Editor: Yuyun Khairun Nisa
Seperti sungai yang menolak dibendung, keilmuan sejati menuntut ruang gerak yang lapang. Tidak untuk dikurung dalam kolam-kolam poin dan koin, tapi untuk mengalir – memberi kehidupan pada gagasan-gagasan yang menanti untuk dihidupi—Latifah
Berprofesi sebagai dosen Sekolah Tinggi Agama Buddha (STAB) Kertarajasa, Latifah bukan berasal dari keluarga Buddhis. Lahir sebagai muslim, masa kecilnya dilewati melalui belajar agama di madrasah, selain bersekolah formal.
Kesenangannya sejak kecil yang menonjol ialah seputar membaca dan menulis. “Saya pernah diantar papa ikut pelatihan jurnalistik islami. Cuma diantar saat seleksi. Sebagai yang paling muda, panitia berasumsi papa yang membuatkan esai bahan seleksi karena hampir semua peserta mahasiswa. Padahal ketika itu, saya mampu membuat esai tentang sejarah jurnalistik dakwah dari membaca koleksi buku jurnalistik kuno, entah punya tante atau papa.”
Keaktifan Latifah ikut ROHIS saat SMA pun, membuatnya ikut kelompok-kelompok kajian dan pengkaderan, meski seorang diri tidak berjilbab saat beraktivitas. Keterlibatannya dalam keorganisasian berbasis agama saat remaja, memberi pengalaman berharga tentang pengembangan diri dan kepemimpinan.
Walaupun, dia mengakui ada saja kelompok yang memiliki aturan kaku, mengikat dan tidak banyak mendorong anggotanya untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Hal itu mendorongnya berkesadaran bahwa toleransi meski dalam kelompok maupun beragama yang sama, kadang masih sebatas jargon karena tidak disertai tumbuhnya nalar kritis dan empati satu sama lain.
Perjumpaan dengan Keberagaman
“Saya baru pertama kali bertemu dengan teman Buddha saat berkuliah di CRCS UGM. Itu pun mungkin karena prodinya lintas agama dan budaya. Kalau umat Hindu, saya punya teman SD dari Bali,” terang Latifah, mengingat kembali masa kecilnya. Di saat pengalaman keberagaman baru mulai dirasakannya, kepindahan tugas orang tuanya ke Poso, Sulawesi Tengah memberikan sebuah perspektif baru.
”Ketika konflik pecah, dan orang tua melihat sendiri dampak kekerasan di depan mata, saya menemukan bahwa sesama penganut agama pun bisa saling mencurigai karena berbeda aliran dan sudut pandang,” kisahnya.
Pemahaman itu mewarnai prosesnya selama berkuliah di CRCS UGM selama setahun, sebelum melanjutkan studi di Hawaii. Latifah pun terdorong untuk berpikir dan mengemukakan pendapat dengan kesadarannya yang lebih terbuka.
“Saya pernah berkesempatan mewawancarai kelompok perempuan berbasis keagamaan. Saya menghargai pilihan mereka tapi saya melihat banyak pilihan itu terjadi karena ikut-ikutan atau tidak berani berpikir secara mendasar sendiri. Saya sering prihatin masyarakat ada yang kurang berani berpikir sendiri atau menjadi pribadi yang otentik meskipun di era keterbukaan dan keleluasaan media digital untuk berekspresi. Kebanyakan keleluasaan itu malah membuat seseorang untuk larut dan ikut-ikutan dalam segala hal,” urainya panjang lebar.
Menjadi Dosen Muslim di Sekolah Tinggi Agama Buddha
Awalnya teman kuliah Latifah di CRCS yang mengajaknya menjadi dosen di STAB di Batu, Malang karena dibutuhkan dosen berlatar belakang Sastra Indonesia atau Pendidikan Bahasa Indonesia.
Sebagai lulusan S1 Sastra Indonesia UGM, lalu studi agama di CRCS UGM, serta berkesempatan S2 Kajian Asia di University of Hawaii, dengan tugas akhir kuliah Latifah hampir selalu berkaitan dengan studi agama; membuatnya memiliki kemampuan multidisipliner.
“Kampus lain pasti menetapkan syarat S1 dan S2 harus linear bahasa/sastra Indonesia untuk mengajar,” terangnya tentang proses menjadi dosen, meski tidak beragama Buddha. Selain mengajar Bahasa Indonesia (penulisan ilmiah), Latifah juga mengampu Kajian Agama-Agama dan mata kuliah umum lain.
Mendapat pasangan yang dulunya juga berkuliah di kajian agama, membuat suami Latifah bisa memahami karakteristik studi agama yang multidisipliner. Latifah juga terus mengembangkan diri agar bisa mengambil peluang lain seperti menulis dan menjadi reviewer buku, serta aktif terlibat dalam berbagai forum di luar STAB, sehingga tak hanya dilihat sebagai perempuan muslim di sekolah tinggi agama Buddha.
“Masyarakat mungkin heran sebentar, tapi tidak ada yang merespons secara negatif. Karena bagi saya pribadi mengikis kekotoran batin itu justru menjadi PR kita sebagai manusia, dibanding mempertanyakan keimanan manusia lain,” ujar Latifah.
Pekerjaan Rumah dalam Pendidikan Lintas Iman
Latifah menanamkan kepada mahasiswa pentingnya membangun portofolio dan skill agar siap menyambut kesempatan yang sering kali datang di tengah kesempitan. Sebagai contoh, ia mendorong untuk aktif mencari informasi di media sosial, termasuk dengan mempelajari ekspresi Dhamma di era digital. Rencana terdekat adalah mempresentasikan penelitian terbaru mengenai puisi Buddhis digital dalam sebuah Konferensi Internasional Kesusastraan pada Oktober 2025.
Dalam penelitian tersebut, Latifah mengkaji bagaimana puisi Buddhis di platform digital seperti blog dan media sosial telah berevolusi menjadi medium yang dinamis. Puisi-puisi ini tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi spiritual kontemplatif, tetapi juga sebagai sarana pendidikan Dharma, respons terhadap isu sosial kontemporer, dan ruang untuk menegosiasikan identitas keagamaan dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik.
Melalui pendekatan hermeneutika digital, penelitiannya menyoroti bagaimana fitur platform digital membentuk cara puisi berfungsi sebagai praktik ritual dan membangun komunitas, menciptakan apa yang dapat disebut sebagai “Dhamma yang terhubung secara jejaring” (networked Dhamma).
Sementara itu dalam keseharian di kampus, Latifah juga menginisiasi mata kuliah Penulisan Kreatif dengan tujuan anak muda Buddhis lebih percaya diri dan memiliki skill menulis kreatif sehingga keberagaman buddhis bisa lebih representatif di masa depan.
“Dengan skill kepenulisan kreatif, generasi muda Buddhis saya harapkan mampu memanfaatkan dan berbagi kekayaan ajaran dan nilai-nilai Buddhis yang bersifat universal ke masyarakat luas. Sebab, nilai-nilai buddhis sesungguhnya sumber inspirasi yang kaya untuk dikembangkan dalam pendidikan karakter secara lebih luas, bukan hanya di kalangan Buddhis saja,” tegasnya.
Melalui pendidikan, Latifah percaya bahwa benih-benih kasih sayang terhadap sesama manusia bisa disemai hingga memanen perdamaian. Mencegah konflik dengan membentuk paradigma atau sudut pandang terbuka terhadap kelompok berbeda.







