Wednesday, August 19, 2026

Eksplorasi Kekuatan perempuan melalui Buku Seni Ketangkasan Domba Garut: Perempuan, Seni, dan Pemertahanan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Dalam setiap bunyi benturan kepala dua domba Garut yang beradu di arena, ada gema nilai-nilai yang lebih dalam dari sekadar hiburan rakyat. Tradisi ketangkasan domba, yang kerap dilihat sebagai arena maskulin dengan dominasi kekuatan fisik, ternyata menyimpan kisah lain. Tercipta sebuah bingkai ketahanan, kontribusi, dan kekuatan perempuan dalam menjaga kebudayaan dan memperjuangkan kesetaraan. 

Lewat buku Seni Ketangkasan Domba Garut: Perempuan, Seni, dan Pemertahanan karya Sukmawan & Febriani pada tahun 2022, kita diajak membaca ulang tradisi dari lensa gender dan perdamaian. Perempuan yang selama ini nyaris tak terlihat dalam wacana tradisi ini ternyata memainkan peran penting sebagai penjaga, pendukung, dan penafsir budaya.

 

Menilik Partisipasi Perempuan dalam Pelestarian Budaya

Bukan hanya laki-laki yang hadir dalam arena adu domba. Perempuan yaitu ibu, istri, anak, saudari, hadir sebagai penjaga ritme kehidupan yang lebih luas. Mereka yang merawat domba, mengelola keuangan keluarga peternak, hingga mewariskan cerita dan makna dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi yang tampak sederhana ini mencerminkan dinamika kekuasaan yang sering menempatkan perempuan di pinggiran. 

Namun dalam prakteknya, perempuan justru menjadi kunci keberlangsungan budaya tersebut. Buku ini mengungkap bahwa tradisi dapat menjadi ruang perlawanan halus terhadap struktur patriarki, ketika perempuan diberikan ruang untuk terlibat secara aktif dan bermakna.

Dalam masyarakat yang masih menghadapi tantangan ketimpangan gender seperti perempuan dibatasi ruangnya, atau bahkan disingkirkan dari ruang budaya, seni tradisional bisa menjadi jalan keluar yang kuat. Ketika perempuan dilibatkan dalam seni ketangkasan, mereka tidak hanya hadir sebagai pelengkap, tapi sebagai penentu dan pengubah narasi.

Buku ini mengingatkan kita bahwa seni bukan hanya estetika, tetapi juga alat politik dan sosial. Tradisi ketangkasan bisa menjadi ruang ekspresi, di mana perempuan membangun identitas, memperjuangkan hak, dan mendekonstruksi norma gender yang kaku. Ketika perempuan bebas berekspresi dalam budaya lokal, mereka menciptakan ruang baru yang aman, adil, dan setara.

 

Merajut Perdamaian Lewat Seni Tradisional

      Seni tradisional yang melibatkan perempuan menciptakan efek domino yaitu memberdayakan satu dan menginspirasi banyak. Ketika perempuan mengambil peran dalam ruang yang sebelumnya dianggap milik laki-laki, mereka juga menunjukkan bahwa perdamaian gender bukan hanya ideal, melainkan sesuatu yang bisa dipraktikkan, ditanam, dan dipanen dari budaya kita sendiri. Dalam upaya membangun perdamaian, kita sering melupakan satu hal penting yaitu budaya lokal bisa menjadi kunci transformasi sosial. Tradisi seperti ketangkasan domba Garut, bisa menjadi ruang edukasi, dialog, dan kolaborasi antar-gender jika dipahami secara kritis dan inklusif.

Buku ini tidak hanya mengangkat peran perempuan yang tersembunyi, tetapi juga menyoroti potensi seni tradisional untuk menjadi ruang yang setara. Melibatkan perempuan dalam praktik budaya adalah bentuk nyata dari pembangunan masyarakat yang adil dan damai. 

Seni Ketangkasan Domba Garut: Perempuan, Seni, dan Pemertahanan adalah contoh penting bagaimana pendekatan budaya dapat menjadi strategi dalam mencegah kekerasan berbasis gender. Kesenian ini menantang narasi dominasi, sekaligus menegaskan bahwa budaya adalah milik seluruh gender. 

Melalui seni tradisional, perempuan bisa bangkit, menginspirasi, membentuk ulang makna tradisi, dan menghadirkan perubahan dari dalam komunitasnya sendiri. Buku ini bukan hanya kajian budaya, tetapi juga ajakan bahwa membangun perdamaian bisa dimulai dari hal-hal yang sangat dekat dan sangat akrab seperti seni, lingkungan, dan tradisi. 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha