Monday, May 25, 2026

Film Dokumenter The Indigenous: Upaya Menghapus Stigma Buruk dan Merayakan Kearifan Masyarakat Adat

Editor: Yuyun Khairun Nisa

The Indigenous merupakan sebuah film dokumenter yang mengangkat realitas kehidupan masyarakat adat di Indonesia. Film tersebut hadir sebagai bentuk perlawanan terhadap stigma negatif yang kerap dilekatkan kepada komunitas adat. 

Selama ini, masyarakat adat sering dianggap tertinggal, primitif, sinkretik, bahkan sesat. Padahal, mereka memiliki nilai-nilai luhur dan kearifan lokal yang sangat berharga bagi kehidupan masa kini. Film dokumenter ini mengajak kita menyelami kehidupan dua komunitas adat secara lebih dekat dengan harapan dapat membuka pandangan masyarakat umum terhadap kekayaan nilai-nilai yang mereka miliki. 

Disutradarai oleh dua sineas muda berbakat, Muhammad Sridipo dan Rizky Pratama, film dokumenter ini menghadirkan pendekatan yang humanis, jujur, dan reflektif. Film The Indigenous ini diproduksi oleh Watchdoc Documentary, sebuah rumah produksi independen yang berdiri sejak tahun 2009. Watchdoc dikenal luas sebagai produsen dokumenter yang fokus pada isu sosial, politik, lingkungan, dan hak asasi manusia. 

Selama lebih dari satu dekade, Watchdoc telah menghasilkan lebih dari seratus film dokumenter, termasuk karya-karya terkenal seperti The Mahuzes, Asimetris, Sexy Killers, The EndGame, dan Kinipan. Melalui karya-karyanya, Watchdoc berupaya mengedukasi publik tentang isu-isu penting yang sering kali luput dari perhatian media arus utama. Kekuatan Watchdoc terletak pada keberpihakannya terhadap masyarakat akar rumput dan pendekatan naratif yang kuat dan menyentuh.

 

Menilik The Indigenous, Bercerita tentang Apa?

Film The Indigenous dibuka dengan narasi dari Samsul Maarif, seorang peneliti masyarakat adat dan agama leluhur. Ia mengungkapkan keresahannya terhadap stigma buruk yang sering dilekatkan pada masyarakat adat. 

Masyarakat adat dianggap tertinggal, sesat, atau bahkan tidak rasional karena praktik keagamaan dan kebudayaannya yang tidak sesuai dengan cara pandang arus utama. Menurut Samsul, penilaian seperti itu muncul dari kegagalan memahami sistem nilai yang hidup dalam masyarakat adat. Film ini kemudian membawa penonton mengikuti perjalanan Samsul mencari bukti dan makna dari nilai-nilai tersebut secara langsung di lapangan.

Perjalanan dimulai dari komunitas adat Daya Luhur di Cilacap, Jawa Tengah. Komunitas ini tinggal di wilayah ekoton atau perbatasan antara dua kebudayaan, yaitu Jawa Tengah dan Jawa Barat. Mereka berbicara dalam bahasa Sunda dan menjalankan kehidupan dengan kuat memegang tradisi leluhur. 

Film menggambarkan bagaimana upacara-upacara adat seperti sedekah kupat, sedekah gunung, dan ritual penghormatan kepada alam menjadi bagian dari keseharian mereka. Makanan ditaruh di tengah hutan atau di bawah pohon sebagai bentuk penghormatan kepada makhluk lain dan alam semesta. 

Dari sini penonton mulai melihat bahwa masyarakat adat memiliki cara tersendiri dalam menjaga keseimbangan hidup dan lingkungan.

Selain itu, film memperkenalkan tokoh-tokoh adat seperti Ceceng Rusmana dan Karso, yang menjelaskan filosofi hidup masyarakat Daya Luhur. Mereka percaya bahwa pohon, air, dan tanah adalah bagian dari kehidupan yang harus dirawat. Bahkan, pancuran air di tengah hutan dianggap sebagai sumber kehidupan yang suci. 

Ketahanan masyarakat Daya Luhur saat pandemi COVID-19 juga ditampilkan, di mana mereka mampu bertahan berkat sumber daya alam yang masih terjaga dan tradisi gotong royong yang kuat. Penonton diajak memahami bahwa sistem adat mereka justru menawarkan solusi konkret dalam menghadapi krisis.

Perjalanan dilanjutkan ke komunitas adat Dayak Iban di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Meski sebagian besar warganya memeluk agama Katolik, adat tetap menjadi pedoman hidup utama. Dalam film, Apai Janggut selaku tetua adat menjelaskan filosofi mereka yang melihat alam sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia. 

Tanah dianggap ibu, hutan sebagai bapak, dan air sebagai darah. Melalui ritual seperti Kenduren Pansud, mereka mengungkapkan rasa syukur kepada alam dan leluhur, bukan untuk menyembah roh seperti sering disalahpahami. Sistem adat Dayak Iban juga berfungsi menjaga tatanan sosial dan menjadi mekanisme perlindungan dari ancaman luar.

Film ini ditutup dengan renungan mendalam tentang makna kearifan lokal dan pentingnya mendengar suara masyarakat adat. Selain menyajikan dokumentasi kehidupan adat, The Indigenous juga mengajak penonton mengkritisi cara kita selama ini memandang kelompok-kelompok minoritas budaya. 

Alih-alih tertinggal, masyarakat adat justru menawarkan visi alternatif tentang kehidupan yang harmonis dengan alam dan sesama. Film ini adalah ajakan untuk menanggalkan stigma, merayakan keberagaman, dan belajar dari kebijaksanaan yang telah hidup ratusan tahun. Sebuah pengingat bahwa masa depan yang lestari bisa lahir dari akar tradisi yang kuat.

 

Nilai-Nilai Masyarakat Adat di Tengah Dunia Modern

Kehidupan masyarakat adat menyimpan banyak pelajaran penting, terutama tentang bagaimana manusia dapat hidup selaras dengan alam dan sesamanya. Nilai-nilai kolektif seperti gotong royong, saling menghormati, serta hubungan spiritual dengan alam menjadi fondasi kehidupan para masyarakat adat. 

Dunia modern seringkali didominasi oleh eksploitasi sumber daya dan individualisme, masyarakat adat justru menunjukkan alternatif cara hidup yang lebih berkelanjutan. Para masyarakat adat menawarkan solusi terhadap berbagai krisis global, termasuk krisis lingkungan dan krisis nilai. 

Melalui film The Indigenous, kita diajak membuka mata terhadap pentingnya mendengar suara masyarakat adat dan mengakui kontribusi mereka dalam membangun masa depan yang adil dan lestari. Film tersebut juga menjadi bentuk penghormatan terhadap keberadaan masyarakat adat yang selama ini terpinggirkan dalam wacana pembangunan nasional. 

Seringkali masyarakat adat  dianggap sebagai penghambat kemajuan karena mempertahankan tradisi. Padahal, sebenarnya tradisi tersebut justru menjadi sumber daya sosial dan ekologis yang bernilai tinggi. 

The Indigenous hadir sebagai pengingat bahwa pembangunan seharusnya tidak mengorbankan identitas budaya dan kearifan lokal. Justru sebaliknya, harusnya pembangunan yang bermartabat harus melibatkan dan memberdayakan masyarakat adat sebagai subjek utama. Jika kita mau untuk memahami dan merayakan keberadaan mereka, kita juga menyemai masa depan yang lebih inklusif dan berkeadilan.

 

References:

Watchdog Documentary (2025). THE INDIGENOUS (FULL MOVIE). [online] Youtu.be. Available at: https://youtu.be/YK7V0HRi5EU?si=iFKl1k2p3fjmJu1J [Accessed 7 Aug. 2025].

Layyin Lala
Layyin Lala
Just a girl with a pen, a passion, and a purpose. Writing her heart out, one word at a time.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha