Editor: Yuyun Khairun Nisa
Membaca tulisan-tulisan Marianne Katoppo bagaikan menemukan kembali sebuah warisan intelektual yang lama tersembunyi. Dalam setiap pemikirannya, tampak keberanian yang luar biasa: keberanian untuk mengkritik sebuah institusi besar—gereja—yang justru menjadi bagian dari dirinya sendiri.
Ia tidak hanya mempertanyakan dogma, tetapi juga menantang cara berpikir yang membatasi perempuan di dalam struktur keagamaan dan sosial. Di sinilah letak keistimewaan Marianne: spiritualitasnya melampaui sekadar keyakinan religius, menjelma menjadi kesadaran kritis yang membebaskan.
Marianne tidak berhenti pada tahap memahami ketimpangan, melainkan berusaha menelusuri akar dari setiap persoalan yang menindas perempuan. Ketekunannya dalam menangkap apa yang keliru, lalu mengurai dan menantangnya secara sistematis, kerap membuat sebagian orang menganggapnya “perempuan histeris”.
Namun, sesungguhnya laku intelektual seperti itulah yang menunjukkan keberanian sejati seorang pemikir. Ia bukan hanya menulis untuk menggugah, tetapi juga untuk mengguncang kesadaran masyarakat yang telah lama terbiasa dengan tatanan patriarkal.
Kemampuannya melihat secara jernih dan mengkritisi institusi agama yang menjadi keyakinannya merupakan hal yang tidak mudah dicapai. Dibutuhkan kejernihan spiritual sekaligus keberanian intelektual untuk melakukan refleksi “ke dalam.” Pemikiran kritisnya menunjukkan bahwa iman dan akal tidaklah bertentangan, melainkan dapat berdialog secara setara.
Melalui tulisan-tulisannya, Marianne mengajarkan bahwa kesetiaan terhadap iman justru terletak pada keberanian untuk memperbarui pemahaman tentangnya. Inilah warisan spiritual sekaligus intelektual yang tak ternilai: keberanian untuk bersuara, berpihak, dan menolak tunduk pada ketidakadilan.
Sepak terjang Marianne juga merupakan bentuk nyata dari upaya dekolonisasi pemikiran. Ia tidak sekadar meniru konsep feminisme Barat, melainkan merumuskan teologi feminisme yang berakar pada konteks Asia dan keperempuanan Indonesia.
Dalam karya monumentalnya Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology (1980), Marianne mengajukan tafsir baru terhadap teologi yang selama ini didominasi oleh perspektif laki-laki dan Barat. Ia menegaskan bahwa pengalaman perempuan Asia—dengan segala penderitaan, kesetiaan, dan kasihnya—merupakan sumber teologis yang sahih. Dengan demikian, Marianne berhasil membuka ruang bagi lahirnya teologi yang lebih inklusif, membumi, dan kontekstual.
Warisan pemikiran Marianne bukan hanya pada gagasan, tetapi juga pada sikapnya. Ia memperlihatkan bahwa kerja intelektual bukan semata soal teori, melainkan juga soal keberanian moral. Dalam konteks masa kini, pertanyaan penting yang muncul adalah bagaimana melanjutkan estafet pemikiran kritis tersebut. Bukankah merawat, mempertahankan, dan menumbuhkan pemikiran adalah bagian dari “kerja perempuan”?
Namun, sebagaimana yang dialami Marianne, risiko bagi perempuan yang berani bersuara tetaplah besar. Label “tidak sopan”, “terlalu keras”, atau “histeris” masih sering dilekatkan pada perempuan yang menolak tunduk pada struktur patriarki. Bahkan, hingga kini, ketimpangan gender dan demonisasi terhadap suara perempuan bukannya mereda, tetapi justru menemukan bentuk-bentuk barunya.
Dalam perjalanannya, Marianne sempat dihadapkan pada kenyataan pahit. Karya-karyanya, khususnya Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology (1980), memicu kontroversi di kalangan Gereja Protestan Indonesia. Pandangannya tentang teologi feminis dianggap menyimpang dari tafsir dominan. Akibatnya, ia menghadapi penolakan dan keterasingan dari lingkungannya sendiri.
Menjelang akhir hayatnya, pada akhir 1990-an, Marianne memilih tinggal di Pamulang, Tangerang Selatan. Hidup sederhana bersama sekitar tiga puluh ekor kucing. Ia hanya bekerja sebagai pengajar, jauh dari hiruk-pikuk akademik dan dunia publik yang dahulu dikenalnya. Pada 12 Oktober 2007, di usia 64 tahun, Marianne meninggal dunia karena serangan jantung.
Meski hidupnya diwarnai keterasingan, Marianne tetap teguh pada keyakinan dan idealismenya. Sebelum meninggal, ia terus menulis dan melahirkan gagasan-gagasan penting tentang pembebasan perempuan, bahasa, dan teologi.
Baginya, dekolonisasi bukan hanya tentang politik atau budaya, tetapi juga tentang bahasa dan cara berpikir. Ia menolak padanan dan istilah Barat yang kerap mengaburkan makna asli pengalaman perempuan Asia. Melalui tulisan-tulisannya, ia mengingatkan pentingnya menggali identitas keperempuanan yang otentik—bukan hasil adopsi atau imitasi, melainkan lahir dari sejarah, spiritualitas, dan kebudayaan kita sendiri.
Pemikiran Marianne kemudian menjadi inspirasi bagi banyak akademisi, teolog, dan aktivis perempuan di Indonesia maupun Asia. Warisannya diteruskan melalui jurnal, esai, serta penelitian interdisipliner yang menggabungkan teologi, sastra, dan politik. Kesadaran berorganisasi dan kerja kolektif yang pernah ia bangun juga mengilhami generasi baru dalam meretas pandangan kolonial dan patriarkal yang masih bercokol di berbagai bidang kehidupan.
Di luar dunia intelektual, kehidupan pribadi Marianne pun mencerminkan keteguhan sikapnya. Ia memilih untuk tidak menikah, bukan karena menolak cinta, melainkan karena lebih memilih kebebasan berpikir dan berkarya. Dengan nada humor, ia pernah berkata bahwa dirinya “tidak laku”. Namun di balik kelakar itu, tersimpan kesadaran mendalam tentang pilihan hidup seorang perempuan yang menolak dikurung oleh norma sosial.
Menjelang akhir hidupnya, ia sempat mengaku merasa kesepian dan merindukan Tomohon, tanah kelahirannya. Kesepian itu barangkali bukan sekadar kesendirian fisik, melainkan refleksi dari nasib banyak perempuan pemikir: dikagumi setelah tiada, tetapi diabaikan semasa hidupnya.
Marianne Katoppo memang bukan Marianne dari Republik Perancis, ikon revolusi abad ke-18, namun ia tetaplah seorang female warrior—pejuang perempuan—yang berperang bukan dengan pedang, melainkan dengan pena. Ia menulis bukan untuk menjadi populer, tetapi untuk menyalakan kesadaran.
Dalam setiap kalimatnya, tersimpan semangat perlawanan yang lembut namun tajam. Warisan pemikiran Marianne Katoppo hari ini tetap relevan: menjadi pengingat bahwa perjuangan perempuan belum selesai, dan keberanian untuk berpikir berbeda masih merupakan bentuk tertinggi dari cinta pada kebenaran.
Sumber:
Anny, A. H., Toelle, C., Karwayu, I., & Limono, L. (n.d.). Marianne Katoppo: Dekolonisasi Perempuan Asia dalam Teologi. Sekolah Pemikiran Perempuan. Retrieved October 5, 2025, from https://www.pemikiranperempuan.org/seri-pemikiran-puan/marianne-katoppo
Wijaksana, M. (2016). (Almh.) Marianne Katoppo: Yang Hampir Terlupakan dari Sastra Indonesia. Jurnal Perempuan. https://www.jurnalperempuan.org/tokoh-feminis/almh-marianne-katoppo-yang-hampir-terlupakan-dari-sastra-indonesia







