Monday, July 15, 2024
spot_img
HomeOpiniKepemimpinan Nyai Masriyah Amva di Pesantren Kebon Jambu

Kepemimpinan Nyai Masriyah Amva di Pesantren Kebon Jambu

Pesantren Kebon Jambu resmi didirikan pada 20 November 1993 di bawah Yayasan Tunas Pertiwi. Didirikan oleh pasangan suami istri KH. Muhammad dan Nyai Masriyah Amva. Di awal berdirinya, pesantren yang berada di Desa Babakan Kecamatan Ciwaringin Kabuparen Cirebon ini beraliran salaf dengan mengajarkan kitab klasik mengunakan metode bandongan dan sorogan dan tidak menerapkan pendidikan umum di luar pesantren.

Pada tahun 2006, KH. Muhammad meninggal dunia karena penyakit gagal ginjal. Beliau meninggalkan ribuan santri dan juga istri tercintanya Nyai Masriyah Amva. Kepergian Kyai Muhammad ini sangat mengguncang jiwa Nyai Masriyah. Karena selama ini tokoh di pesantren terpusat pada sosok Kyai Muhammad sebagai pimpinan pesantren. Maka satu persatu para santri meninggalkan pesantren karena merasa pesantren akan redup sepeninggal Kyai Muhammad.

Meskipun Nyai Masriyah memiliki kapasitas keagamaan dan latar pendidikan pesantren yang tidak jauh berbeda dengan Kyai Muhammad, namun otoritasnya sebagai ulama belum diakui di masyarakat. Posisinya sebagai istri dan pendampiang Kyai Muhammad tidak secara otomatis menumbuhkan pengakuan masyarakat atas otoritas keagamaan Nyai Masriyah. Di satu sisi, Nyai Masriyah tidak mau pesantren Kebon Jambu yang dirintis bersama suami tersebut harus mengalami kemunduran. Lantas seperti apa cara Nyai Masriyah bangkit di tengah kondisi yang beliau hadapi?

Meyakinkan diri dan Menggangtungkan Segalanya pada Allah

Guna melawan rasa inferioritas yang terus menjangkiti fikiran, beliau memulai dengan menanamkan self love. Dalam goretan pena dan narasi puisi yang indah, beliau berkomunikasi dengan Allah. Beliau meminta kekuatan kepada Allah agar bisa menjadi pribadi yang baik. Nyai Masruyah Amva mensugesti dirinya sendiri bahwa beliau adalah pemilik kehidupan dirinya. Dirinya memiliki otoritas penuh untuk menentukan sampai dimana kemampuan dirinya untuk mengembangkan potensinya sebagai manusia. Sedangkan Allah yang akan menuntun dan menunjukkan jalan terbaik yang harus beliau lalui.

Adapun berbagai desas desus darimanapun asalnya yang meragukan kemampuan perempuan dalam memimpin, yang tidak percaya dengan kapasitas perempuan dalam mengambil keputusan sama sekali tidak dihiraukan. Karena beliau yakin bahwa beliau mampu, selama ada Allah ada disisinya.  Beliau mencintai dirinya, beliau yakin dengan kapasitas dan kemampuannya. Dalam sebuah puisi beliau mencatat “Aku adalah ratu di kerajaan Barat dan Timur”. Bagi orang yang tidak memahami, goretan pena dan puisi yang beliau tulis akan dianggap sebagai kesombongan.

Namun sebenarnya, itu semua adalah luapan hati Nyai Masriyah Amva tentang bagaimana beliau sangat cinta dengan dirinya. Ketika seseorang sudah bisa menanamkan kecintaan pada dirinya sendiri atau memiliki self love yang kuat maka segala potensi akan bisa tersalurkan dengan sempurna. Karena  self love mampu menumpas segala keraguan dan ketidakpercayaan diri. Seseorang akan merasa bangga dengan segala capainnya, tidak pusing dengan perkataan orang yang meragukan dirinya karena yakin dirinya kuat dan mampu.

Namun self love ala Nyai Masriyah Amva harus disertai rasa tawakal kepada Allah. Harus diiringi dengan sebuah keyakinan bahwa Allah lah yang mengatur segalanya. Allah lah yang akan membimbing ke jalan mana potensi manusia tersebut bisa dimanfaatkan. Karena self love tanpa disertai dengan sikap tawakal hanya akan berbuah kecongkaan.

Laki-Laki dan Perempuan Sama-Sama Khalifatullah

Nyai Hj. Masriyah Amva meyakini bahwa Islam memberikan akses yang sama kepada seluruh manusia untuk berperan di ranah publik. Tak ada satupun ayat dalam al-Quran yang mendiskriditkan peran perempuan. Pemahaman ini melahirkan kebijakan pesantren yang ramah terhadap gender. Seperti tidak membeda-bedakan kemampuan kepemimpinan santri berdasarkan jenis kelamin, memberikan akses pendidikan dan kurikulum yang sama.

Hal lainnya, banyak kegiatan yang menggabungkan antara santri putra dan santri putri berdasarkan kebutuhan seperti dalam majlis kajian nahwu. Kurikulum yang diberlakukan memadukan antara sistem pendidikan umum dan diniyah. Sedangkan sistem mengaji dilakukan setelah sekolah diniyah. Dengan keyakinan yang dibangun itulah, dan dengan terus memohon petunjuk dari Allah SWT, beliau mampu memimpin pesantren dengan baik.

Beliau yakin bahwa perjuangan melalui jalur pendidikan sebagaimana yang beliau jalani saat ini tidak akan sia-sia. Beliau yakin beliau mampu memimpin sebagaimana yang dilakukan K.H Muhammad ataupun kyai-kyai lain. Beliau yakin bahwa berjuang di jalan Allah tidak melihat jenis kelaminnya. Dan beliau yakin semua manusia baik laki-laki dan perempuan diberi potensi yang sama untuk berjuang di jalan kebaikan semaksimal mungkin, sebanyak mungkin, Lii’laai kalimatillah.

 

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments