Tuesday, September 29, 2026

Membangun Perdamaian Dunia melalui “Interconnected” ala Suster Sophia

Saya sangat beruntung menjadi salah satu peserta kegiatan interfaith sekaligus intercultural yang digagas oleh AMAN Indonesia dan ALL Forum bekerjasama dengan Yayasan Fahmina dan KUPI pada 6-11 September 2026 di Cirebon. Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari beberapa negara, seperti Filipina, Malaysia dan Korea Selatan, serta Indonesia. 

Kegiatan ini merupakan rangkaian acara untuk memperingati 25 tahun peristiwa pengeboman Gedung WTC Tower di Amerika Serikat oleh kelompok teroris yang terjadi pada 11 September 2001. Kegiatan ini pun diisi dengan berbagai sesi yang menghadirkan narasumber, akademisi maupun praktisi, yang  telah memiliki track record sebagai agen perdamaian, baik dari Indonesia maupun mancanegara.  

Namun, satu hal yang membuat saya memperoleh insight baru terkait dinamika perdamaian global adalah konsep yang diperkenalkan oleh Suster Sophia, yaitu konsep interconnected, keterhubungan atau saling terhubung. 

Seperti yang saya pahami dari presentasi Suster Sophia, Interconnected merupakan konsep bahwa perilaku manusia memiliki keterkaitan dalam menentukan dunia yang lebih damai atau semakin anarkis. Untuk menjaga perdamaian dunia, manusia harus saling terhubung agar dapat bersama-sama memeliharanya. 

Selain itu,  dibutuhkan kesadaran yang terhubung dengan sesama manusia yang sama-sama memiliki tujuan, terlepas dari perbedaan identitas primordial. Menghadapi dinamika global yang penuh ancaman terhadap kedaulatan, keamanan, ketahanan pangan, serta politik dan ekonomi. 

Saat ini kita dihadapkan pada anarkisme dunia yang kejam terhadap sesama manusia. Perang tak kunjung usai, namun sebagai manusia kita tidak bisa berbuat apa-apa. Terkadang hal ini menjadi tantangan baru yang sering disebut sebagai global anxiety, di mana seseorang merasa takut dan waswas dalam menghadapi hidup akibat pergolakan yang dihadapi di lokal, nasional, hingga global.

Global Anxiety,  Ancaman Generasi Muda 

Obrolan saya dengan teman-teman multinasional mengeluhkan dinamika politik sosial yang terjadi, khususnya di Asia. Obrolan itu bukan sekadar keluh kesah biasa. Ada keterikatan emosional yang muncul begitu saja ketika kami menyadari bahwa eskalasi konflik internasional yang tidak kunjung usai telah menjadi beban psikologis bersama, melintasi batas negara, bahasa, dan latar belakang budaya.

Fenomena ini disebut sebagai global anxiety, kecemasan yang lahir bukan dari persoalan pribadi, melainkan dari ketidakpastian dunia yang terasa jauh di luar kendali individu. Perang yang tidak kunjung reda, ketegangan geopolitik yang terus meningkat, krisis iklim, hingga derasnya arus informasi tentang kekerasan dan konflik, semuanya menumpuk menjadi tekanan yang dirasakan oleh generasi muda di hampir seluruh dunia. 

Riset Global Coalition for Youth Mental Health yang diinisiasi UNICEF terhadap lebih dari 5.600 anak muda usia 14–25 tahun secara global menemukan bahwa 60 persen dari mereka merasa kewalahan oleh derasnya arus berita. Sementara itu, menurut Survei Karbon Hero Indonesia menunjukkan 89% anak muda Indonesia merasa takut terhadap masa depan bumi. Sehingga, 4 dari 10 responden mengaku membutuhkan dukungan kesehatan mental akibat tekanan yang mereka hadapi.

Yang menarik, dari riset yang sama, 60 persen anak muda tetap memilih untuk berharap dan ingin berkontribusi untuk membangun masa depan yang lebih baik. Titik inilah yang saya rasakan sendiri di forum tersebut: alih-alih tenggelam dalam kecemasan, kami merasa bahwa tidak ada pilihan lain selain menjadi agen yang secara sadar memilih untuk merawat perdamaian.

Interconnected,  Salah Satu Pondasi Membangun Perdamaian Dunia

Kesadaran itulah yang kemudian membawa saya pada gagasan tentang interconnected, keterhubungan, sebagai jalan untuk perlahan membawa kedamaian kembali ke dalam hidup manusia. Saya merasa sangat beruntung bisa mengikuti forum ini, sebuah ruang perjumpaan dengan teman-teman lintas iman dari berbagai negara yang membawa perspektif dan wawasan baru dalam memandang dunia secara global. 

Salah satu sesi lainnya dalam kegiatan ini mengangkat tema besar tentang mimpi perdamaian yang dibangun lewat keramahan dan persahabatan (hospitality and friendship), dua nilai sederhana namun mendasar yang justru sering hilang di tengah polarisasi dunia saat ini.Melalui kesamaan tujuan untuk menciptakan perdamaian, saya benar-benar merasakan keterkaitan untuk saling menjaga, meski berasal dari negara, budaya, dan keyakinan yang berbeda. 

Interconnected ini bukan sekadar slogan. Ia lahir dari pengalaman nyata duduk bersama, mendengarkan cerita satu sama lain, dan menyadari bahwa kecemasan yang saya rasakan sebagai anak muda dari Indonesia ternyata juga dirasakan oleh teman-teman dari belahan dunia lain dengan konteks konflik yang berbeda-beda.

Namun perjumpaan ini juga mengajarkan saya sesuatu yang penting: keterhubungan tidak berarti keseragaman. Salah satu hal paling berharga yang saya peroleh dari forum ini, terutama dari teman-teman lintas negara, adalah adanya perbedaan pandangan dan narasi dalam memahami dinamika sosial dan politik yang sama. 

Ketika saya bergabung dalam tim drafting untuk joint peace declaration, saya menyadari betapa latar belakang negara masing-masing sangat memengaruhi cara kami memahami, memilih kata, dan menyusun konsep perdamaian yang ingin kami tuangkan bersama. Satu kalimat yang bagi saya terasa netral, bisa jadi membawa muatan sejarah yang sensitif bagi teman dari negara lain. 

Proses inilah yang justru memperkaya: perdamaian sejati tidak dibangun dengan menyeragamkan pandangan, melainkan dengan belajar mendengarkan perbedaan tanpa kehilangan rasa saling percaya.Dari pengalaman ini saya belajar bahwa melawan global anxiety tidak harus dimulai dari langkah besar. 

Kita bisa memulainya dari kesediaan generasi muda untuk saling terhubung, mendengarkan cerita yang berbeda dari cerita mereka sendiri, dan memilih menjadi bagian dari solusi alih-alih tenggelam dalam kecemasan kolektif. Interconnected, pada akhirnya, bukan hanya cara untuk bertahan di tengah dunia yang gelisah, tetapi juga cara paling nyata bagi generasi muda untuk menjadi pembangun perdamaian dunia melalui forum-forum yang berkelanjutan di masa depan. 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha