Wednesday, August 19, 2026

Pelarangan Buku Perempuan di Afghanistan, Sampai Kapan Sosok “Malala” Terus Dibunuh?

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Kapan terakhir kali kamu membaca buku yang benar-benar mengubah cara pandangmu? Buku yang membuatmu berani mengambil keputusan, atau percaya bahwa mimpimu layak diperjuangkan?

Sekarang, coba bayangkan, bagaimana jika buku itu tiba-tiba dilarang. Pelarangan itu secara masif dilakukan, dihilangkan dari peredaran. Cerita-cerita yang membuatmu berani bermimpi, membuatmu percaya diri, dihapus dari rak. Kamu dan generasi setelahmu tidak akan bisa mengaksesnya lagi. Judul-judul yang mengisahkan tentang perjuangan, cita-cita, dan harapan perempuan seakan lenyap begitu saja. Itulah yang sedang terjadi pada perempuan di Afghanistan hari ini. 

Pemerintahan Taliban melarang ratusan buku karya perempuan dari perpustakaan dan universitas. Buku-buku itu dianggap bertentangan dengan kebijakan Taliban dan Sharia. Novel, memoir, puisi semuanya dicabut. Bagi mereka, suara perempuan dianggap ancaman, sesuatu yang harus dihapus dari ingatan bangsa.

Kalau kita melihat lebih dekat, larangan yang dilakukan oleh Taliban bukan sekadar masalah kebijakan pendidikan. Ini adalah bagian dari upaya sistemik untuk membuat perempuan diam, menyingkirkan perempuan dari ruang intelektual, sekaligus menghapuskan suara mereka dari sejarah.

Dan saya merasa kehilangan saat membayangkannya.

Karena buku bukan hanya kertas dengan torehan tinta. Buku memang benda mati, tapi mampu menyalurkan energi dan menggerakkan hati. Buku adalah jendela yang membuka akses luas terhadap samudera wawasan, menjadi saksi perjalanan manusia, sekaligus warisan yang menjembatani masa lalu dan masa depan. Melarang buku berarti memutus kesempatan kita untuk belajar dan tumbuh bersama sejarah.

Ketika buku-buku perempuan dibungkam, sejatinya masyarakat akan kehilangan separuh akalnya. Kita kehilangan perspektif tentang bagaimana rasanya menjadi seorang ibu yang kehilangan anak karena perang. Hilang pula kisah-kisah inspiratif tentang anak perempuan yang bermimpi menjadi dokter, guru, penulis. Dan bersama itu, akan memudar ingatan kisah keberanian perempuan yang berjuang mempertahankan haknya untuk hidup bermartabat.

Bagaimana mungkin kita berharap membangun masa depan yang damai kalau separuh dari cerita perjuangan perempuan sengaja dihapus?

Saat saya membaca berita tentang pelarangan buku karya perempuan, saya teringat pada sosok Malala Yousafzai. Gadis dari lembah Swat itu, di usia 11 tahun, sudah berani menulis blog tentang hidup di bawah bayang-bayang Taliban. Malala kecil dengan polos menceritakan ketakutannya, meluapkan kemarahannya ketika sekolahnya ditutup, dan berbagi kisah tentang teman-temannya yang tak bisa belajar. Tulisan-tulisan itu sederhana, tapi sangat kuat karena kejujurannya.

Dan justru kejujuran itulah yang membuat suaranya menggemparkan dunia.

Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Malala ditembak di kepala oleh kelompok bersenjata Taliban, saat dalam perjalanan pulang sekolah. Mereka ingin menyingkirkan sosok Malala, tapi Malala justru bangkit dan membuat aspirasinya terdengar lebih keras dari sebelumnya. Malala bertahan hidup, berdiri di panggung PBB, dan mengingatkan dunia bahwa “satu anak, satu guru, satu buku, dan satu pena bisa mengubah dunia.”

Kata-kata itu kembali terasa sangat relevan hari ini. Taliban kembali menarik buku karya perempuan dari rak, merampas pena dari tangan perempuan, mencoba meredam suara mereka. Namun kisah Malala sudah membuktikan, suara yang dipaksa diam justru akan menemukan cara baru untuk terdengar lebih lantang.

Larangan seperti ini bukan hanya persoalan Afghanistan. Di tempat lain, situasi serupa hadir dengan wajah yang berbeda. Di Indonesia misalnya, kita masih sering mendengar berita tentang jurnalis perempuan yang dibunuh, deskriminasi terhadap penulis perempuan, dan berbagai cara lain untuk membungkam suara mereka. Semua ini mengingatkan kita betapa rapuhnya hak perempuan untuk berbicara, menulis, dan didengar. Hak itu bisa lenyap seketika jika tidak kita jaga bersama.

Mungkin hari ini kita jauh dari Afghanistan, tak bisa langsung menyuarakan keresahan mereka atau berdiri di depan perpustakaan untuk meminta buku-buku itu kembali. Tapi perlawanan tetap mungkin dilakukan, dengan membaca karya-karya perempuan, menyebarkan kisah perempuan Afghanistan di media sosial, dan mendukung penulis perempuan agar terus berkarya, dalam bentuk apa pun yang melestarikan suara dari perspektif perempuan tetap hidup.

Membaca cerita mereka adalah cara melawan penghapusan. Menceritakan ulang kisah mereka berarti menjaga harapan agar dunia tak melupakan. Mendukung perempuan untuk terus menulis dan berbicara sama artinya dengan menanam benih perdamaian. Sebab damai bukan hanya tentang senjata yang berhenti menembak, tetapi tentang berani bersuara dengan bebas dan bercerita tanpa khawatir dibungkam.

Dan harapannya, suatu hari nanti, rak-rak buku di Afghanistan akan kembali terpenuhi oleh karya perempuan. Buku-buku itu dibaca anak-anak muda yang ingin tahu sejarah bangsanya. Dan ketika hari itu tiba, kita percaya bahwa berkat perlawanan perempuan, mereka berhasil bertahan.

Mungkin inilah saatnya kita semua menjadi “Malala” dalam versi kita masing-masing.
Berani bersuara. Berani mendengar. Berani menulis.
Karena satu cerita bisa mengubah dunia.

Putri Jannatur Rahmah
Putri Jannatur Rahmah
Putri Jannah adalah content creator yang memiliki ketertarikan untuk menyuarakan isu gender melalui pendekatan ilmiah dan kreatif. Saat ini, ia menempuh studi magister dengan fokus pada perempuan dalam masyarakat Muslim. Melalui karyanya, ia berupaya menjembatani dunia akademik dan publik untuk mendorong keadilan gender.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha