Friday, May 29, 2026

Fanny Chotimah dan Dialog Antargenerasi dalam Film Penyintas ‘65 ‘You and I’

Editor: Yuyun Khairun Nisa

Film merupakan salah satu media yang bisa digunakan untuk menanamkan nilai, memberikan perspektif baru, memberikan pengetahuan, inspirasi, hiburan, dan memunculkan topik untuk didiskusikan dengan orang terdekat.

Selama ini, peristiwa tragedi 1965 merupakan sejarah yang terus ditutupi di negara ini, sejak Orde Baru. Saat itu, Orde Baru yaitu rezim Soeharto pun dengan sistematis memproduksi film yang diputar rutin setiap 30 September yang narasinya berpihak kepada penguasa bernama G 30S PKI (Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia) . 

Saya ingat, sewaktu sekolah dasar bahkan sempat ada agenda nobar (nonton bareng) film tersebut di bioskop terdekat di daerah saya. Anak-anak yang tahunya hanya ‘nonton gratis di bioskop’ pun sangat antusias menonton film tersebut tanpa tahu makna sebenarnya. Naasnya, mereka yang belum tahu justru malah terpapar oleh propaganda dan fitnah seksual kepada tapol ‘65 sejak dini. Orang-orang tua pun mengamini dan bercerita dari mulut ke mulut kepada anak-anaknya tentang kejahatan para tahanan politik (tapol) ‘65 dan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia).

Fanny Chotimah, seorang sutradara dan produser asal Solo, tergerak memproduksi film merekonstruksi dan memberikan narasi tandingan film G 30S PKI melalui sebuah film berjudul ‘You and I’. Film yang digagas pada 2020 ini bercerita tentang kehidupan masa tua tapol perempuan ‘65. Berkat karyanya yang berusaha merebut sejarah bangsa ini, film tersebut mendapatkan penghargaan dalam ajang Copenhagen International Documentary Festival 2021, salah satu festival film bergengsi di Eropa.

Kaminah dan Kusdalini merupakan dua perempuan pemeran film yang melakoni bermacam adegan seperti aktivitas sehari-hari, wawancara, interaksi, dan gurauan. Sebagai penyintas ‘65, mereka hidup menanggung stigma, nasibnya terabaikan, dan hak-hak mereka tidak diberikan.

Fanny memotret kehidupan Kaminah dan Kusdalini dalam film dengan riset observasi mendalam untuk menyajikan informasi yang kredibel, fakta baru, dan mempersilahkan penyintas untuk bebas mengekspresikan keseharian apa-adanya. Hal tersebut tak lepas dari karakter sang sutradara, Fanny yang memiliki perspektif HAM (Hak Asasi Manusia) dalam menggarap film-filmnya.

Film ‘You and I’ berusaha memotret perspektif penyintas agar masyarakat Indonesia tidak terjebak terhadap narasi tunggal ala Orde Baru yang disebarkan, diwariskan, dan tertanam kuat. Hadirnya perspektif baru mengenai peristiwa-peristiwa sejarah penting agar bisa lebih adil dengan berpihak pada korban dalam memandang suatu peristiwa dan kejadian.

Selama proses riset, Fanny juga menghadirkan kamera dan peralatan film agar Kaminah dan Kusdalini terbiasa dengan alat-alat asing tersebut. Kusdalini mengidap dimensia, sehingga beberapa kali perlu dijelaskan dan disiasati dengan menaruh tulisan tentang tujuan mereka mengabadikan dalam film.

Fanny sebagai orang muda juga melakukan interaksi dengan tulus dan penuh kasih sayang, intens dengan kedua penyintas tersebut. Ia menganggap mereka sebagai nenek sendiri. Kedekatan, membangun relasi, disiplin, komitmen, konsistensi, dan obrolan itu menimbulkan kepercayaan, saling mengasihi, dan dialog antar generasi yang berbeda latar belakang.

Ide dan kisah pertemuan antara Fanny dengan dua penyintas yang sudah lansia itu berawal dari buku foto ‘Sang Pemenang Kehidupan’ karya Adrian Mulya. Perempuan Solo tersebut pun merespons foto tersebut dengan karya film dokumenter. Fanny pun menyebut Kaminah dan Kusdalini dengan sebutan ‘penyintas’ dan ‘protagonis’, bukan korban karena menurutnya, mereka punya martabat.

Banyak tantangan ketika memproduksi film ‘You and I’, seperti tiba-tiba Kusdalini sakit stroke dan dirawat inap, kepekaan terhadap kebutuhan kesehatan penyintas, hingga kebingungan akan membawa dan membuat film ini ‘seperti apa’. Fanny pun memutuskan untuk menggabungkan antara wawancara, keseharian, obrolan ringan yang jujur dan hangat antara Kaminah dan Kusdalini, seperti saling melengkapi.

Fanny berharap dengan dia dan tim memproduksi film ‘You and I’ ini bisa memberikan perspektif berbeda, topik diskusi yang lebih beragam, memberikan empati kepada penonton dan orang-orang di sekitar. Mengakui pengalaman korban sebagai pengetahuan yang valid dan otoritatif, sehingga sejarah tidak lagi hanya dimiliki segelintir orang demi mempertahankan kekuasaan. 

 

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha