Monday, August 3, 2026

Suara Ibu Peduli: Gerakan Perempuan Indonesia Lahir Pasca Reformasi 

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Krisis ekonomi 1998 membuat harga kebutuhan pokok melambung, sementara pemerintah lebih sibuk mempertahankan kekuasaan daripada melindungi dan memenuhi hak-hak rakyatnya. Di tengah situasi krisis tersebut, sekelompok ibu-ibu—-mayoritas memiliki anak masa menyusui, yang kemudian menamai dengan “Suara Ibu Peduli (SIP)”—sangat terdampak karena harga susu formula melambung tinggi. Resah akan kondisi yang menghimpit, mereka memutuskan untuk demonstrasi turun ke jalan. 

Pada 23 Februari 1998, mereka turun ke Bundaran Hotel Indonesia dengan membawa isu kenaikan harga susu bayi sebagai sorotan utama. Isu yang tampak sederhana itu sejatinya menjadi pintu masuk untuk menyuarakan kritik terhadap otoritarianisme yang kaku di zaman orde baru.

Aksi SIP bukanlah gerakan spontan, melainkan hasil dari rangkaian pertemuan dan diskusi yang berlangsung sejak November 1997 di Yayasan Jurnal Perempuan. Gagasan awal demonstrasi muncul ketika Gadis Arivia berdiskusi dengan Nur Iman Subono, Karlina Leksono Supelli, serta Eun Sook, seorang rekan asal Korea. Dari obrolan itulah ide aksi kemudian berkembang menjadi sebuah gerakan perempuan.

Untuk menghindari pengawasan aparat, pertemuan mereka diberi kode “latihan aerobik.” Cara cerdik ini mencerminkan strategi cerdas dengan  menggunakan identitas “ibu” dan persoalan ekonomi rumah tangga seperti harga susu bayi agar kritik tidak langsung dianggap sebagai ancaman politik. Persiapan semakin matang ketika pada 13 Februari 1998 mereka mengundang sejumlah aktivis perempuan ke Kantor Yayasan Jurnal Perempuan di Gedung BOR Megaria. 

Sekitar 15 orang hadir, di antaranya Myra Diarsi, Julia Suryakusuma, Tati Krisnawaty, Salma Safitri, Umi Lasminah, dan Robin Bush, seorang mahasiswa asal Amerika Serikat. Pertemuan tersebut kembali menggunakan kode “aerobik” agar tidak tercium aparat, dan kode itu terus dipakai setiap kali mereka mengadakan rapat.

Bundaran HI dipilih sebagai lokasi strategis untuk melakukan aksi. Kala itu SIP menuntut pemerintah yang tidak memperhatikan rakyat kecil. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia, desak SIP, mestinya jadi perhatian utama pemerintah. Dalam aksinya di gunakan juga poster, bunga, dan orasi yang bahkan dibagikan kepada ABRI. Simbol kasih yang mereka tampilkan menjadi cara lain untuk menantang kekuasaan melalui aksi perlawanan nirkekerasan.

Aksi tersebut hanya berlangsung setengah jam, namun rezim merespon dengan menangkap dan menginterogasi tiga aktivis utama SIP yaitu Karlina Leksono Supelli, Gadis Arivia, dan Wilasih. Meski akhirnya mereka dilepas kurang dari sehari, langkah represif itu justru memperlihatkan ancaman terhadap masyarakat sipil dan ketakutan pemerintah terhadap suara perempuan. Ini juga memperlihatkan bahwa area domestik dan personal bisa menjelma menjadi arena  politik yang efektif. Personal is Political.

 

Agensi Suara Ibu Peduli Memotivasi Gerakan Kelompok Muda

Satu hal yang sering terlupa dari narasi reformasi adalah peran Suara Ibu Peduli (SIP). Aksi mereka pada Februari 1998 mendahului demonstrasi mahasiswa yang lebih sering disebutkan dalam sejarah. 

Dengan turun ke jalan lebih awal, SIP membuka ruang keberanian yang kemudian diperkuat oleh gelombang mahasiswa. Ketika aksi mahasiswa memuncak, para ibu kembali hadir membagikan nasi bungkus dan hadir sebagai “ibu peduli,” sebuah dukungan yang memberi wajah lain pada gerakan pro-demokrasi di era reformasi.

Identitas “ibu” dan isu harga susu bayi dipakai sebagai tameng simbolik adalah ide jenius karena tidak tampak radikal, namun tetap menekan otoritarianisme. Simbol-simbol seperti penggunaan bunga, payung merah, kata “ibu” menjadi bahasa politik yang mampu meruntuhkan jarak psikologis antara demonstran dan aparat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa politik jalanan tidak selalu harus lahir dari konfrontasi keras, tetapi ia bisa tumbuh dari rasa empati.

Namun, perjalanan demokrasi pasca reformasi memperlihatkan kenyataan lain. Dua dekade lebih berlalu, harga kebutuhan pokok masih menekan rakyat, perempuan vokal tetap menghadapi stigma sosial, dan aparat sering merespons kritik dengan represi. Apakah demokrasi di Indonesia hanya bisa hidup lewat demonstrasi jalanan, atau ada ruang lain untuk membangun politik yang lebih partisipatif dan bermakna?

Dalam konteks ini, suara ibu menjadi pengingat penting. Demokrasi seharusnya menjamin ruang aman bagi kelompok yang paling rentan bukan hanya untuk berganti rezim, tetapi untuk memastikan bahwa kritik, kepedulian, dan perbedaan dapat hidup tanpa ancaman. Demokrasi berarti mendengar semua suara kelompok tanpa terkecuali. Melibatkan partisipasi perempuan dan kelompok rentan lainnya.

 

Pembelajaran dari SIP 

Dari SIP, kita belajar setidaknya tiga hal penting. Pertama, politik perempuan dapat efektif mendorong kebijakan atau sistem negara. Dalam konteks SIP, sosok ibu merepresentasikan narasi kehidupan, harapan, rasa aman, dan masa depan—simbol yang sulit diserang tanpa melukai nurani kemanusiaan. 

Kedua, aktivisme membutuhkan strategi naratif yang mampu menghubungkan persoalan sehari-hari dengan isu yang lebih besar. Susu bukan sekadar simbol ekonomi rumah tangga, tetapi menjadi bahasa bersama untuk mengungkap ketidakadilan struktural. 

Ketiga, perubahan tidak selalu lahir dari konfrontasi. Di tengah budaya politik yang maskulin dan penuh pertentangan, SIP menunjukkan bahwa ketegasan dapat berjalan beriringan dengan empati, kasih sayang, dan perdamaian melalui perlawanan tanpa kekerasan.

Semangat itulah yang perlu terus kita rawat hingga hari ini. Di tengah berbagai tantangan demokrasi dan menyempitnya ruang sipil, pengalaman SIP mengingatkan bahwa perubahan sosial tidak hanya lahir dari kekuatan politik, tetapi juga dari keberanian merawat kehidupan, membangun solidaritas, dan menghadirkan harapan.

 

Daftar Pustaka 

Historia. (2018). Kala Ibu Bersatu. https://www.historia.id/article/kala-ibu-bersatu-6jJWd

Jurnal Perempuan. (n.d.). Demonstrasi Suara Ibu Peduli = Demonstrasi Anti Rezim Otoriter. https://www.jurnalperempuan.org/demo-suara-ibu-peduli.html

Tempo. (2025). Arsip Tempo: Mengenal Suara Ibu Peduli, Gerakan Perempuan Melawan Rezim Soeharto. Tempo.co. https://www.tempo.co/politik/arsip-tempo-mengenal-suara-ibu-peduli-gerakan-perempuan-melawan-rezim-soeharto–1225833

 

Nazwa Davega
Nazwa Davega
Nazwa Davega adalah penulis muda yang memiliki minat besar pada isu-isu keamanan non-tradisional seperti kesetaraan gender, perubahan iklim, serta dinamika politik dan kerja sama internasional. Lewat tulisan, Nazwa aktif mengangkat narasi-narasi yang menyoroti peran perempuan, tantangan global, dan pentingnya pendekatan inklusif dalam membangun perdamaian dan keadilan sosial.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha