Keberagaman agama dan keyakinan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Indonesia. Di tengah keberagaman tersebut, perjumpaan dan dialog lintas iman menjadi semakin penting untuk membangun pemahaman, memperkuat solidaritas, serta menciptakan ruang bersama yang memungkinkan setiap orang untuk saling belajar dan menghargai perbedaan.
Bagi saya, forum lintas iman bukan sekadar ruang untuk mengenal tradisi dan keyakinan yang berbeda, tetapi juga menjadi ruang untuk memahami pengalaman, tantangan, serta perjuangan kelompok lain dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan damai.
Regional Learning Exchange Program: Turning the Tide Christian and Muslim Youth & Women Building Peace in Asia yang diselenggarakan pada 6-11 September 2026 merupakan sebuah kesempatan penting untuk saya memperluas perspektif dan pengalaman dalam kerja-kerja lintas iman. Program yang diselenggarakan oleh AMAN Indonesia, ALL Forum, Yayasan Fahmina, dan KUPI mempertemukan berbagai pengalaman dan praktik keberagaman dari individu maupun komunitas yang memiliki perhatian terhadap isu keadilan, kesetaraan, perdamaian, keberagaman, serta transformasi sosial.
Melalui program ini, saya mendapatkan kesempatan untuk tidak hanya mendengarkan gagasan, tetapi juga belajar dari pengalaman nyata para peserta dan komunitas dalam merespon berbagai persoalan sosial. Proses berbagi cerita, berdiskusi, dan berefleksi menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana nilai-nilai tradisi keagamaan dapat menjadi sumber inspirasi bagi kerja-kerja kemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian, dan perubahan di masyarakat.
Selama mengikuti kegiatan Regional Learning Exchange Program, kami berkesempatan untuk tinggal dan menjalani rangkaian kegiatan di dua pondok pesantren yang berada di Cirebon, yaitu Pondok Pesantren KHAS Kempek dan Pondok Pesantren Kebon Jambu Al Islamy. Kedua pesantren tersebut tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya kegiatan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan dan pembelajaran yang mempertemukan peserta dengan lingkungan, tradisi, serta praktik kehidupan pesantren yang memiliki nilai penting dalam konteks keberagaman dan kehidupan sosial masyarakat.
Pada hari pertama, rangkaian kegiatan diawali dengan field trip ke beberapa tempat yang memiliki nilai historis, pendidikan, budaya, dan keagamaan di Cirebon. Kami mengunjungi Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Keraton Kasepuhan, dan Taman Sari Gua Sunyaragi. Kunjungan ke ISIF memberikan kesempatan bagi kami untuk mengenal lebih dekat ruang pendidikan yang mengembangkan kajian keislaman dengan perspektif kritis dan kontekstual. Sementara itu, kunjungan ke Keraton Kasepuhan dan Taman Sari Gua Sunyaragi membawa kami pada pengalaman mengenal sejarah dan kebudayaan Cirebon yang tumbuh dari perjumpaan berbagai tradisi dan latar belakang.
Rangkaian field trip tersebut menjadi pembuka yang menarik bagi keseluruhan proses pembelajaran dalam program. Kami tidak hanya diajak untuk mengenal Cirebon melalui tempat-tempat yang memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga diajak memahami bagaimana keberagaman, perjumpaan budaya, dan tradisi keagamaan telah menjadi bagian dari perjalanan masyarakat Cirebon. Pengalaman ini memberikan konteks awal bagi kami sebelum memasuki rangkaian diskusi dan pembelajaran lintas iman selama program berlangsung.
Berjumpa Ulama Perempuan yang Memimpin Pesantren
Pada hari ketiga, kami melanjutkan rangkaian program dengan berpindah dari Pondok Pesantren KHAS Kempek ke Pondok Pesantren Kebon Jambu Al-Islamy. Perpindahan tempat ini sekaligus menjadi pengalaman baru karena saya berkesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan pesantren yang dipimpin oleh seorang ulama perempuan, yaitu Ibu Nyai Masriyah Amva.
Perjumpaan dengan beliau menjadi salah satu pengalaman yang berkesan bagi saya selama mengikuti program, terutama karena beliau menunjukkan bagaimana perempuan dapat mengambil peran penting dalam kepemimpinan pesantren sekaligus dalam membangun ruang pendidikan dan pemberdayaan bagi masyarakat.
Foto: AMAN Indonesia
Dalam proses perjumpaan tersebut, ada satu ungkapan Ibu Nyai Masriyah Amva yang sangat membekas dan menjadi bahan refleksi bagi saya: “Perempuan harus seperti laki-laki. Ketika laki-laki bersandar pada Tuhan, perempuan juga harus bersandar pada Tuhan. Bukan bersandar pada kebesaran laki-laki.”
Bagi saya, ungkapan tersebut tidak sekadar berbicara mengenai posisi perempuan dan laki-laki, tetapi juga tentang kemandirian, keberanian, dan sumber kekuatan yang seharusnya dimiliki setiap manusia. Perempuan tidak seharusnya membangun keberdayaannya semata-mata dengan bergantung pada kekuasaan atau kebesaran laki-laki, melainkan memiliki keyakinan, kapasitas, dan keberanian untuk menentukan langkahnya sendiri dengan tetap menjadikan Tuhan sebagai tempat bersandar.
Perjumpaan dengan Ibu Nyai Masriyah Amva juga membuat saya melihat kepemimpinan perempuan dari perspektif yang lebih dekat dengan realitas kehidupan pesantren. Kepemimpinan tidak selalu harus dimaknai dalam kerangka kekuasaan, tetapi dapat hadir melalui keteladanan, pendidikan, pengasuhan, keberanian mengambil keputusan, dan kemampuan membangun ruang bagi orang lain untuk berkembang. Pengalaman ini memperkuat pemahaman saya bahwa ruang-ruang keagamaan, termasuk pesantren, memiliki potensi yang besar dalam mendorong tumbuhnya kepemimpinan perempuan dan membangun relasi yang lebih setara.
Bagi saya pribadi, ungkapan tersebut menjadi salah satu refleksi penting bahwa keberdayaan perempuan bukan hanya tentang mendapatkan kesempatan untuk memimpin, tetapi juga tentang memiliki keyakinan terhadap kemampuan diri, keberanian untuk mengambil peran, serta fondasi spiritual yang membuat seseorang mampu berdiri teguh tanpa kehilangan nilai-nilai yang diyakininya. Perjumpaan singkat tersebut menjadi pengingat bahwa proses perubahan dapat dimulai dari keberanian seorang perempuan untuk berdiri, bersuara, dan menjadi dirinya sendiri.
Enam hari mengikuti Regional Learning Exchange bagi saya bukan sekadar perjalanan untuk menambah wawasan dan memperluas cara pandang, tapi juga mempertemukan saya dengan orang-orang dari berbagai latar belakang, yang pada awalnya adalah orang asing, tetapi perlahan menjadi teman, tempat berbagi cerita, dan bahkan terasa seperti keluarga. Enam hari mungkin terasa singkat, tetapi cukup untuk membangun kedekatan, rasa percaya, dan persahabatan yang akan terus saya bawa setelah program ini berakhir.
Saya belajar bahwa keberagaman bukanlah sesuatu yang harus dijauhi, melainkan ruang untuk saling mengenal dan memperkaya. Saya juga semakin memahami bahwa perubahan dapat dimulai dari hal sederhana: sebuah perjumpaan, percakapan, keberanian untuk mendengarkan, dan kemauan untuk berjalan bersama.







