Editor: Yuyun Khairun Nisa
Anggota TRA, yang disebut Keluarga TRA, sangat beragam. Ada yang bekerja di ranah domestik, pelaku usaha, tenaga pendidik, hingga profesional di berbagai perusahaan. Meski tidak semua memiliki latar belakang literasi, di TRA, siapa saja bisa menjadi fasilitator, pembaca nyaring, atau mengambil peran lain yang diinginkan tanpa harus punya latar belakang pendidikan formal. “Kami belajar dan berbagi bersama, berbasis praktik dan pengalaman nyata. Semua anggota, termasuk yang baru bergabung, kami dorong untuk aktif mengambil peran, sehingga proses regenerasi dapat berjalan dengan baik,” tambah Rika.
Di Keluarga TRA, banyak yang awalnya hanya datang sebagai peserta, kini mulai berani tampil sebagai MC, energizer, pembaca nyaring, fasilitator, bahkan pelatih. Yang luar biasa, semua memiliki semangat belajar dan suka berbagi.
Secara pribadi, mereka juga berkembang lewat keterlibatan di komunitas lain seperti komunitas dongeng, komunitas perbukuan, atau bahkan menjadi narasumber di pemerintahan. Pengalaman itu kemudian mereka bawa dan kolaborasikan kembali dengan TRA, sehingga kapasitas komunitas terus bertambah kaya.
Di tingkat organisasi, keluarga TRA saling mendukung dengan berbagi pengalaman. Saat anggota baru diminta memimpin kegiatan, anggota yang lebih berpengalaman memberikan tips dan trik agar mereka lebih percaya diri.
“Kami ingin TRA menjadi ruang yang aman dan terbuka bagi siapa saja untuk mengasah kemampuan, membangun kepercayaan diri, dan berperan aktif dalam gerakan literasi,” jelas Rika.
Gerakan ini pun secara tidak langsung menjadi ruang pemberdayaan perempuan. Mereka tidak hanya menguatkan anak-anak, tapi juga membangun kepercayaan diri, solidaritas, dan kepemimpinan lokal di antara sesama perempuan.
Dari Anak, Menuju Komunitas yang Lebih Kuat
Dalam wawancara, Rika tidak bisa menyatakan bahwa TRA sudah membawa transformasi besar. Karena sejak awal, gerakan ini tumbuh secara alami tanpa motivasi keuntungan materi maupun target yang tingi. TRA menyadari bahwa setiap anggota memiliki peran lain dalam hidup. Dan sering kali peran-peran itu lebih mendesar. Seperti banyak komunitas relawan lainnya, TRA juga mengalami dinamika seperti anggota yang datang dan pergi, semangat yang naik turun, serta prioritas yang bergeser.
“Namun justru di situ letak kekuatannya. Aku pribadi malah banyak terinspirasi oleh teman-teman Keluarga TRA yang tetap meluangkan waktu untuk berkegiatan, berpindah dari tempat ke tempat lain, tanpa imbalan yang berarti,” imbuh Rika.
TRA pernah melakukan satu kegiatan kampanye kecil yaitu “Kebiasaan Ayah Hebat dengan Fun”. Kampanye ini bertujuan untuk mendorong lebih banyak peran ayah untuk hadir dan terlibat dalam hal-hal kecil, seperti membacakan buku cerita. Apalagi, beban pengasuhan dan mendampingi anak membaca nyaris sepenuhnya ada di tangan ibu.
Hasilnya sungguh tidak disangka, TRA menerima banyak foto, dan video dari para ayah yang membacakan buku dengan penuh ekspresi, dengan cara mereka sendiri, kepada anak yang penuh antusias. Momen sederhana ini menunjukkan bahwa kedekatan dengan anak bisa dibangun dari hal kecil, dan tak harus selalu rumit.
Sejak kampanye ini, grup keluarga TRA mulai diisi oleh ayah-ayah dan calon ayah baru. Harapannya, kampanye ini bisa menumbuhkan kesadaran bahwa pengasuhan adalah kerja bersama. Dan menjadikan anak pembaca sepanjang hayat, juga adalah tugas dan tanggung jawab seorang ayah.
Literasi Sebagai Jalan Damai: Refleksi Hari Literasi Internasional
Dalam rangka Hari Literasi Internasional, Tangerang Read A Loud mengajak kita untuk melihat literasi bukan sekadar kemampuan teknis membaca dan menulis, tetapi kemampuan untuk berpikir kritis, memahami informasi, dan mengambil keputusan yang berdampak pada hidup. Hari Literasi Internasional menjadi pengingat dan penguat bahwa hal sederhana seperti membacakan buku kepada anak bisa menjadi awal dari perubahan besar yang tidak bisa dilakukan sendiri melainkan secara bersama-sama.
Momen ini menunjukkan bahwa perempuan akar rumput (Keluarga TRA dan komunitas lain) telah membuktikan bahwa dengan komitmen, kebersamaan, dan segenggam buku, mereka mampu menjadi agen perdamaian yang luar biasa, dengan bergerak diam-diam tapi sekuat tenaga membangun literasi di lingkungannya.
Pada akhir wawancara, Rika bercerita tentang harapan TRA, “Harapan kami sederhana: agar setiap keluarga mau memulai praktik baik membacakan buku dan bercerita di rumah. Karena kami percaya, budaya baca tumbuh paling kuat dari ruang-ruang yang paling dekat — dari dalam rumah, dari hubungan yang hangat antara anak dan orang tua, dan dari cerita-cerita yang dibagikan dengan sukacita.”







