HomeCerita“Kalau Bukan Tetangga, Siapa Lagi yang Mau Menolong”: Cerita Mobilisator Perempuan Memenangkan...

“Kalau Bukan Tetangga, Siapa Lagi yang Mau Menolong”: Cerita Mobilisator Perempuan Memenangkan Hati dan Pikiran Tetangga

“Kita sama-sama orang gak punya, mendingan kita tingkatkan jiwa sosial dari sedikit menolong orang.” Kalimat sederhana ini keluar dari seorang perempuan bernama Rohimah, ibu beranak dua, asli Betawi, dan telah lama menghuni salah satu kontrakan di Kampung Sawah, Kelurahan Pondok Bambu. Saya mengenalnya sejak tahun 2007. Pembawaannya kalem, sederhana, sabar, dan konsisten menjalankan misi kemanusiaannya untuk menolong sesama. Darinya saya belajar bahwa nilai peacebuilding itu dipraktekkan dan dihidupi. Salah satunya adalah menolong orang lain. Menurutnya menolong tidak perlu menunggu kita menjadi kaya terlebih dahulu. Bukan seberapa uang yang kita berikan untuk menolong orang lain, tetapi seberapa besar hati dan cinta kita selalu ada untuk orang-orang yang ada di sekitar kita, manakala mereka membutuhkan.

Rohimah seorang mobilisator yang handal. Dia bukanlah tipe pemimpin yang memiliki retorika yang indah saat bicara. Mampu membuai banyak orang dengan jargon-jargon pemberdayaan perempuan ataupun kesetaraan gender. Sebaliknya, dia bicara seperti kebanyakan perempuan di Pondok Bambu; lugas, tenang, kalimat pendek-pendek. Setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya, bagi saya mengandung nilai-nilai perdamaian yang bisa menggerakkan orang lain.

Meskipun sejak awal program AMAN Indonesia didesain untuk menjadikan perempuan biasa menjadi luar biasa. Mereka disiapkan untuk memiliki sejumlah kualitas kepemimpinan perempuan. Tetapi lompatan yang dilakukan Rohimah dan teman-teman SP, sungguh membanggakan. Betapa tidak, dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Rohimah berhasil menjadi sosok pemimpin (kultural) yang tidak saja diakui oleh masyarakatnya, tetapi sangat dihormati dan disegani di jajaran kelurahan. “Sedikit sedikit bu Rohimah,” demikian suara-suara cemburu sering terdengar ketika Pak Lurah meminta stafnya untuk menghubungi Rohimah dan Sekolah Perempuan.

Bukan tidak berdasar, jika banyak orang menggantungkan kepercayaan pada Rohimah dan kawan-kawan di SP. Tiga tahun setelah ditempa dalam kelas-kelas SP, mereka sudah menggeliat dan mulai aktif membantu kegiatan sosial kemasyarakatan. Mereka mulai membantu kegiatan Posyandu, PAUD, Jumantik, pendataan warga, dan bahkan membantu banyak keluarga mendapatkan Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Sehat (JKS). Mereka dipuji karena cekatan, dapat dipercaya dan hasil pekerjaan yang maksimal.

Seni Memimpin di Saat Krisis: Bukan Retorika, Tapi Bukti

Ciri pemimpin yang berhasil adalah mampu menggerakkan orang lain untuk sebuah perubahan yang dia agendakan. Agak sulit menemukan resep baku menjadi pemimpin yang baik. Meskipun bisa dijelaskan secara normatif, tetapi secara detil, setiap pemimpin yang handal memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Itu yang disebut seni memimpin. Rohimah memiliki seni memimpin yang unik dan khas perempuan perdamaian.

Dia adalah mobilisator yang handal. Peran sebagai mobilisator memang harus dimiliki oleh seorang pemimpin, baik menggunakan narasi, organisasi, maupun aksi-aksi individu yang dianggap menyentuh. Kesuksesan Rohimah dalam membuktikan kepada tetangganya adalah mendorong kedua anak perempuan memiliki pendidikan tinggi. Keduanya juga mandiri secara ekonomi. Ini disebut sebagai keberhasilan yang patut diteladani. Belum lagi pembuktian yang lain, seperti kepedulian kepada keluarga-keluarga yang sedang menjalani isolasi mandiri, korban kekerasan terhadap perempuan, orang tua yang tidak mendapatkan program bantuan tunai dan non tunai dari pemerintah seperti PKH, BPJS, KJP, dan kelompok-kelompok marginal lainnya.

Sejak Indonesia dilanda Covid 19. Rohimah dan para ibu di Sekolah Perempuan didaulat menjadi bagian dari tim Satgas Covid 19 di tingkat RW. Tugas mereka diantaranya adalah melakukan verifikasi data kelompok rentan dan marginal, memastikan keluarga yang membutuhkan masuk di dalam daftar penerima bantuan, melakukan penyaluran bantuan, dan termasuk mobilisasi dukungan warga untuk para tetanggnya yang sedang menjalani isolasi mandiri. Keberadaan SP di
dalam tim banyak mengubah cara pandang para laki-laki yang selalu berpikir bantuan itu masker. Padahal ada banyak jenis bantuan yang dibutuhkan oleh orang tua misalnya makanan bergizi, susu, atau obat-obatan. Banyak keluarga yang membutuhkan popok bayi, susu bayi, dan dukungan buat balita. Ini semua perlu terus diingatkan di dalam rapat-rapat tim Satgas.

Gelombang kedua Covid 19, semakin membuat tugas-tugas Satgas Covid 19 tidak mudah lagi sekedar menyebarkan bantuan. Tantangan terberat dalam menangani situasi krisis gelombang kedua (ditandai berkembangnya virus Delta) ini adalah harus berhadapan dengan warga yang memiliki karakter sulit. Mereka adalah warga yang memiliki tingkat literasi rendah dan lebih percaya kepada berita fitnah. Khususnya berita yang menjelek-jelekkan pemerintah dan isu konspirasi seputar Covid 19. Ada pula warga yang tertutup sehingga tidak melakukan komunikasi dengan pihak lain. Prilaku sulit termasuk warga yang mampu tetapi tidak mau berbagi. Jelas, itu semua membutuhkan seni memenangkan hati dan pikiran mereka. Ada sejumlah taktik yang dipakai Rohimah dan SP untuk menggerakkan warga, diantaranya adalah;

Pertama, istiqomah berubah pada diri sendiri dan keluarga menuju kesetaraan gender dan resilien terhadap konflik dan ancaman kekerasan. Ini merupakan bahan utama untuk menggerakkan masyarakat. Adalah diri kita menjadi contoh. Itu artinya semua anjuran dan ajakan untuk mengarah kepada masyarakat, harus dijalankan terlebih dahulu oleh seseorang dan keluarga. Misalnya kabar semakin banyak anak-anak perempuan mengenyam pendidikan tinggi telah dikenali oleh masyarakat. Mereka adalah anak-anak dari para ibu yang mengikuti Sekolah Perempuan. Mereka mengikuti jejak Rohimah yang mengantarkan kedua anak perempuan ke bangku perguruan tinggi. Selain belajar, anak-anak ini juga bekerja untuk membayar biaya kuliah mereka. Maka, ketika Rohimah mengkampanyekan pencegahan perkawinan anak, banyak warga yang mengamini. Termasuk, ketika dia bicara dengan anak-anak muda yang sering nongkrong di post depan rumah Ciptaning tentang dampak perkawinan anak, sejumlah anak-anak mendengarkan dengan seksama dan mengamini.

Tidak hanya mengubah anak, dalam perjalanan kepemimpinan Rohimah, suaminya, Sirto juga mengalami sebuah perubahan dalam cara berpikir dan bertindak. Bagi Sirto melakukan pekerjaan seperti mencuci, membersihkan rumah, membuat kopi, atau pekerjaan rumah yang lainnya, adalah upaya untuk menjaga agar istri tidak sakit dan juga meningkatkan rasa tanggungjawab pada semua anggota keluarga. Semua perubahan itu sering dia ceritakan sambil saat ngopi bersama dengan para tetangga.

Kedua, kemiskinan tidak menghalangi untuk menolong sesama. Banyaknya keluarga yang menjalani isoman, mendorong semakin sering Rohimah meminta sumbangan dari warga. Ini dia lakukan bukan sekedar untuk meringankan beban keluarga yang sedang menjalani isoman. Tetapi, Rohimah melihat penting gotong royong selalu dipakai untuk mengatasi krisis. Jika jiwa- jiwa penolong tumbuh di kampungnya, maka akan lebih mudah keluar dari masalah. Dalam situasi pandemi, perhatian tetangga dengan memberikan sumbangan dapat membangun ikatan balas budi antara yang ditolong dengan yang menolong. Jika ini terjadi secara terus menerus, maka akan tercipta sebuah budaya baru di masyarakat kita bahwa tolong menolong akan memperkuat bangunan resiliensi di masyarakat.

Ketiga, mobilisasi sumbangan untuk memelihara empati kemanusiaan. Meskipun bantuan beras dan beberapa sembako diberikan oleh pemerintah daerah kepada para keluarga yang menjalani isolasi mandiri, tak menyurutkan Rohimah dan ibu-ibu SP untuk menarik sumbangan dari satu pintu ke pintu. Tujuannya adalah memelihara budaya tolong menolong. Bagi orang yang memberikan sumbangan kepada tetangganya, biasanya ada perasaan iba dan peduli menguat. Apalagi jika disentil dengan narasi “kalau bukan kita tetangganya, siapa lagi yang akan membantu”. Tetapi bagi yang menerima bantuan, secara psikologis merasa senang diperhatikan tetangga, dan kebutuhannya terpenuhi. Selain itu, keluarga yang ditolong semasa kesulitan, maka akan juga menolong orang lain yang sedang kesulitan. Ini yang disebut banyak orang “efek kebaikan adalah berbuat baik”.

Keempat, memilih waktu yang tepat. Jam 4 sore adalah waktu yang tepat buat Rohimah dan tim SP untuk berjalan ke rumah-rumah warga untuk mengumpulkan sumbangan. Menurutnya saat sore hari, warga biasanya dalam kondisi santai. Mereka sedang beristirahat dari rutinitas. Para ibu juga tidak perlu khawatir pengurangan uang belanja untuk menyumbang akan membuat


kebutuhan makan hari itu tidak cukup. Bahkan dijelaskan oleh Rohimah, meminta sumbangan sore hari, banyak berhasilnya karena uang sisa belanja tersedia. Meskipun itu 2000-5000 rupiah, biasanya perempuan tidak segan untuk menyumbang.

Keenam, bicara dengan istri bukan suami. Perempuan adalah pengelolah uang belanja keluarga. Maka bicara dengan para istri terkait sumbangan, lebih realistis. Banyak perempuan berpikir memberikan sumbangan, sebagai bagian dari sodaqah, dimana diyakini akan menghindarkan mereka dari Covid 19. Tapi juga karena terpengaruh narasi yang disosialisakan oleh Rohimah dan teman-teman SP, yaitu “Bu minta sumbangan ya. Seberapapun. Bayangkan kalau kita yang sakit di Rumah Sakit”. Menurut Rohima banyak ibu-ibu yang tergerak untuk menyumbang, karena mereka membayangkan kalau sakit sendiri pasti banyak biaya. Maka, sebagai ucapan syukur mereka cukup menyumbang bagi yang sakit. Buat para ibu dengan kehidupan yang pas-pasan, menyumbang tentu tidak memiliki alokasi uang khusus. Ini biasanya diambilakn dari uang sisa belanja.

Fakta lain bahwa perempuan memiliki rasa empati yang besar untuk menyelamatkan kehidupan. Sehingga meskipun dia dalam kondisi kekurangan, tetap diusahakan menyumbang. Rohimah juga tidak pernah memaksa kepada warga, karena sadar betul bahwa para tetangganya juga hidup pas pasan. Tetapi, pendekatannya yang pelan-pelan dan sangat nyaman buat banyak perempuan, membuat mereka tergerak mengeluarkan uang sisa belanja untuk tetangganya. Setelah terkumpul tim SP bisa mendapatkan 400.000 rupiah. Sebuah jumlah yang fantastis hasil keringat banyak keluarga.

Ketujuh, watak pelit dibalas dengan kebaikan. Tidak sedikit sejumlah orang yang sulit untuk memberikan sumbangan, meskipun mereka dipandang mampu. Padahal harusnya mereka yang lebih banyak menyumbang saat tetangganya kesusahan. Rohimah dan tim, tetap saja mengetuk pintu meskipun hasilnya nihil. Rohimah terus memotivasi timnya untuk tidak patah semangat. “Besok kalau ada apa-apa, kita bantu dia. Agar dia bisa merasakan bahwa warga peduli. Juga sekalian bisa kita tunjukkan bahwa orang kaya dibantu orang miskin”. Sebuah motivasi positif untuk tidak memelihara dendam.

Keempat, akses pada sumber informasi utama. Risiko yang paling sering diterima oleh Rohimah adalah komplain dan caci maki dari sejumlah orang yang tidak sabar mendapatkan bantuan. Tim Rohimah memiliki akses langsung dengan Dinas Sosial. Sehingga memungkinkan mereka secara berkala memberikan masukan tentang data penerima bantuan. Mendekati akses utama yaitu Dinas Sosial adalah pendekatan yang sangat cerdas. Data adalah kunci. Maka dengan intervensi data, Rohimah berharap bisa menolong lebih banyak lagi para tetangga yang statusnya kurang mampu atau kateri kelompok rentan.

Situasi berat yang dihadapi tim SP adalah ketika nama seseorang tidak lagi menjadi penerima manfaat program Dinsos. Ini biasanya dari asesmen Dinas Sosial, orang tersebut masih dianggap memiliki penghasilan baik dari pihak suami maupun anak-anaknya. Meskipun realitasnya tidak semua seperti itu. Maka tugas Rohimah dan tim SP memastikan bahwa Dinsos mendapatkan informasi terkini tentang para penerima program PKH.

RELATED ARTICLES
Continue to the category

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

Recent Comments