HomeOpiniBisakah Perempuan Berperan Mencegah 'Kiamat Ekologis'?

Bisakah Perempuan Berperan Mencegah ‘Kiamat Ekologis’?

Istilah “kiamat ekologis” saya temukan dalam buku yang ditulis oleh Yuval Noah Harari, “Homo Deus (Masa Depan umat Manusia)” di masa yang akan datang, kerakusan dan keserakahan bukanlah sebuah dosa besar karena manusia menganggap biasa aja terhadap yang berlebihan. Kiamat ekologi terjadi karena kita memakan banyak sekali hal yang ada di bumi tanpa melihat kebutuhan dan kapasitas yang ada dalam diri. Terjadinya kiamat ekologis ini mengharuskan kita untuk memiliki cara untuk mencegahnya demi bumi yang kita tempati saat ini.

Secara sederhana, kita sangat perlu untuk refleksi pada diri sendiri. Dahulu, orang tua kita ketika sedang menyuapi makan, sebutir nasi tidak boleh tertinggal dalam sebuah piring. Meski memakai hiperbola bahwa nasi yang dihadapan kita nangis apabila tidak dimakan, tapi sebenarnya orang tua sedang mengajari bahwa kita tidak boleh buang-buang makanan. Banyak orang di luar dari kita kekurangan makanan dan kelaparan. Hari ini, mampukah kita menahan diri untuk makan secukup kebutuhan kita?

Bayangkan saja ketika di restoran, ataupun di tempat makan, tidak banyak yang memesan makan dengan 1 menu. Berbagai menu makanan dipesan yang berakibat pada kelebihan makanan. Hal ini akan memperbanyak produksi sampah makanan. Buktinya, di Indonesia, dilansir dari Kompas.com, sampah makanan di Indonesia, salam tiap tahunnya mencapai 16,3 juta ton.

Tidak salah ketika Kiai Faizi, dalam bukunya, “Merusak Bumi di Meja Makan” menjelaskan bahwa makanan adalah sampah besar yang menjadi masalah besar dalam diri kita. Segala jenis makanan disajikan di meja makan. Namun, nyatanya tidak semua makanan di meja tersebut habis untuk dimakan. Ini masalah kerakusan kita sebagai manusia.

Belum selesai dengan persoalan sampah, dalam buku sebelumnya Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Yuval menyindir manusia dengan menyebut bahwa para manusia Homo Sapiens, dalam sejarahnya menimbulkan konflik dengan alam. Hal ini terlihat ketika manusia sapiens bermigrasi ke suatu wilayah, hampir dapat dipastikan akan ada spesies-spesies yang punah, bahkan spesies yang pernah menempati puncak rantai makanan ribu dan jutaan tahun sekalipun.

Secara sederhana, di lingkungan sekitar kita, ketika hutan-hutan ditebang untuk kepentingan perusahaan, berapa banyak satwa hutan yang tidak memiliki tempat tinggal sehingga rumah warga dijadikan sasaran tempat tinggal monyet liar, anjing liar dari hutan bahkan beberapa hewan liar lainnya di hutan. Mereka kehilangan tempat tinggal. Ada banyak yang mati akibat tempatnya di rusak. Hal ini akibat ulah manusia yang merubah fungsi hutan menjadi Kawasan perusahaan yang lebih menguntungkan.

Aktivitas semacam ini, akan mengantarkan kita kepada “kiamat ekologis” yang oleh Nuval disebabkan ulah manusia. Kerakusan pada saat ini tidak lagi menjadi dosa, mengoleksi barang dengan jumlah banyak tanpa melihat kebutuhan, memesan makanan dengan jumlah banyak tanpa melihat kebutuhan bukanlagi sebuah dosa. Padahal aktivitas tersebut akan menciptakan sampah dan merusak lingkungan.

Dari sinilah, apakah perempuan memiliki peran untuk mencegah terjadinya “kiamat ekologis”? pada dasarnya perempuan memiliki cukup besar terhadap keberlangsungan alam. Hal ini karena citra perempuan dan alam yang melekat dalam diri membuatnya memiliki tanggung jawab besar terhadap pengelolaan lingkungan. Dalam konteks ini, perempuan memiliki peran dengan beberapa hal:

Pertama, sebagai producers, perempuan dapat menghasilkan makanan dari tanaman yang dihasilkan. Dalam konteks ini, perempuan dengan aktivitas domestik yang masih melekat sampai hari ini, harus memiliki kesadaran utuh tentang makanan yang akan dikonsumsi oleh keluarga. Hal ini akan berakibat pada produksi sampah yang dihasilkan.

Kedua, sebagai consumers, perempuan mengambil hasil makanan yang berasal dari tanaman atau hewan yang ada di alam. Ekosistem lingkungan akan berjalan dengan kesadaran pelestarian alam semacam ini. Ketiga, sebagai campaigners, perempuan mengkampanyekan pentingnya memelihara lingkungan. Keempat, sebagai educators, dalam konteks ini bisa dilihat dari proses alih pengetahuan mengenai berbagai kegiatan produktif ataupun reproduktif kepada anak-anak. Kelima, sebagai communicators, perempuan mampu memasarkan hasil dari alam lingkungan ke tempat lain.

Dari sinilah perempuan memiliki peran untuk pemberdayaan lingkungan sebagai upaya mencegah terjadinya “kiamat ekologis”, sehingga memiliki kesadaran dan bertanggung jawab untuk menyelamatkan lingkungan.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments