Barangkali siapapun yang pernah menonton film Cinderella akan langsung setuju bahwa ibu dan saudara tirinya adalah orang yang jahat. Bahkan tidak hanya dianggap sebagai orang yang berperilaku kejam, kita juga akan ikut mengangguk ketika ada yang bilang kakak tiri Cinderella adalah perempuan yang “tidak cantik” atau buruk rupa.
Visualisasi ini ternyata sudah begitu melekat di ingatan kita, semakin memperkuat anggapan bahwa kecantikan adalah moralitas, sedangkan jelek adalah simbol kejahatan. Tidak heran, jika dalam kehidupan nyata pun, perempuan yang dipandang tidak “menarik” akan mudah menerima hukuman atau bahkan tidak mudah diterima di lingkungan sekitarnya.
Luka ini lah yang ingin disampaikan dalam film The Ugly Step Sister. Sebuah film yang sungguh menakutkan bagi perempuan yang tak dapat memenuhi standar kecantikan. Dalam film ini Elvira, salah satu saudara tiri Cinderella mengalami berbagai kekerasan karena dianggap “tidak cantik”. Dia disingkirkan, direndahkan bahkan dianggap tidak layak untuk hidup bahagia.
Gambaran Cerita The Ugly Stepsister
Cerita dimulai dengan Rebekka (Ane Dahl Torp), seorang ibu dari dua anak, Elvira (Lea Myren) dan Alma (Flo Fagerli), yang baru saja menikah dengan seorang duda bernama Otto (Ralph Carlsson) dan Otto juga memiliki seorang putri bernama Agnes (Thea Sofie Loch Næss).
Berharap mendapat banyak kekayaan dari Otto, Rebekka justru harus menerima kenyataan bahwa di malam pertama pernikahannya suaminya meninggal dan sama sekali tidak meninggalkan harta kekayaan.
Karena kondisi yang menyulitkan tersebut, Rebekka mulai melakukan berbagai cara untuk membuat Elvira (putri pertamanya) bisa menikah dengan pangeran kaya, beranama Julian.
Karena Elvira dianggap “tidak cantik” menurut standar masyarakat di lingkungannya, Rebekka memaksa Elvira untuk menjalani serangkaian operasi plastik tanpa anestesi. Dari hidung sampai bulu mata, semuanya dilakukan dengan cara yang ekstrem. Saya yakin teriakkan Elvira selama operasi membuat semua penonton ikut merasakan kesakitannya.
Demi tubuh yang ideal, Elvira juga terpaksa untuk menelan telur cacing pita. Sampai akhirnya, cacing itu terus bertambah besar hingga mempengaruhi kesehatannya.
Tak hanya berhenti di situ, gambaran menakutkan lainnya pun terlihat ketika Elvira rela memotong jari-jari kakinya, supaya sepatu kaca milik Agnes yang tertinggal ketika pesta dansa (dalam cerita lain Cinderella) muat di kakinya.
Dengan pengorbanan tersebut, Elvira berharap akan mendapatkan cinta pangeran yang selama ini ia impikan dan perjuangkan.
Namun ibarat cinta bertepuk sebelah tangan, meski ia telah melakukan berbagai cara untuk tampil “cantik”, di akhir cerita Elvira tetap disingkirkan dan dianggap tidak menarik. Ia tidak mendapatkan apa-apa. Tidak dengan cinta pangeran, juga tidak dengan kasih sayang ibunya.
Ia kembali mendapatkan hukuman dan sanksi karena terlahir sebagai perempuan yang tidak memenuhi standar cantik. Inilah bentuk nyata sistem patriarki itu. Menghukum perempuan yang “tidak menarik”, memberi imbalan pada perempuan yang dianggap “cantik dan menarik”.
Standar Kecantikan Melukai Tubuh Perempuan
Menurut Ester Lianawati dalam buku “Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan”, standar kecantikan ini sebetulnya sudah mulai ditanamkan pada perempuan sejak ia lahir. Sistem ini menekankan bahwa tampil cantik dan memiliki tubuh yang indah itu penting dan mendapatkan imbalan.
Kalimat-kalimat ini seringkali tampil dalam kalimat pujian semacam “Kamu cantik sekali dengan gaun itu”, atau “Duh siapa yang kepangin tuh rambutmu jadi manis begitu?”.
Menurut Ester komentar-komentar semacam ini, tanpa sadar menanamkan bahwa dengan tampil menarik dihadapan orang lain, akan mendapatkan pujian. Sedangkan perempuan yang tidak “cantik” akan mendapatkan hukuman. Seperti diabaikan, tidak mendapatkan pujian atau bahkan mendapat komentar jahat.
Lebih dari itu, dalam penekanan pada kecantikan, sejak dini sesama perempuan juga diajarkan untuk bersaing. Hal ini bisa kita lihat, jika dalam satu keluarga ada beberapa anak perempuan, orang-orang dewasa sering kali membandingkan penampilan satu dengan yang lainnya.
Yang lebih cantik akan dipuji-puji (imbalan), yang kurang menarik akan diabaikan, kurang diperhatikan, atau bahkan terus menerus mendapatkan komentar negatif (hukuman).
Menurut Ester, imbalan dan sanksi serta hukuman yang perempuan terima sejak dini ini menjadikan tubuh dan kecantikan sebagai aspek penting dalam membangun harga diri perempuan. Sekaligus membangun persaingan di antara sesama perempuan. Sebagaimana yang terjadi pada Agnes dan Elvira.
Hal ini jelas merugikan dan membuat perempuan semakin sulit untuk menerima diri apa adanya. Bahkan tidak hanya itu, standar kecantikan ini menyiksa perempuan, bukan hanya secara fisik tapi juga mental.
Masih dalam buku yang sama, Ester menyebutkan bahwa tekanan pada tubuh dan kecantikan perempuan dapat berdampak buruk bagi mental. Mulai dari harga diri yang rendah sampai pada anorexia nervosa, bulimia nervosa, body dysmorphic, dan gangguan kepribadian histrionik. Semua ini terjadi karena perempuan merasa cemas dengan ketidaksempurnaannya.
Perlukah Merasa Cantik untuk Mencintai Diri Sendiri?
Untuk mulai mencintai diri sendiri, menurut Ester perempuan harus jujur dan tidak perlu memaksa diri terlihat cantik. Karena nilai perempuan tidak hanya ditentukan dari kecantikannya. Jangan jadikan kecantikan sebagai tirani, sebab perempuan bukan tahanan dalam tubuhnya sendiri.
Masih dalam nafas yang sama, Mutia Fauziah dalam tulisannya yang berjudul “The Ugly Step Sister (2025): Membongkar Warisan Beracun Standar Kecantikan Dongeng Tradisional” juga mengajak perempuan untuk merayakan tubuhnya sendiri. Menurutnya ketidaksempurnaan itu bukan kekurangan.
Kita tidak perlu memaksakan diri untuk muat dalam “sepatu kaca” siapapun demi merasa layak dicintai. Mulai dari tubuh, wajah, dan seluruh nilai diri, patut untuk diterima dan dirayakan.
Karena itu, dear girl selamat mencintai diri sendiri dengan jujur dan tulus. Mari lepaskan diri dari belenggu standar kecantikan yang tidak realistis itu!.







