HomeOpiniRoswin Wuri: Kebun Sayur dan Falsafah Alam Sebagai Instrumen Penggerak Perdamaian

Roswin Wuri: Kebun Sayur dan Falsafah Alam Sebagai Instrumen Penggerak Perdamaian

Ketika kami menyemai benih sayuran, kami sadar bahwa kami juga sedang menyemai bibit perdamaian,” kata Roswin Wuri dengan berkaca-kaca ketika menceritakan pengalaman yang paling berkesan ketika mengelola kebun sayur organik di desanya, Sawidago, Tentena, Poso.

Dalam Talkshow yang ditayangkan She Builds Peace pada Sabtu 16 Juli 2022, Roswin Wuri menceritakan bagaimana kesedihannya atas konflik yang membuat masyarakat tidak punya relasi yang baik hanya karena berlainan agama, padahal mereka sebenarnya masih saudara. Naluri perempuan dan panggilan jiwanya kemudian tergugah untuk merekatkan kembali jurang yang dalam antara keluarga Muslim dan Kristen melalui media kebun sayur organik.

Menurutnya, sekolah Perempuan yang diadakan oleh AMAN Indonesia dan diikuti olehnya dan beberapa ibu-ibu lain, memberikan andil yang besar dalam terciptanya ide ini. Sekolah perempuan diibaratkannya sebagai jembatan yang menghubungkan dan merekatkan jurang yang dalam tersebut dengan transformasi cara pandang perempuan tentang perdamaian.

Menarik melihat bagaimana falsafah ibu Wuri tentang bersahabat dengan alam digunakannya sebagai media rekonsiliasi pascakonflik di Poso. Dia berkeyakinan bahwa alam adalah sahabat manusia sehingga bagaimana kita memperlakukan alam akan berpengaruh pada bagaimana alam memperlakukan kita. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa menciptakan kehidupan yang damai tidak hanya dilakukan antarsesama manusia, namun juga harus dilakukan dengan alam.

Konsep bersahabat dengan alam saya rasa dimiliki dan diyakini oleh semua agama dan kepercayaan. Dalam Hindu kita mengenal konsep Tri Hita Karana, yaitu tiga penyebab kesejahteraan bersumber pada keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhannya, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam sekitarnya. Agama Budha juga menganggap bahwa pepohonan memiliki amanat Budha, yaitu kehidupan sehingga manusia harus menjaganya.

Dalam Islam kita mengenal Ecosophy yang memberikan penegasan bahwa manusia bukanlah penguasa dan penakluk segala hal yang ada di sekitarnya sehingga manusia harus memenuhi setiap hak-hak makhluk yang ada di bumi sebagai cara mendekatkan diri kepada Maha Pencipta dan Pemilik alam itu sendiri. Selaras dengan itu, Kristen dan Katolik juga mengajarkan bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sehingga manusia harus memelihara dan melindungi bumi sesuai dengan gambaran Allah yang Pengasih.

Konsep universal ini yang menjadi ide awal ibu Wuri sampai akhirnya membuat kebun sayur organik. Apalagi dalam keadaan pascakonflik yang membuat tanah-tanah yang ada terbengkalai, sedangkan kebutuhan akan makanan dan sayuran juga mendesak. Otomatis, mereka sebenarnya memiliki kesamaan kebutuhan dan kesamaan nilai yang universal tersebut.

Ibu Wuri sadar betul, bahwa sebagai perempuan dirinya adalah agen perdamaian yang memelihara kehidupan. Maka ketika kehidupan tercederai oleh kekerasan ataupun konflik, nuraninya pun akan terusik dan terdorong untuk mengobati dan menyembuhkan. Dia pun berpikir bagaimana caranya kebutuhan pangan yang sehat terpenuhi, perempuan bisa berdaya secara ekonomi, dan di saat yang sama juga dapat merajut kembali kerukunan dan perdamaian di antara masyarakat. Kebun sayur adalah ide yang brilliant.

Lewat kebun sayur, ibu Wuri mengenalkan damai dalam perspektif yang lebih luas. Bagaimana damai bukan hanya tentang berdamai dengan manusia, tetapi juga berdamai dengan alam. Hal inilah yang pada praktiknya membuat kebun sayurnya berbeda dengan pertanian konvensional yang lain.

Sebagaimana memperlakukan seorang sahabat, Ibu wuri mengajarkan untuk memperlakukan tanah dengan baik tanpa bahan kimia apapun, begitu pun dalam hal pupuk dan pestisida. Hama tidak mereka bunuh, tetapi hanya diusir dengan menggunakan bahan- bahan dari alam. Semua bahan didapatkan dari alam dan untuk alam. Jadi dari mulai sayuran ditanam, tumbuh dan akhirnya dimasak tidak tersentuh bahan kimia apapun.

Pada akhirnya, kebun sayur yang dikelola, tidak hanya tentang bagaimana merawat kebunnya, tetapi juga membuka ruang perjumpaan antar masyarakat lintas iman, baik muslim dan kristen. Kebutuhan akan sayuran yang sehat mendorong masyarakat dari berbagai daerah untuk datang dan belajar mengelola kebun organik seperti yang dikelolanya. Dalam perkembangannya, ketika kebun sayur tumbuh dengan pesat, dibukalah pasar sayur organik seminggu sekali sebagai pertemuan besar antar kampung hingga desa.

Di dalamnya kemudian terjalin hubungan yang sangat indah. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa saling bertemu dan bertegur sapa dengan aman, bahkan saling bertukar kebutuhan. Hubungan ini pun terus berlanjut bahkan setelah mereka keluar dari pasar. Ibu Wuri menceritakan bahwa setiap perayaan Natal dan Tahun Baru, ada seorang penjual ikan muslim langganannya yang selalu datang bersama keluarga dan tetangganya yang muslim ke rumah ibu Wuri.

Begitupun sebaliknya, ketika perayaan Idulfitri ibu Wuri dan ibu-ibu lain di kampungnya juga berkunjung ke rumah penjual ikan muslim tersebut. Realitas ini sungguh sangat indah, damai, dan menyejukkan hati. Bagaimana dahulu terdapat jurang yang sangat dalam antara keluarga muslim dan Kristen, akhirnya bisa dirajut kembali lewat media kebun sayur yang digagas ibu Wuri ini. Sebuah pendekatan inspiratif yang dilakukan oleh seorang perempuan dan ibu kehidupan.

Sangat Ajaib, bagaimana naluri perempuannya sebagai penjaga kehidupan mempunyai daya lenting yang cukup kuat untuk menggerakkan perdamaian. Memang kebun sayur organik namanya, tetapi isinya bukan hanya berisi sayuran, tetapi juga perdamaian. Karena ketika mereka menyemai benih sayuran, pada saat yang sama mereka juga sedang menyemai bibit-bibit perdamaian. Semua proses menanam sayur yang melibatkan banyak orang sampai akhirnya panen, yang dipanen bukan hanya sayuran, tetapi juga kebersamaan dan kerukunan yang dulu sempat retak.

Roswin Wuri dan falsafah bersahabat dengan alam yang dimilikinya, memberikan inspirasi kepada kita semua bahwa sebagai perempuan kita harus berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama dan berdamai dengan alam. Tiga elemen inilah yang akan menciptakan dan menggerakkan perdamaian di mana pun dan kapan pun kita berada. Karena menciptakan kehidupan yang damai menjadi PR bagi kita semua, para perempuan agen perdamaian.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments