Editor: Yuyun Khairun Nisa
Puger terkenal sebagai wilayah penghasil ikan laut, dan mayoritas penduduknya merupakan komunitas nelayan yang menggantungkan hidup pada hasil tangkapan. Kehidupan di sana sangat bergantung pada hasil tangkapan ikan dari laut yang tidak selalu menentu. Di tengah masyarakat nelayan berlaku pepatah yang sangat umum: “ada ikan ada uang, enggak ada ikan sarung melayang.”
Praktik tersebut menggambarkan kerentanan ekonomi yang dihadapi para nelayan, yang mudah terjerat hutang. Mereka sering terjerat hutang besar kepada para pengambek atau juragan kapal yang menawarkan pinjaman. Pengambek ini akan menetapkan harga jual ikan yang merugikan nelayan, sehingga mereka sulit keluar dari lingkaran kesulitan finansial.
Kondisi tersebut diperparah dengan pandangan hidup yang kuat memegang nilai-nilai tradisional. Pandangan yang mengakar kuat di kampung nelayan seringkali meremehkan agensi perempuan dalam ruang publik.
Perempuan justru diharapkan untuk fokus sepenuhnya pada urusan rumah tangga dan merawat keluarga. Kondisi tersebut membuat aspirasi dan potensi kepemimpinan perempuan tidak mendapatkan ruang afirmasi yang cukup.
Noor Naba’iyah dan Sekolah Perempuan Perdamaian Puger Kreatif
Noor Naba’iyah, akrab disapa Noor lahir dan besar di lingkungan ini, merasakan betul naik turunnya perkembangan masyarakat dan budaya tersebut. Beliau sangat gelisah dengan budaya ekonomi yang membuat nelayan dan keluarganya terus terpuruk.
Dari kegelisahannya tersebut muncul dorongan kuat untuk menginisiasi perubahan melalui Sekolah Perempuan Perdamaian Puger kreatif (SPPK). SPPK hadir bagi masyarakat di sana. Kegiatan mereka diawali dengan kepedulian yang menyentuh hati banyak orang di sekitar Puger. Noor dan ibu-ibu anggota SPPK bahkan memikirkan kondisi anak-anak yang tinggal di wilayah sekitar lokalisasi.
Selain mengajar, mereka juga terlibat aktif mengurus anak-anak secara langsung. Terkadang orang tua yang bekerja hingga larut malam, tidak sempat memandikan anak-anak di pagi hari. SPPK mengisi kekosongan peran dan kebutuhan kasih sayang di sana dengan penuh keikhlasan.
Rasa welas asih yang dimiliki Noor dan timnya membuat mereka hadir dalam situasi sulit yang jarang disentuh oleh organisasi lain. Tingkat kepedulian sosial SPPK bahkan meluas ke wilayah yang kurang populer.
Konsistensi Melawan Pandangan Negatif
Noor dan ibu-ibu SPPK rutin menolong dan merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di sekitar kampung. Mereka melakukan tugas mulia memandikan dan memberi makan ODGJ secara teratur sebagai bentuk pelayanan. Aksi kemanusiaan tersebut menunjukkan tingkat pengorbanan dan kepedulian yang sangat tinggi terhadap sesama.
Di tengah tantangan dan sikap meremehkan dari sebagian pihak, Noor tetap konsisten menjalankan kelas-kelas reguler di SPPK. Proses belajar dan pemberdayaan di SPPK dipastikan terus berjalan tanpa henti. Ia selalu memberikan kata-kata penyemangat yang penuh energi positif kepada para anggotanya.
Kata-kata penyemangat tersebut bertujuan membangun optimisme dan kepercayaan diri perempuan dalam menggapai potensi mereka. Pesan utamanya adalah “Kita bisa melakukan segala sesuatu yang diusahakan bersama.”
Noor juga selalu sigap dalam memanfaatkan setiap kesempatan yang muncul untuk kemajuan komunitas. Salah satu contoh nyata dalam memanfaatkan peluang terjadi saat ada tawaran mengikuti Pasar Kita di Jember.
Meskipun lokasinya cukup jauh dari Puger, Noor segera memutuskan untuk terlibat aktif dalam acara tersebut. Pagi buta, rombongan ibu-ibu SPPK berangkat membawa produk-produk khas Puger untuk diperkenalkan. Momen tersebut menjadi langkah awal untuk memperluas jangkauan pasar dan mendapatkan jaringan baru bagi produk lokal mereka.
Batik Puger: Jalan Baru Peningkatan Ketahanan Ekonomi Komunitas
Kesempatan besar muncul saat Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menawarkan pelatihan membatik dengan dukungan permodalan. OJK menggandeng SPPK untuk mencari perempuan nelayan yang mau mengikuti pelatihan tersebut. Hal tersebut menjadi momen yang ditunggu-tunggu, kesempatan emas untuk menciptakan jalur pendapatan baru selain hasil laut.
Sekitar 75 orang, termasuk anggota SPPK, mengikuti pelatihan membatik itu dengan serius dan penuh semangat. Akhirnya tercipta Batik Puger yang memadukan desain batik Jember dengan kekayaan biota laut Puger sebagai motif utama.
Mereka bahkan bekerja keras mendatangkan mentor dari luar kota untuk berdiskusi menemukan motif khas Puger yang unik. Upaya kolektif tersebut menghasilkan Juara 2 tingkat kabupaten dalam lomba desain batik yang bergengsi. Pencapaian tersebut menjadi pengakuan atas kerja keras kolektif yang telah dilakukan oleh perempuan Puger. Kemenangan tersebut membuka pintu-pintu baru bagi SPPK untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan skala besar.
Dampak positifnya terlihat jelas ketika acara kursus membatik dan bantuan modal kembali diberikan, SPPK langsung yang menjadi pilihan utama untuk dilibatkan. Batik Puger juga mulai sering ditawari untuk berpartisipasi dalam pameran-pameran besar di daerah.
Pemesanan produk mulai membanjiri, bahkan pihak Kecamatan pun ikut memesan kain Batik Puger. Hal ini menunjukkan bahwa kerja keras perempuan Puger telah membuahkan hasil dalam bentuk peningkatan kepercayaan dan ekonomi.
Strategi Mengubah Hubungan dengan Pemerintah Lokal
Noor memiliki strategi cerdas dalam menghadapi kesulitan penerimaan dari desa. Awalnya, ketika pemerintah desa belum sepenuhnya membuka diri, Noor mengambil langkah untuk mendekati Pemerintahan Kecamatan. Ia dan timnya secara aktif menawarkan diri untuk membantu mensukseskan kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh kecamatan.
Strategi tersebut sangat efektif karena membantu menunjukkan bahwa SPPK menjadi kelompok yang aktif dan dapat diandalkan. Kecamatan yang merasa terbantu kemudian secara otomatis memberikan apresiasi dan dukungan penuh kepada SPPK.
Kini, SPPK dikenal sebagai bagian yang penting dari kegiatan pemberdayaan di tingkat kecamatan, bukan hanya di desa Puger. Pemerintah kecamatan menjadi pihak yang secara aktif mengenalkan SPPK ke desa-desa lain di wilayah Puger.
Ketika ada kebutuhan bantuan untuk mencari orang berkompeten dalam pemberdayaan, SPPK selalu menjadi rujukan utama bagi kecamatan. Hal tersebut membuat desa dan kecamatan perlahan menganggap SPPK sebagai mitra kolaborasi yang berharga dan tidak terpisahkan. Perempuan-perempuan Puger kini menjadi bagian dari orang-orang yang diperhitungkan pendapatnya dalam perencanaan program pembangunan daerah.
Perjalanan panjang Noor dalam menggerakkan kepemimpinan perempuan mengajarkan banyak hal berharga. Pembelajaran terpenting yang didapatnya adalah tentang konsistensi dan ketekunan yang tak kenal menyerah. Menghadapi segala pandangan negatif dan kesulitan pada akhirnya menghasilkan buah manis berupa pengakuan.
Dukungan keluarga menjadi faktor utama yang memungkinkan perjuangan tersebut menjadi berkelanjutan dan terus berkembang. SPPK berhasil menjadi wadah yang menempa keterampilan berorganisasi dan jiwa kepemimpinan yang kuat bagi para anggotanya. Kisah Noor menegaskan kepada kita bahwa kerja keras dan kepedulian dapat menopang program pembangunan dan pemberdayaan dengan hasil yang membanggakan dan bernilai kebermanfaatan.
Referensi:
She Builds Peace Indonesia (2022). KISAH NOOR NABAIYAH: JALAN PANJANG KEPEMIMPINAN PEREMPUAN – Talkshow She Builds Peace. [online] YouTube. Available at: https://www.youtube.com/watch?v=fRJjM29gciA [Accessed 6 Oct. 2025].







