HomeOpiniSekolah Perempuan Pondok Bambu Bangun Solidaritas dari Iuran Warga

Sekolah Perempuan Pondok Bambu Bangun Solidaritas dari Iuran Warga

Beberapa waktu lalu, saya pulang ke rumah untuk menemui orangtua saya. Selama saya pulang, orangtua saya bercerita jika iuran bulanan atau mingguan warga di rumah seringkali mandek. Ada banyak orang yang tidak mau iuran, padahal iuran bulan akan menjadi kepentingan dan kepedulian warga. Saya jadi teringat wawancara Ibu Rohimah, Penggerak Sekolah Perempuan Perdamaian di Kampung Bambu. Ibu Rohimah cerita jika di kampungnya cukup banyak yang sulit memberikan sumbangan.

Iuran atau kas warga, sebenernya menjadi sebuah kemandirian dan solidaritas antar warga. Apalagi, di era pandemic iuran warga menjadi kekuatan besar untuk saling membantu antar warga yang terkena pandemic. Namun, setiap warga tidak menyadari hal tersebut. Bagi Ibu Rohimah, ada berbagai watak warga yang dihadapi ketika dipungut iuran. 

”Kalau nggak ada, Nggak apa-apa dua ribu juga. Tapi ada juga yang nggak mau ngasih, kita doakan sehat aja,” ucap Bu Rohimah sambil tersenyum. 

Untuk kegiatan di Kampung Sawah, iuran yang terkumpulkan sering digunakan untuk membantu warga yang terkena covid-19. Dalam sebulan terakhir,  DKI Jakarta menjadi wilayah dengan kasus covid-19 paling tinggi. Sehingga, solidaritas warga menjadi hal yang paling penting dalam penanganan covid-19. Pemberlakuan isolasi mandiri ternyata tidak semua daerah memadai untuk melakukan isolasi mandiri. 

Apalagi, di Kampung Sawah salah satu wilayah yang padat penduduknya. Rumah petakan menjadi rumah yang tidak nyaman untuk melakukan isolasi mandiri. Akibatnya, anggota keluarga yang lain terkena dampaknya dan ikut melakukan isolasi mandiri. Keadaan ini, membuat Ibu Rohimah dan ibu-ibu Sekolah Perempuan di Pondok Bambu bergerak membantu warga dengan iuran. 

Uang iuran yang terkumpul, dibelikan sejumlah kebutuhan. Mulai dari vitamin atau kebutuhan harian warga yang sedang melakukan isolasi mandiri. Pemerintah desa sebenarnya, sudah memberikan bantuan. Akan tetapi, ada beberapa bantuan yang tidak tercover. Sehingga, dari iuranlah bisa mencukupi kebutuhan warga-warga yang sedang melakukan isolasi mandiri. 

”Kita list dulu warga yang kena covid-19.  Apa aja kebutuhannya dan mulai iuran. Ada warga yang mau ngasih, katanya nggak apa-apa harus iuran asalkan dikasih sehat. Ada juga orang kaya tapi pelit, kita doain sehat aja,” katanya. 

Para ibu-ibu meminta iuran bukan hanya kepada para ibu. Para bapak pun tanpa terkecuali diminta. Ibu Rohimah pun memiliki warga agar banyak warga yang memberikan sumbangan. Menurutnya, waktu sore hari menjadi waktu yang pas untuk sumbangan warga. Di mana para ibu sudah santai dengan urusan kesehariannya. 

Sebelum mulai bergerak meminta sumbangan, Ibu Rohimah selalu berdiskusi dengan beberapa anggota Sekolah Perempuan Perdamaian lainnya. Dirinya meminta pendapat dan membagi tugas apa yang akan dilakukan. Sehingga, semua kebutuhan warga bisa tercukupi dan warga yang sedang isolasi mandiri bisa tertolong. 

Menurutnya, kepekaan seseorang terhadap masalah tidak sama. Sehingga, dia memulai hal baik yang akan dilakukan dari lingkungan Sekolah Perempuan Perdamaian. Sama seperti warga lainnya, anggota sekolah perempuan tidak semua memiliki kemampuan ekonomi yang sama. Namun, anggota Sekolah Perempuan Perdamaiannya lainnya, turut ikut menyumbang. 

Selain itu, Ibu Rohimah bersama dengan anggota Sekolah Perempuan Perdamaian lainnya melakukan pendataan bagi warga yang belum divaksin. Serta, pihaknya juga mengkampanyekan agar masyarakat turut serta pelaksanaan vaksin yang dilakukan oleh pemerintah. Hidup di kota besar dengan penyebaran informasi yang sangat cepat, menjadi tantangan tersendiri baginya. Di mana saat ini, banyak menerima hoaks terkait vaksin. Ada banyak yang takut meninggal paska menerima vaksin. 

Walaupun begitu, hal tersebut tidak membuatnya patah semangat. Dirinya dan anggota Sekolah Perempuan Perdamaian lainnya terus membujuk warga untuk menerima vaksi. Strategi yang dilakukannya pun cukup unik. Ibu Rohimah mendekati ibu-ibu rumah tangga terlebih dahulu agar para suami bisa menerima vaksin. Begitu juga kepada anak muda, setiap kali ada kumpulan anak muda, diriya mengajak agar anak muda ikut vaksin.  

”Kita ngobrol sama ibu-ibunya. Suaminya yang agak keras, bisa dibujukin. Alhamdulilah banyak warga yang ikut vaksin,” katanya, sambil mengambil nafas panjang. 

Selain mengajak vaksin, dirinya juga turut serta dalam satgas covid-19 ditingkat RT dan RW. Bahkan, ibu-ibu Sekolah Perempuan Perdamaian pun menjadi satgas covid-19 tersebut. Satgas covid-19 juga ikut menyalurkan bantuan. Mulai penyemprotan desinfektan, mendata warga yang melakukan isolasi mandiri. Bantuan yang diberikan beragam, mulai dari beras, mie instan, minyak goreng hingga sarden. 

Dirinya seringkali mendapatkan telpon dari pihak kelurahan untuk menyaluran bantun. Selain itu, pihaknya juga sering mengajuan bantuan-bantuan khususnya bagi para perempuan yang luput dari daftar bantuan yang masuk. Seperti susu, pembalut, gas dan lainnya yang menjadi kebutuhan perempuan dan anak seringkali luput dari list bantuan yang diberikan pemerintah. 

”Alhamdulillah, pihak kecamatan dan kelurahan pada percaya. Karena kami kerjanya solid. Ditugasin ini terus bener. Dibantu temen-temen pengurus RT. Pada tau, pekerjaan kita pada solid. Kepercayaan public terhadap ibu-ibu sekolah sangat baik saat ini. Sejumlah bantuan yang diajukan oleh Ibu-ibu Sekolah Perempuan Perdamaian seringkali masuk dalam data,” pungkasnya. 

Nita Nurdiani
Nita Nurdiani
Penulis dan Staf Media
RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments