Wednesday, August 19, 2026

Potret Perjuangan Perempuan Korban Kekerasan dalam Film “Perempuan dari Pulau Rote”

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Mengambil setting tempat di Indonesia bagian Timur, film Perempuan dari Pulau Rote sudah membuat penulis geram sejak awal cerita. “Perempuan dari Pulau Rote” besutan sutradara Jeremias Nyangoen ini seperti membuka lembaran sunyi tentang ketertindasan perempuan yang dibungkam.

Di awal cerita, film ini menyajikan luka berlapis yang dialami Opra. Jasad Abram, suaminya, sudah satu minggu berada di rumah. Ia masih urung memakamkan Abram karena tengah berjuang memulangkan Martha, anak sulungnya yang menjadi pekerja migran di Malaysia.

Sendirian Opra menyimpan harapan bahwa Martha pasti bisa dibawa pulang tepat waktu. Atau setidaknya, di hari ketujuh. Namun, keluarga dan lingkungannya sendiri yang justru menyudutkan Opra, menganggapnya sebagai penentang adat dan ingkar pada firman Tuhan. Bak berpindah dari kandang singa ke mulut buaya, Martha akhirnya berhasil pulang ke Rote, tapi dalam keadaan depresi.

 

Trauma Korban Kekerasan Seksual 

Film ini memang mendapat kritik, salah satunya absennya peringatan tentang adegan-adegan kekerasan. Meskipun sudah lazim – bahkan penting – dibahas, tapi adegan kekerasan bisa menjadi trigger atau pengalaman yang kurang mengenakkan bagi penonton.

Akan tetapi, itulah faktanya. Nyangoen menyajikan sebuah hidangan siap santap bahwa kekerasan dan diskriminasi pada perempuan memang benar adanya. Terjadi, dan nyaris tanpa penyelesaian yang pasti.

Beberapa adegan memang membuat penulis terpantik, tapi film ini tetap sangat otentik. Tak sedikit karya yang membalut fakta dengan “keindahan” atas nama empati. Namun alih-alih pesannya tersampaikan, cara seperti itu justru kerap membuat level bahaya dari kekerasan berbasis gender dan seksual menjadi sangat datar.

Martha dengan pengalaman traumanya, dianggap sebagai perempuan gila yang berbahaya dan harus dipasung. Sosoknya ditampilkan sangat lemah dan tak berdaya. Bahkan, ketika dalam pemasungan pun ia diperkosa hingga hamil.

Habel, sang pelaku pemerkosa, tidak lain adalah penyalur tenaga kerja yang membantu kepulangan Martha dari Malaysia. Sayangnya, ia seketika dimaafkan setelah melakukan ritual adat menggali ulang kuburan leluhurnya.

Kisah Martha adalah realita. Jika kita mencermati banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, pelakunya kerap muncul dari orang terdekat. Bahkan, orang yang dianggap berjasa bagi kehidupannya, mulai dari keluarga inti, guru, hingga atasan atau perantara pekerjaan. Fakta berikutnya adalah bahwa “pengampunan” masih jauh dari kata adil bagi korban.

Pesan serupa juga muncul di adegan lainnya. Kobis, seorang yang di awal film terlihat sangat fasih melantunkan ayat-ayat Tuhan, di dua pertiga hingga akhir film muncul sebagai laki-laki yang melampiaskan nafsunya secara brutal kepada Bertha, adik Martha. Mulai dari rayuan, hingga pengakuannya sebagai pemerkosa dan pembunuh Bertha.

Aparat tak kunjung menemukan siapa pembunuh Bertha, hingga membuat Opra mencari sendiri pembunuh anaknya. Alhasil, tubuhnya harus “dinikmati” oleh Kobis sebagai “upah” jika ingin mengetahui pembunuh Bertha.

Sampai di sini, Perempuan dari Pulau Rote sudah membuat penonton kenyang dengan gambaran peristiwa di sekitar kita. Kekerasan berbasis gender dan seksual alih-alih terselesaikan, malah kerap menjadi ajang “reka adegan. Kita membaca ada aparat yang memperkosa korban, atau juga ikut mencabuli pelapor. Apalagi, tindak lanjut hingga penyelesaiannya dan pemulihan korban pun masih jauh panggang dari api.

 

Perempuan Menolak Bungkam

“Bukan cuma anak perempuan, anak laki-laki juga harus dijaga …”

Meskipun tersaji dengan rangkaian kepedihan bertubi-tubi, semangat penulis terbakar ketika menikmati adegan perlawanan kaum perempuan Pulau Rote saat menyusuri rumitnya akses keadilan. Ibarat tagline “no viral no justice,” perempuan Rote membalas dengan caranya sendiri.

Kutipan di awal sub bab ini adalah contohnya. Sekumpulan perempuan Rote tengah berbincang tentang pentingnya menjaga anak. Mereka mengkritik keras pemahaman bahwa yang harus dijaga hanya anak perempuan saja. Menurut mereka, anak laki-laki pun seharusnya sama dalam hal pendidikan moralnya.

Adegan berikutnya yang membuat penulis bergelora adalah ketika para perempuan Rote melakukan protes beramai-ramai ke kantor polisi. Aksi ini mengetengahkan cara paling konkret dalam menyelesaikan kasus kekerasan terhadap perempuan. Dalam film ini, pemerkosa Martha dan pembunuh Bertha yang sama-sama tak tertangkap polisi adalah bentuk mengkritik kinerja aparat.

Belum selesai di sana, perjuangan Opra juga terlihat heroik ketika memenangkan perkelahian melawan Kobis. Meskipun ada kesan main hakim sendiri, tapi lagi-lagi ini adalah bentuk kritik dari karya sastra terhadap realita.

Opra dikondisikan untuk berdaya demi memperjuangkan keadilan untuk anak-anak perempuannya. Ketika aparat terlihat “tidak membantu,” maka kakinya sendiri yang berlari, tangannya sendiri yang menghantam jatuh si pelaku. Masalah adegan-adegan kemalangan perempuan, bagi penulis bukanlah sebuah eksploitasi, melainkan hal-hal subtil yang ditampilkan apik dan patut diapresiasi.

Sudah saatnya kita berpindah tempat, mengganti sudut pandang, bahwa sajian kekerasan dalam karya sastra bukan sekadar tayangan untuk mendapat kritik saja. Melainkan, harus ada mata yang terbuka bahwa kisah-kisah ini benar adanya, dan menunggu aksi yang lebih nyata untuk mengikis gundukan isu yang telah lama membisu.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha