Thursday, September 17, 2026

Perdamaian yang Menapak Bumi: Refleksi tentang Ruang Perjumpaan dan Dialog Lintas Iman di Cirebon

Perdamaian sering kali dibicarakan hanya dalam forum-forum formal, sehingga perdamaian seperti sesuatu hal yang elitis, hanyalah ide langit yang tidak menapak bumi. Perdamaian seakan-akan masih menjadi konsep yang tidak sampai pada ranah praktis. Karena pada realitasnya, masih banyak fenomena intoleransi terhadap kelompok minoritas. 

Namun, selama mengikuti Regional Learning Exchange Program: Turning the Tide yang diadakan oleh AMAN Indonesia, ALL Forum, Yayasan Fahmina dan KUPI, saya justru menemukan bahwa perdamaian dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana; kesediaan untuk duduk bersama, mendengarkan pengalaman orang lain, dan mengakui bahwa cara kita memahami agama tidak selalu menjadi satu-satunya cara yang benar.

Program Regional Learning Exchange Program: Turning the Tide ini mempertemukan pemuda Muslim dan Katolik dalam rangkaian kegiatan selama enam hari. Lima hari pertama berlangsung di pesantren, sedangkan satu hari terakhir dilaksanakan di gereja. 

Perpindahan ruang tersebut bukan sekadar perubahan tempat kegiatan, tetapi menjadi pengalaman penting tentang bagaimana perjumpaan lintas iman dapat berlangsung secara nyata. Kami tidak hanya berbicara tentang toleransi, melainkan mencoba mengalaminya melalui percakapan, pembelajaran, dan kebersamaan.

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah kesempatan untuk belajar bersama orang-orang yang memiliki latar belakang agama berbeda. Dalam banyak situasi, perbedaan agama sering kali dipahami melalui informasi yang kita dapatkan dari lingkungan sendiri, media sosial, atau bahkan prasangka yang tidak pernah benar-benar diuji. 

Pertemuan secara langsung membuat saya menyadari bahwa seseorang tidak dapat dipahami hanya berdasarkan identitas agamanya. Di balik identitas tersebut, terdapat pengalaman hidup, kegelisahan, harapan, dan perjuangan yang sangat dekat dan manusiawi dirasakan semua orang terlepas dari latar belakangnya.

Ekstremisme dan Bahaya Kehilangan Ruang Dialog

Dalam salah satu rangkaian sesinya, ada pembahasan mengenai ekstremisme yang disampaikan oleh Bapak Satori dari Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror dan Ibu Yeni Lutfiana dari AMAN Indonesia. Dalam paparannya, mereka memberikan pelajaran lain yang tidak kalah penting tentang dialog. 

Selama ini, ekstremisme seringkali langsung dikaitkan dengan kekerasan atau kelompok tertentu. Namun, melalui diskusi, saya mulai memahami bahwa ekstremisme juga dapat tumbuh dari cara berpikir yang menutup diri terhadap perbedaan.

Dalam sesi ini, Pak Satori menganalogikan proses IRET (intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme) seperti pohon. Intoleransi digambarkan seperti akar pohon karena faktor awal terpapar terorisme adalah intoleransi yang memiliki kecenderungan untuk tidak menerima perbedaan.

 Foto: AMAN Indonesia

 

Kemudian radikalisme digambarkan seperti batang pohon dimana setelah memiliki kecenderungan intoleransi, seseorang menjadi radikal;memiliki paham yang menginginkan perubahan sosial atau politik dengan cara kekerasan.Sedangkan terorisme digambarkan sebagai buah hasil dari intoleransi. 

Seseorang yang terpapar paham terorisme cenderung melakukan kekerasan atau ancaman yang menimbulkan ketakutan secara meluas.Dari proses inilah seseorang berpotensi menjadi ekstrimis yang memiliki keyakinan berbasis kekerasan untuk mendukung aksi terorisme. 

Saya kemudian menyadari bahwa dialog lintas iman memiliki peran penting dalam mencegah hal tersebut. Dialog bukan berarti menghilangkan perbedaan keyakinan, apalagi mencampuradukkan ajaran agama. Dialog justru menjadi ruang untuk mengenal perbedaan secara lebih manusiawi. Ketika seseorang mengenal orang lain secara langsung, prasangka yang sebelumnya dibangun dari jarak seringkali mulai kehilangan kekuatannya.

Bagi saya, perdamaian tidak mungkin dibangun jika setiap kelompok hanya berbicara kepada dirinya sendiri. Perdamaian membutuhkan keberanian untuk keluar dari ruang yang nyaman dan bertemu dengan mereka yang selama ini dianggap berbeda.

Perjanjian Perdamaian

Dalam sesi lain, Dr. Paul Hwang dari Asian Lay Leaders (ALL) Forum memberikan penguatan mengenai budaya dan agama di Indonesia serta pentingnya dialog intra-agama. Sesi ini menjadi pengingat bahwa perdamaian tidak dapat dibangun hanya dengan mempertemukan orang-orang dari agama yang berbeda. Perdamaian juga membutuhkan upaya untuk membangun ruang dialog di dalam agama itu sendiri.

Foto: AMAN Indonesia

Indonesia merupakan masyarakat yang memiliki keragaman budaya, tradisi, bahasa, dan agama. Keragaman tersebut merupakan kekayaan sosial yang seharusnya menjadi dasar untuk membangun kehidupan bersama. Namun, keragaman juga dapat menjadi sumber ketegangan apabila tidak disertai dengan sikap saling memahami. 

Dalam konteks ini, agama tidak dapat dipisahkan dari kebudayaan, karena cara seseorang memahami dan menjalankan agamanya seringkali dipengaruhi oleh lingkungan sosial dan budaya tempat ia hidup. Dr Paul Hwang juga memaparkan tentang perjanjian perdamaian antara Grand Syeikh Al-Azhar; Syeikh Ahmad Attayyib dan Paus Vatikan.



“PERSAUDARAAN INSANI”

Demi Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama

Iman menuntun orang beriman untuk memandang sesama sebagai saudara atau saudari yang patut didukung dan dikasihi. Melalui iman kepada Allah, Pencipta alam semesta, segala makhluk, dan seluruh umat manusia (yang setara karena kasih-Nya), orang-orang beriman dipanggil untuk mewujudkan persaudaraan insani ini dengan menjaga ciptaan serta seluruh alam semesta, dan mendukung semua orang, khususnya mereka yang paling miskin dan paling membutuhkan.

Demi nama Allah yang telah menciptakan seluruh umat manusia dengan hak, kewajiban, dan martabat yang setara, serta yang telah memanggil mereka untuk hidup bersama sebagai saudara dan saudari, untuk memenuhi bumi dan mewartakan nilai-nilai kebaikan, kasih, dan perdamaian;

Dokumen  “Persaudaraan Insani” (Document on Human Fraternity for World Peace and Living Together) ini penting dalam konteks dialog Islam–Kristen karena menempatkan persaudaraan manusia, kesetaraan martabat, perdamaian, dan kepedulian terhadap kelompok rentan sebagai tanggung jawab bersama umat beragama.

Dokumen tentang Persaudaraan Insani juga mengajarkan bahwa perdamaian tidak dapat dibangun hanya melalui kesepakatan antar agama, tetapi harus berakar pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang setara. Iman seharusnya tidak menjadi alasan untuk menjauh dari manusia lain, melainkan menjadi dorongan untuk mencintai, melindungi, dan memperjuangkan kehidupan bersama yang lebih adil.

Perdamaian bukan berarti menghilangkan perbedaan, melainkan menciptakan cara agar perbedaan dapat hidup berdampingan secara bermartabat. Dan mungkin, perjanjian perdamaian yang paling penting bukanlah yang ditandatangani di atas kertas, tetapi yang tumbuh dalam kesediaan manusia untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha