HomeOpiniMengenal Bride Kinnaping: Tradisi Penculikan Sebelum Pernikahan Di Kyrgyztan

Mengenal Bride Kinnaping: Tradisi Penculikan Sebelum Pernikahan Di Kyrgyztan

Barangkali kita selama ini mengenal perjodohan yang terkadang mematikan mental kehidupan perempuan. Tradisi tersebut nyatanya belum seberapa jika dibandingkan dengan tradisi yang ada di Kyrgyztan.

Di kyrgyztan, ada tradisi aneh untuk mempertemukan laki-laki dan perempuan, yakni menculik calon pengantin, khususnya perempuan. Pada dasarnya tradisi tersebut berkembang di bawah Uni Soviet. Mengapa tradisi ini mematikan perempuan? Dalam praktiknya, tradisi ini menculik perempuan yang akan dinikahi. Terdengar aneh. Namun, hal itu sebenarnya yang terjadi.

Perempuan diculik, lalu dijadikan istrinya oleh sang penculik. Bagaimana bisa seorang laki-laki menculik seorang perempuan? Penculikan tersebut dibantu oleh teman-temannya, bahkan keluarga mempelai. Tradisi tersebut juga menjawab kenyataan bahwa, menjadi sebuah ketidakmungkinan bagi perempuan Kyrgyztan untuk menikah dengan laki-laki yang dicintainya.

Tradisi itu menimbulkan banyak dampak negatif. menurut penelitian Aulia Rahmad (2021), dilansir dari United Nations Population Fund (UNFPA) menjelaskan bahwa, setiap tahun 4-5 gadis dari 1.000 gadis remaja di negara Kyrgyztan  telah menjadi seorang ibu dan sekitar 2.500 praktik aborsi dilakukannya. Bayi dari korban bride-kidnapping 80-190 gram lebih kecil dari berat bayi pada umumnya. Berat lahir yang kecil ini membuat bayi lebih rentan terhadap penyakit. Menurut studi Charles Backer, kemungkinan hal ini diakibatkan oleh stress dan trauma yang dialami oleh sang ibu.

Kenyataan ini turut menjelaskan bahwa tradisi semacam ini sangat menyengsarakan perempuan. Meskipun demikian, tradisi penculikan tidak hanya terjadi di Kyrgyztan, namun ada beberapa negara tetangga lainnya yakni: Ethiophia, Kazakhstan dan Armenia. Seiring dengan perkembangkan waktu, pola yang dilakukan untuk melestarikan tradisi itu, dilakukan dengan tidak manusiawi kepada perempuan.

Para perempuan justru mengalami pelecehan, penganiayaan, dan kemudian dijadikan istrinya. Tentu, kita tidak bisa membayangkan bagaimana cara untuk hidup bersama orang yang sudah melecehkan bahkan memperkosa. Tradisi ini tidak lebih dari mengorbankan korban dengan pelaku pelecehan seksual.

Pada sejarahnya, melansir dari national geographic, dijelaskan bahwa, tradisi ini, ada karena, runtuhnya kepemimpinan Uni Soviet di Kyrgyztan pada tahun 1990-an. Krisis ekonomi yang terjadi pada saat itu, menyebabkan banyak pria muda kehilangan pekerjaan dan kesulitan untuk memenuhi mahar ketika memiliki keinginan untuk menikahi seorang perempuan. Atas dasar kondisi itu, segerombolkan pria di Kyrgyztan justru menculik secara paksa supaya bisa menikahi perempuan.

Kenyataan ini juga ditegaskan oleh laporan BBCindonesia yang menyebut bahwa, seiring dengan rendahnya tingkat perekonomian, penculikan terhadap perempuan itu semakin meningkat lantaran tidak mampu untuk memberikan mahar yang layak terhadap perempuan.

Seiring dengan berjalannya, pihak keluarga perempuan, khususnya ibu, merasakan betul bagaimana penderitaan akibat tradisi yang tidak memanusiakan perempuan. Hal ini bisa dilihat dari video youtube yang dibagikan oleh akun @Viceindonesia, cerita kegelisahan dari seorang ibu yang menangis lantaran melihat anak perempuannya bunuh diri akibat merasa tertekan dengan tradisi yang dialaminya sebagai perempuan.

Tidak hanya itu, sosok ibu yang ditampilkan pada video itu, menunjukkan kegentingan kondisi yang terjadi akibat terlahir sebagai perempuan. Kesadaran untuk melihat perempuan sebagai manusia sangat rendah. Ditambah lagi dengan tingkat pendidikan yang rendah, menjadikan tradisi tersebut semakin mendarang daging.

Perempuan adalah manusia, sama seperti laki-laki

Melihat konteks pernikahan yang terjadi di Kyrgyztan, justru memberikan kita kesadaran bahwa, banyak sekali kisah pahit yang terjadi di pelbagai belahan dunia yang tidak ramah terhadap perempuan. Perjuangan tentang keadilan perempuan merupakan kerja-kerja yang sangat panjang untuk dilakukan.

Pemahaman dasar yang harus diletakkan dalam pikiran kita, posisi laki-laki dan perempuan harus disamakan, yakni sebagai manusia. Dengan melihat posisi sebagai manusia, maka sikap untuk menghargai dan memberikan ruang bagi perempuan diperlakukan sebagai manusia, menjadi kewajiban setiap orang.

Kesadaran itu harus menjadi kesadaran kolektif. Sebab untuk mewujudkan itu, lingkungan juga harus melek dalam melihat posisi perempuan sebagai bagian dari masyarakat. Masyarakat Kyrgyztan masih sangat kuat tentang budaya patriarki yang mengakar serta tidak menyadari bahwa tradisi itu tidak memanusiakan perempuan.

Untuk mewujudkan itu, perlu kesadaran seluruh elemen, baik dari masyarakat, mendorong pemerintah dan masyarakat sipil yang harus terus berjuang. Yang paling utama adalah, kesadaran yang harus tertanam pada diri sendiri untuk melihat perempuan sebagai manusia merdeka dan berdaya.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments