Thursday, May 14, 2026

Sarinah: Wajah Perempuan Indonesia dalam Belenggu Stigma “Lemah dan Tak Berdaya”

Judul: Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia). 

Penulis: Ir. Soekarno. 

Tahun terbit: 1947. 

Penerbit: The Soekarno Foundation. 

Halaman: 293.

 

Kajian mengenai perempuan menjadi topik yang hangat setelah munculnya arus kesadaran “perempuan berdaya” menyeruak ke permukaan. Banyak buku yang membahas tentang perjuangan dan pergerakan perempuan diproduksi sebagai usaha mengarusutamakan wacana tersebut. Meski demikian, kajian tentang perempuan sebetulnya bukan isu baru bagi para cendekiawan negeri ini.

Dua tahun setelah Indonesia merdeka, Presiden Indonesia, Ir. Soekarno menerbitkan buku berjudul Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia) yang secara spesifik menggambarkan kegelisahannya tentang posisi perempuan pasca kemerdekaan. Kala itu, perempuan tak ubahnya perhiasan yang fungsinya menjadi alat hias seseorang. Saat ia selesai dipakai, maka akan disimpan dan ditutup rapat di kotak perhiasan. 

Soekarno melihat bentuk penjajahan lain atas kemanusiaan melalui perempuan yang tidak dibiarkan berdaya dan merdeka dalam melakukan banyak hal. Karenanya, ia secara gamblang mengkritik pandangan laki-laki yang masih menganggap perempuan sebagai makhluk yang tidak berdaya. Ia menganalogikan seperti “blasteran antara Dewi dan seorang tolol”. Baginya, tatanan negara dan masyarakat tidak akan berjalan dengan baik jika orang-orang di dalamnya tidak menghormati perempuan. Sebab mereka merupakan pondasi penting dalam pembangunan suatu negara.

Terdiri dari 293 halaman dengan enam bagian yang semuanya merupakan esai refleksi dari pemikiran Soekarno, buku ini memaparkan urgensi peran perempuan untuk kemajuan bangsa Indonesia. Nama Sarinah dipakai sebagai judul buku sebagai bentuk penghormatan Soekarno kepada pengasuhnya saat ia masih kanak-kanak. Sekaligus menjadi representasi perempuan Indonesia di masa itu yang menjadi “orang kecil” tetapi budinya selalu besar. Buku Sarinah praktis menjadi literatur utama yang membuka kran wacana tentang perjuangan dan pergerakan perempuan di Indonesia; alasan utama mengapa penulis memutuskan untuk meresensi buku ini. 

Perempuan: Blasteran Antara Dewi dan Orang Tolol

Pengibaratan yang ditulis Soekarno atas perempuan yang tak ubahnya blasteran antara seorang dewi dan seorang tolol diambil dari perkataan Professor Havelock Ellis. Konteksnya merujuk pada laki-laki yang mendambakan perempuan namun tidak memberi mereka ruang untuk berdaya secara merdeka. Dalam tulisannya, Soekarno memberi refleksi pengalamannya saat mengadakan rapat-rapat kenegaraan yang diputuskan oleh satu majelis laki-laki saja, sementara pihak perempuan tidak ditanya pendapatnya sama sekali. Padahal gelaran majelis tersebut ditujukan untuk kemaslahatan bersama rakyat Indonesia. 

Ia mengandaikan kemerdekaan untuk perempuan saat mereka didudukkan sebagai manusia kelas dua di masa itu. Sambil mengkritik dengan lugas tentang sikap para laki-laki yang tidak ingin melibatkan perempuan dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan. 

“Di dalam masyarakat sekarang ini, saya melihat bahwa kadang-kadang kaum laki-laki terlalu main ‘Yang Dipertuan’ di atas soal-soal yang mengenai kaum perempuan…., dialah kadang-kadang merasa dirinya cukup bijaksana untuk mengambil keputusan, sedang kaum perempuan tidak diajak ikut bicara.” tutur Soekarno dalam bukunya.

Soekarno tidak menafikan perbedaan kodrati laki-laki dan perempuan, baik secara fisik dan psikis. Tapi ia menentang anggapan bahwa perempuan itu akalnya kalah dengan laki-laki. Ketajaman intelektual mereka kalah dengan laki-laki. Banyak sumber dan penelitian yang Soekarno paparkan dalam tulisannya untuk membantah persepsi tersebut. 

Salah satu contohnya yakni stigma yang mengatakan bahwa berat massa otak berhubungan dengan ketajaman akal pikir individu. Jadi, lantaran laki-laki mayoritas memiliki berat massa otak lebih banyak, maka mereka memiliki ketajaman akal pikir yang lebih maju ketimbang perempuan. Soekarno memberi paparan penelitian yang datang dari Raymond Pearl dan Kohlbrugge terkait hal tersebut. Dua tokoh itu sepakat mengatakan bahwa, “antara ketajaman akal dan beratnya otak tidak ada pertalian apa-apa.” 

Perihal alasan mengapa tidak banyak tokoh perempuan yang memiliki prestasi gilang gemilang untuk peradaban, Soekarno menilai bahwa hal tersebut terjadi sebab estafet obor ilmu pengetahuan, falsafah, dan politik masih bergulir di tangan laki-laki tanpa memberi perempuan kesempatan dan akses yang sama. 

“Di dalam masyarakat sekarang ini, di mana kaum perempuan banyak yang masih dikurung, banyak yang tidak dikasih kesempatan maju ke muka di lapangan masyarakat, banyak yang baginya diharamkan ini dan diharamkan itu, maka tidak heran kita, bahwa kurang banyak kaum perempuan yang ilmu dan pengetahuannya membubung ke udara.”

 

Perempuan bukan sosok lemah, tak berdaya, dan tidak memiliki nilai guna dalam membentuk peradaban masyarakat. Mereka hanya tidak diberi kesempatan yang sama dan ruang untuk mengekspresikan diri. Kebangkitan perempuan bukan sesuatu hal yang harusnya ditakutkan oleh laki-laki, melainkan menjadi hal yang harus terjadi. 

Perempuan juga manusia yang memiliki nilai di tengah masyarakat. Oleh karena itu, sejarah perempuan selalu bergandengan dengan sejarah laki-laki, tak terpisahkan. Urgensi perempuan dalam ketatanegaraan sangatlah penting. Soekarno mengutip sabda Nabi Muhammad SAW bahwa, “Perempuan itu tiang negeri. Manakala baik perempuan, baiklah negeri. Manakala rusak perempuan rusaklah negeri”. 

Soal perempuan—posisi dan perannya di masyarakat—harus mendapat perhatian sentral agar tujuan bangsa dalam merengkuh keadilan dan kesejahteraan sosial dapat tercapai. Sebab, suatu masyarakat dikatakan sehat, manakala ada perimbangan hak dan perlakuan antara kaum laki-laki dan perempuan yang sama tengahnya, sama beratnya, dan sama adilnya. 

Buku Sarinah (Kewadjiban Wanita Dalam Perdjoangan Republik Indonesia) ini meski merupakan literatur tua, tapi ia masih jelas memberi gambaran dan perspektif ketimpangan gender yang terjadi di Indonesia. Secara lugas, buku ini coba menjembatani nilai luhur bangsa dengan ide-ide pemberdayaan dan pergerakan perempuan sebagai tonggak peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selamat membaca! 

 

Etika Filosofia
Etika Filosofia
Penulis dan peneliti, alumnus CRCS UGM.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha