HomeOpiniPentingnya Pertemuan Organisasi Perempuan Lintas Iman

Pentingnya Pertemuan Organisasi Perempuan Lintas Iman

Salah satu kenangan yang tidak bisa saya lupakan dalam mengikuti kegiatan nyadran di Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Temanggung adalah kegiatan “Perempuan Bertutur” yang diikuti oleh para organisasi perempuan dari berbagai agama. Kebetulan dalam kegiatan ini diikuti oleh Fatayat, Muslimat, Wandani (Wanita Theravada Indonesia), Komisi Wanita, Sekolah Perdamaian (SP), dan PKK setempat.

Jujur, ini pertemuan pertama saya dalam memfasilitasi kegiatan para perempuan lintas iman yang masih agak ragu akan berjalan dengan baik atau tidak. Sebab jika berkaca pada pengalaman berteman dengan organisasi lintas iman, stigma yang saya miliki dan sudah tertanam dalam benak adalah stigma negatif tentang agama lain. Klaim kebenaran yang saya miliki terhadap agama yang saya anut, masih mengakar dan berpengaruh terhadap pola relasi yang saya bangun dalam kehidupan sosial. Tidak terkecuali dengan stigma para perempuan non-muslim.

Ditambah dengan pengalaman hidup di Dusun Krecek yang semua penduduknya Buddhis serta hidup dengan anjing, membuat ketakutan saya bertambah. Pengalaman pertama ini juga dialami oleh para ibu yang hadir dalam lingkaran berbagi tersebut. Mereka juga mengungkapkan rasa penasaran organisasi yang melakukan kegiatan dalam organisasi masing-masing. Misalnya perwakilan Fatayat dan Muslimah bertanya kepada Komisi Wanita,

“Apa yang dilakukan oleh Komisi Wanita dalam menjalankan organisasinya? apakah semua umat yang perempuan bergabung semua,” tanya Bu Muji perwakilan dari Muslimat.

Salah satu perwakilan Komisi Wanita menjawab,

“Komisi Wanita menjadi wadah bagi perempuan untuk berjamaah di gereja. Jadi tujuannya adalah untuk meningkatkan keimanan dan spiritualitas yang dimiliki oleh setiap perempuan. Sehingga keberadaan organisasi diisi oleh orang-orang yang merasa butuh terhadap organisasi ini,” tuturnya.

Di tengah perbincangan yang cukup panjang itu, berbagai pertanyaan dan obrolan hangat terus terjalin. Mereka berbagi banyak hal tentang persoalan gerakan akar rumput yang dilakukan di daerah. Saya melihat bahwa melalui pertemuan ini, menjadi sebuah kekuatan baru yang sangat perlu dilakukan oleh para perempuan untuk menguatkan jejaring dan mempersatukan gerakan perempuan.

Saya berpikir ini bukan tentang persoalan feminisme atau gerakan sejenis yang biasa ditentang oleh masyarakat. Akan tetapi penguatan peran perempuan di akar rumput serta membangun antar sesama perempuan khususnya para perempuan yang memiliki latar belakang perbedaan agama. Saling mengetahui dan saling berbagi tantangan yang dialami oleh masing-masing organisasi membuat para perempuan yang hadir pada forum ini memiliki kesempatan untuk berbagai solusi.

Di sisi lain, pertemuan pada kesempatan tersebut juga menjadi konsolidasi untuk menguatkan peran perempuan dalam perdamaian. Sebab perbedaan agama terkadang selalu menjadi akar permasalahan yang tidak pernah selesai. Stigma-stigma negatif yang muncul dari berbagai kelompok menciptakan ketegangan antar sesama. Sehingga dari sinilah benih-benih pertengkaran dan pertikaian akan muncul.

Padahal, pada dasarnya, Indonesia percaya bahwa kehadiran perempuan sebagai penjaga perdamaian akan berkontribusi besar bagi keberhasilan misi karena peran perempuan dalam konstruksi sosial di masyarakat serta aspek-aspek psiko-sosial yang membuat perempuan memiliki ‘hak istimewa’ dalam misi kemanusiaan.

Peran perempuan dalam resolusi konflik dan pembangunan perdamaian semakin meningkat, terutama dalam diskusi kebijakan multilateral. Merujuk pada Beijing Platform for Action 1995 peran tersebut bertujuan untuk meningkatkan kehadiran perempuan dalam resolusi konflik dan pada tingkat pengambilan keputusan, Dewan Keamanan PBB mengadopsi Resolusi 1325 berdasarkan kesepakatan bersama pada 31 Oktober 2000, yang berpusat pada peran perempuan dalam menjaga perdamaian internasional dan keamanan internasional.

Argumen ini perlu dikuatkan dengan memperkuat peran perempuan di akar rumput untuk membangun perdamaian. Para perempuan yang bergerak di akar rumput adalah orang-orang kuat dan berani dalam melawan stigma.  Mereka juga mampu membagi waktu antar peran sebagai ibu yang masih lekat dengan peran domestik dengan peran sosial untuk terus melakukan kebermanfaatan bagi sesama.

Belum lagi ketika membahas akses bantuan kepada pemerintah, agama mayoritas memiliki privilege untuk diprioitaskan dalam mengakses bantuan untuk pemberdayaan organisasi. Sehingga seolah-olah menjadi kewajaran apabila kelompok agama tertentu, tidak memiliki ruang ataupun akses untuk mendapatkan bantuan. Pertemuan ini memberikan dampak pada perempuan-perempuan tangguh di akar rumput untuk saling berbagi, bercerita dan menguatkan peran di masyarakat.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments