Editor: Yuyun Khairun Nisa
Perempuan adat Papua menjadi kunci pengelolaan sumberdaya alam yang berkontribusi secara signifikan dalam budaya tradisional. Para perempuan inilah kemudian menjadi jantung kehidupan Papua yang mengupayakan dan mempertahankan tradisi, memperjuangkan kelestarian hutan, dan menggerakkan kesejahteraan komunitas melalui inovasi berkelanjutan dari alam. Hutan lebat Papua Barat yang dihuni oleh sekelompok perempuan adat beresiliensi mengubah buah pala menjadi komoditas bernilai tinggi yang kini dilirik oleh industri parfum dunia.
Kontribusi perempuan dalam pelestarian memainkan peran sentral dalam eksistensi budaya, tradisi, dan alam yang saling menguntungkan dan membutuhkan. Jurnal berjudul Diverse Role of Women for Natural Resource Management in India yang ditulis oleh Surabhi Singh dan Sunita Dixit menjabarkan bahwa peran perempuan lebih besar dalam pengelolaan sumberdaya alam, termasuk dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Maka, pengabaian peran perempuan dari sumber daya akan berdampak besar pada menurunnya fungsi aset alam.
Dalam undang-undang otonomi khusus menyebutkan bahwa penyelenggaraan pemerintahan yang baik diwujudkan dengan partisipasi rakyat sebesar-besarnya. Perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan pembangunan mengikutsertakan wakil adat, agama, dan kaum perempuan. Penghormatan yang disematkan kepada perempuan yakni “dialah sang noken, dialah sang burung cenderawasih, dialah pembuka pintu kehidupan”, menjadi penanda pentingnya perempuan di kehidupan Tanah Papua.
Kisah perempuan adat Papua yang dipimpin oleh Mama Siti dalam membangun inovasi berkelanjutan dari pohon pala menjadi upaya menjaga warisan leluhur dan memberdayakan anggota komunitas. Meski begitu, masih banyak pula perempuan adat yang terpinggirkan dan belum mendapat pengakuan akan hak-hak mereka atas penjagaan alam yang menjadi kekuatan sumber daya mereka.
Sebagaimana kisah Iin Hokey, salah satu perempuan Suku Pamona yang merawat dan menjaga Danau Poso melalui ritual Megilu dalam menghadapi penggusuran Jembatan Tua Pamona. Ritual Megilu sendiri merupakan ritual harmonisasi antara praktik memohon pertolongan Tuhan melalui doa dengan cara-cara tradisi adat Pamona. Dengan ini, masyarakat adat masih dilihat hanya sebagai penghuni area tertentu, alih-alih kita menyadari bahwa menempatkan mereka sebagai subjek dan agen perubahan dalam adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Mama Siti dan Pala Suku Fakfak
Perkebunan pohon pala yang bertempat di hutan desa dusun pala, Desa Pangwaar, Kecamatan Kokas, Kabupaten Fakfak, Papua Barat menjadi komoditi yang menguntungkan dari inovasi berkelanjutan yang ramah lingkungan menghasilkan industri parfum bernilai tinggi. Proses dan hasil yang menguntungkan tersebut merupakan upaya kolektif para perempuan adat. Dengan kerja-kerja yang ramah lingkungan dan tak merugikan lingkungan, perempuan adat Papua menjadi agen inovator yang sangat mengindahkan tradisi dan alam di dalamnya.
Dipimpin oleh Mama Siti, 52 tahun, para petani perempuan memiliki peran dan kontribusi besar dalam mempertahankan tradisi, memperjuangkan kelestarian hutan, dan meningkatkan kesejahteraan komunitas melalui inovasi berkelanjutan. Selain memimpin kelompok tani perempuan, Mama Siti juga menjadi dewan pengawas anggota koperasi yang dipimpin oleh perempuan adat di Papua Barat. Mama Siti menjadi teladan petani perempuan menerapkan keterampilan dan ketelatenan serta memimpin perempuan dalam mengolah pala menjadi produk siap jual. Sekitar 118 petani perempuan ikut berkontribusi dalam kerja-kerja membersihkan buah pala, memisahkan daging dan bijinya, lalu menjemurnya di bawah sinar matahari.
Mama Siti dan perempuan adat Papua menjadi representasi penguatan industri lokal yang berimbang dengan pelestarian alam maupun tradisi. Dalam jurnal berjudul Perempuan Berdaya: Memperkuat Peran Perempuan dalam Budaya Tradisional yang ditulis oleh Jenjen Zainal Abidin, dkk menjabarkan lima kontribusi penting perempuan dalam menjaga dan meneruskan budaya. Pertama, perempuan berkontribusi dalam pemelihara budaya dengan menjaga prakti-praktik tradisional, pengetahuan budaya, cerita rakyat, dan kearifan lokal. Kedua, perempuan sebagai penerus budaya yang memainkan peran penting dalam meneruskan budaya kepada anak-anak dan anggota muda komunitas.
Ketiga, perempuan sebagai pelaku budaya aktif terlibat dalam kegiatan budaya dan menjadi pelaku utama praktik budaya tradisional. Keempat, penjaga keseimbangan budaya dalam menjaga keseimbangan dan harmoni dalam budaya tradisional. Mereka melibatkan diri dalam penjagaan norma-norma sosial, etika, dan tata nilai budaya. Kelima, inovasi dan transformasi budaya. Perempuan memadukan aspek tradisional dengan perkembangan modern, menciptakan bentuk baru dalam kesenian, kerajinan, atau praktik budaya.
Pertahankan Tradisi, Perjuangkan Hutan, dan Perkuat ekonomi
Masyarakat adat termasuk petani perempuan memiliki kemampuan menafsirkan kondisi alam dan bagi mereka alam adalah ruang hidup yang sangat berarti. Sebagaimana dalam jurnal yang ditulis Zahrok & Suarmini bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan dalam menjaga relevansi budaya dalam konteks modern, mengembangkan kreativitas baru, dan menginspirasi generasi muda untuk menghargai dan meneruskan warisan budaya.
Tetapi sayangnya, payung hukum masih jauh. Negara belum memberi kebijakan dan pelaksanaan pembangunan berkelanjutan yang digembar-gemborkan pemerintah belum dilandasi partisipasi yang memadai dari masyarakat adat, terutama para perempuan.
Pohon Pala oleh masyarakat adat Fakfak dianggap sebagai “penjelmaan perempuan” di mana memang perempuan memainkan peran penting dalam menopang masyarakat. Makna kehidupan yang besar dari masyarakat adat Papua menggambarkan kekuatan hidup kolektif yang kuat terhadap alam. Rasa hormat dan kepedulian mendalam terhadap Pohon Pala Fakfak menciptakan tradisi unik terkait panen pala. Hal ini menunjukkan hubungan masyarakat adat Fakfak yang berkelanjutan dengan alam.
Dalam proses menuju panen, masyarakat adat Papua mengadakan perkumpulan untuk berdiskusi yang disebut dengan Wewowo. Mereka melakukan upacara secara simbolis dengan pakaian tradisional yang biasanya dikenakan oleh perempuan yakni “menggunakan” pohon pala dengan kebaya.
Sekilas kisah Mama Siti dan perempuan adat Papua adalah salah satu dari banyaknya kisah perempuan adat di Indonesia yang juga tak tinggal diam dalam melestarikan tradisi, menjaga kelestarian tanah dan alam, pewarisan generasi, dan penguatan ekonomi di dalamnya. Sama halnya dengan perjuangan “Mama” (panggilan umum perempuan dewasa di Papua) di Kabupaten Keerom, Papua, dalam memprotes aktivitas Perkebunan.
Masyarakat adat Papua memiliki keterhubungan dengan alam dan perubahan iklim yang dapat menarik kembali sejarah dan cara tradisional dalam menjaga dan mempertahankan ruang hidup. Masyarakat adat menjadi kelompok kolektif yang menerapkan praktik terbaik dalam mempertahankan ekosistem alam.







