi, hingga mempertimbangkan pelbagai keputusan selama nabi berdakwah.

Karena keteguhannya dan juga kesetiaannya menemani perjuangan Nabi berdakwah, ia menjadi perempuan yang selalu diingat oleh Nabi. Dalam sebuah hadis Nabi bersabda, “Tidaklah Allah menggantikan untukku orang yang lebih baik darinya (Khadijah). Ia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku. Ia mempercayaiku tatkala orang-orang mendustaiku. Ia membantuku dengan hartanya saat orang-orang menahan (hartanya) dariku. Dan Allah menganugerahkanku anak-anak yang aku tak dapatkan dari istri-istriku yang lain.” (HR. Ahmad).

 

Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah, Prajurit Perempuan Masa Nabi

Selain Khadijah, ada juga Nusaibah binti Ka’ab Al-Anshariyah. Sahabat perempuan yang mempertaruhkan hidupnya demi melindungi Rasulullah Saw. Dilansir dari Islami.co, Nusaibah atau yang dikenal dengan Ummu Umarah adalah salah satu perempuan Anshar yang mengikuti baiat aqabah. Ia merupakan putri dari Rabab binti Abdillah. 

Setelah baiat aqabah, ia dan suaminya sering mengikuti berbagai peperangan. Diantaranya perang uhud, hunain, khaibar, dan yamamah. Ummu Umarah tidak hanya memberikan minum prajurit yang kehausan dan mengobati tentara yang terluka, ia juga ikut berperang untuk melawan musuh dan melindungi Nabi. 

Dalam perang Uhud misalnya, ketika keadaan makin kacau, Ummu Umarah yang waktu itu bertugas merawat korban luka perang, langsung ambil peran bergabung dalam peperangan dan melindungi Nabi. Bahkan dalam banyak catatan disebutkan, setelah perang ia mengalami luka yang paling parah, hingga pemulihannya membutuhkan waktu satu tahun. 

Dalam peristiwa Perang Uhud, keberanian Ummu Umarah begitu mengagumkan, hingga Nabi pun dalam sebuah hadis menyanjungnya, “Kedudukan Nusaibah binti Ka’ab lebih utama dibandingkan dengan si fulan dan si fulan.” Kepada Abdullah, putra Nusaibah, beliau pun berpesan, “Allah melimpahkan keberkahan kepada kalian, wahai ahlul bait. Kedudukan ibumu lebih mulia daripada fulan dan fulan. Demikian pula kedudukan suami ibumu, Ghaziyyah bin Amr, lebih tinggi daripada fulan dan fulan. Semoga Allah merahmati kalian, wahai ahlul bait.” Tidak hanya itu, Rasulullah Saw juga mendoakan mereka dengan penuh kasih: “Ya Allah, jadikanlah mereka sebagai orang-orang yang kelak akan mendampingiku di surga.”

Tidak hanya itu, Ummu Umarah juga merupakan pejuang hak perempuan pertama. Hal ini bisa kita lihat dalam sebuah hadis yang menggambarkan tentang keberanian beliau untuk mempertanyakan kemanusiaan perempuan. 

Suatu hari Ummu Umarah bertanya kepada Rasulullah Saw “Ya Rasulallah, mengapa Allah Swt hanya menyebutkan laki-laki dalam Al-Qur’an?” Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab ayat 35 yang menjelaskan persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam amal saleh dan balasan masing-masingnya.

 

Asma’ binti Yazid, Perempuan yang Piawai Berorasi

Asma binti Yazid adalah perempuan Anshar yang cerdas dan terkenal piawai berorasi. Ia bersama perempuan-perempuan masa Nabi, giat menyuarakan dan memperjuangkan hak perempuan. Karena public speaking-nya yang bagus, ia seringkali diutus untuk menghadap Nabi. 

Dalam buku karya Syaikh Muhammad Sa’id Mursi, menyebutkan bahwa Asma’ Binti Yazid menghadap Rasulullah sambil berkata:

“Aku adalah utusan para perempuan Muslimah di belakangku. Mereka seluruhnya mengatakan sebagaimana kata-kataku dan berpendapat sebagaimana pendapatku. Sesungguhnya Allah mengutusmu kepada laki-laki dan perempuan. Kami beriman kepada engkau dan mengikuti engkau. Kami terbatas dengan urusan rumah tangga, menjadi tempat pemuas nafsu kaum pria, mengandung anak-anak.

Adapun kaum laki-laki dilebihkan dengan shalat Jumat, mengantar jenazah, dan ikut berjihad. Jika mereka keluar untuk berjihad, maka kami menjaga harta mereka dan kami mendidik anak-anak mereka. Apakah kami mendapatkan pahala yang sama dengan pahala mereka, wahai Rasulullah?”

Pertanyaan Asma’ sangat mengagumkan. Bahkan Nabi pun memuji pertanyaan Asma’ sebagai pertanyaan terbaik perkara agama. Kemudian, Rasulullah menjawab:

“Kembalilah wahai Asma’, dan jelaskan kepada siapa pun di belakangmu bahwa jika seorang dari kalian dapat mengurus suami dengan sebaik mungkin, dan ia mencari keridhaan suaminya, menaatinya demi mendapat kesepakatannya, semua yang disebutkan itu sama pahalanya dengan kebaikan sama yang dikerjakan kaum laki-laki”. 

Asma’ pun kemudian pulang dengan menyerukan takbir dan tahlil sebagai tanda kegembiraannya menyambut perkataan Nabi. Dari kisah Asma’ terlihat bahwa sejak zaman rasulullah perempuan punya hak bersuara dan menyampaikan nalar kritisnya. Memperjuangkan hak perempuan dan mendukung kepemimpinannya.

 

Aisyah binti Abu Bakar, Perempuan Cerdas Perawi Hadis 

Aisyah binti Abu Bakar merupakan perempuan yang dikenal cerdas dan kritis ini bahkan menduduki urutan keempat dari al-muktsirun fi ar-riwayah (orang-orang yang paling banyak meriwayatkan hadis). 

Sebagai istri Nabi yang banyak yang mendapat pengajaran langsung dari Nabi membuat Aisyah mewarisi begitu banyak pengetahuan. Karena itu, kontribusinya dalam khazanah keilmuan Islam amat besar, baik dalam bidang fikih, hadis, maupun tafsir. 

Tercatat ada sebanyak 2.210 hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah. Melalui keilmuan dan kecerdasannya, dakwah Islam dan sabda-sabda Nabi bisa tersebar kepada umat Islam hingga saat ini. 

Selain empat tokoh di atas, banyak sahabat perempuan lain yang turut berjuang. Mengingat mereka adalah cara merawat kesadaran bahwa dakwah Islam tidak lepas dari kepemimpinan perempuan. []

Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah, lebih senang dipanggil Fitri aja. Senang berkegiatan di alam, terutama hutan & gunung. Sehari-hari aktif bekerja di Media Mubadalah.id dan sedang menjadi sahabat teman-teman Program Beasiswa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF menulis. Jika ingin lebih dekat, bisa disapa di akun Instagram @fitri-nurajizah

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha