HomeOpiniCerita Aktivis Pemuda dan Pemuka Agama Berperan dalam Meminimalisir Kekerasan Seksual di...

Cerita Aktivis Pemuda dan Pemuka Agama Berperan dalam Meminimalisir Kekerasan Seksual di Afrika

Menurut laporan UNICEF, setiap lima menit, seorang anak terbunuh akibat tindak kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa. Bahkan sekitar 1 miliar dari 2,2 miliar anak di seluruh dunia menanggung berbagai bentuk kekerasan fisik dan seksual. Data yang tak kalah miris dari Institute of Security Studies (ISS) dan Finn Church Aid menunjukkan bahwa 40% dari anak-anak dijebak oleh orangtua atau kenalannya untuk kemudian direkrut ke dalam kelompok teror Al Shabaab, Afrika. Tak tanggung-tanggung mereka dilatih untuk angkat senjata, dan turut didorong untuk terjun berperang. Yang menyedihkan mereka adalah anak-anak dan remaja di antara usia dari 15 – 19 tahun. 

Dampaknya, hingga kini telah tercatat 1,3 jutaan anak terlantar dan tak lagi bisa pulang ke kampung halaman. Kondisi tragis yang mereka alami tak lain merupakan akibat dari serangan ekstremis Boko Haram. Bahkan diperkirakan tindak kekerasan kelompok radikal tersebut masih terus meningkat terutama selama masa pasca covid19 ini. Dari tindakan negatif yang Boko Haram lakukan, pelecehan seksual anak sangat jarang dilaporkan. Berdasarkan kasus yang dilaporkan saja, 1 dari 5 anak perempuan, dan 1 dari 20 anak laki-laki adalah korban pelecehan seksual anak. Sedangkan untuk korban wanita dewasa, angkanya mencapai 20%.

Menurut pengakuan penyintas, meski mereka beranjak dewasa sekalipun, antara 5 hingga 10% dari korban orang dewasa sampai sekarang masih merasakan trauma dan mengingat serangan seksual pada masa kanak-kanak mereka. Dari laporan yang diterima oleh Interpol, perkiraan korban berada dalam rentang usia anak-anak dari usia 7 hingga 13 tahun. Sayangnya karena tidak ada orang dewasa yang mendampingi mereka, tindak kekerasan yang para perempuan dan anak-anak rata-rata tidak akan pernah diadili. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, dari orangtua mereka telah meninggal dunia atau kerabat mereka pun tersebar dan bersembunyi dari serangan kelompok teroris. 

Menilik situasi tersebut, pendekatan berbasis etika dan nilai-nilai oleh para pemuka agama dan umat beragama sangat dibutuhkan untuk membantu para penyintas mengatasi trauma dan tantangan lain yang masih membayang-bayangi mereka di daerah-daerah ini. Salah satu upaya dengan pendekatan agama dilakukan oleh Velveeta Viban yang merupakan aktivis pemuda dan gender sekaligus advokat dari Kamerun. Selain turut memperjuangkan hak-hak para penyintas untuk dapat meraih kembali hidupnya, Velveeta juga mendirikan yayasan yang menyediakan pendidikan alternatif dan dukungan psikososial untuk kelompok rentan perempuan pengungsi dan korban kekerasan berbasis gender.

Sejauh ini, Velveeta telah membimbing lebih dari 3000an gadis tentang masalah kekerasan seksual dan membantu para korban untuk tetap meneruskan sekolah hingga ke jenjang lebih tinggi. Tercatat, ia telah membentuk komunitas di 10 sekolah di Lagos dan Ibadan; Nigeria, Buea, Kamerun dan Nairobi, Mukuru; Kenya. Yang menarik, ia juga menggandeng para pemuka agama dari komunitas gereja dan masjid untuk meluruskan interpretasi agama yang salah untuk memberdayakan para penyintas. Atas dedikasinya yang luar biasa, aktivismenya turut diapresiasi oleh kantor Pemuda PBB dan ia telah dinobatkan sebagai duta kantor penghubung Uni Afrika.

Meski ia telah banyak berjuang bagi banyak perempuan di Afrika, ia mengaku bahwa ia tak bisa berhenti begitu saja. Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan. Yang terkini, ia sedang merancang pelatihan keterampilan digital untuk perempuan penyandang disabilitas di wilayah yang terkena dampak krisis di Kamerun agar mereka mampu mengembangkan kapasitas diri dan tak tertinggal dari kolega-kolega mereka yang tidak memiliki keterbatasan.  Sejalan dengan Velveeta, Harun Mwadena, seorang aktivis perdamaian juga menyampaikan bahwa pemuka agama moderat di komunitasnya turut berperan penting dalam menurunkan jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

Terlebih, dulu kelompok perempuan kerap dianggap sebagai ‘barang’ yang diperjualkan dan dijadikan ‘alat barter’ ketika konflik terjadi. Namun seiring dengan peningkatan edukasi lewat ceramah-ceramah agama di sana, kekerasan seksual di Afrika mulai menurun, meski masih perlu upaya terstruktur dari berbagai pihak agar kekerasan seksual tidak terus menerus bertambah seiring dengan dinamika sosial dan politik di benua hitam itu. 

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments