Wednesday, August 19, 2026

Relasi Media, Kekuasaan, dan Demokrasi dalam Sinema Klasik, Citizen Kane (1941)

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Citizen Kane (1941), karya Orson Welles, sering disebut sebagai salah satu film terbesar dalam sejarah sinema. Namun, di balik inovasi perfilmannya, film ini menyimpan kritik yang jauh lebih luas terhadap hubungan antara media, kekuasaan, dan demokrasi. Melalui tokoh Charles Foster Kane, seorang taipan pers yang memiliki ambisi politik, Welles menggambarkan bagaimana konsentrasi kekuasaan media dapat mempengaruhi opini publik dan pada akhirnya mengancam prinsip-prinsip demokrasi. 

 

Amerika 1940-an: Ketika Pers Menjadi Kekuatan Politik 

Citizen Kane lahir dalam konteks Amerika Serikat pada awal 1940-an, ketika media massa memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan opini publik. Surat kabar dan radio menjadi sumber utama informasi politik bagi masyarakat, sementara kepemilikan media semakin terkonsentrasi pada kelompok-kelompok pemilik modal besar. Dalam demokrasi, media idealnya berfungsi sebagai pengawas kekuasaan dan menyediakan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi yang beragam. Namun, konsentrasi kepemilikan dapat membuat media bergeser dari institusi publik menjadi instrumen kepentingan pemiliknya.

Konteks tersebut menjadi penting karena karakter Charles Foster Kane memiliki kemiripan dengan taipan media William Randolph Hearst, meskipun film ini tidak dimaksudkan sebagai biografi langsung. Kane digambarkan sebagai pemilik jaringan surat kabar yang memiliki kekayaan, pengaruh politik, dan kemampuan membentuk narasi publik. Dengan demikian, film ini tidak hanya berbicara tentang seorang individu yang ambisius, tetapi juga mengenai bagaimana kepemilikan media dapat menciptakan konsentrasi kekuasaan di luar institusi politik formal.

McChesney (1999) menekankan bahwa demokrasi membutuhkan media yang bebas dan pluralis agar masyarakat dapat memperoleh informasi yang beragam serta mengawasi kekuasaan. Dalam konteks inilah Citizen Kane menjadi kritik terhadap kemungkinan ketika fungsi media sebagai pengawas justru berubah menjadi sumber kekuasaan itu sendiri.

 

Dari Idealisme ke Ambisi: Ketika Media Mulai Membentuk Realitas 

Film dibuka dengan kematian Kane dan kata terakhirnya, “Rosebud”, yang kemudian menjadi misteri utama. Seorang jurnalis berusaha memahami makna kata tersebut dengan menelusuri kehidupan Kane melalui kesaksian orang-orang yang pernah dekat dengannya. Kisah Kane akhirnya tidak muncul sebagai satu kebenaran yang utuh, melainkan melalui berbagai perspektif yang saling melengkapi sekaligus bertentangan.

Cara film membangun karakter Kane memperlihatkan perubahan dari seorang pemuda yang mengaku ingin membela kepentingan rakyat menjadi pemilik media yang semakin terobsesi dengan pengaruh dan kekuasaan. Ia menggunakan surat kabarnya untuk membangun citra dirinya, mempromosikan pandangan politiknya, dan mendukung ambisi untuk menjadi gubernur.

Di sinilah persoalan demokrasi menjadi semakin jelas. Kane tidak sekadar memiliki media, ia memiliki kemampuan untuk menentukan narasi apa yang diketahui publik dan bagaimana suatu peristiwa dipahami. Media yang seharusnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk menilai kekuasaan justru digunakan untuk membangun legitimasi bagi pemiliknya.

Kontradiksi tersebut memperlihatkan bahwa ancaman terhadap demokrasi tidak selalu muncul dalam bentuk penghapusan pemilu atau pembubaran institusi demokratis. Kekuasaan juga dapat bekerja melalui penguasaan informasi. Ketika satu individu memiliki kemampuan besar untuk menentukan apa yang diberitakan, bagaimana suatu isu dibingkai, dan siapa yang mendapat simpati publik, batas antara informasi dan kepentingan politik menjadi semakin kabur.

 

Ketika Media Menjadi Senjata Politik 

Kekuatan Kane semakin terlihat ketika ia menggunakan kerajaan medianya untuk mendukung pencalonannya sebagai gubernur. Media miliknya tidak hanya menjadi bisnis, tetapi juga kendaraan politik untuk membangun citra Kane sebagai tokoh yang dekat dengan rakyat.

Namun, ketika kehidupan pribadinya menjadi skandal, media yang sebelumnya membangun citra Kane tidak mampu sepenuhnya melindunginya. Situasi ini memperlihatkan paradoks kekuasaan media, media dapat digunakan untuk membangun reputasi, tetapi juga dapat menjadi arena pertarungan kepentingan ketika informasi yang merugikan mulai muncul.

Schudson (2003) menunjukkan bahwa persoalan mengenai siapa yang mengontrol produksi berita merupakan pertanyaan penting dalam memahami kehidupan demokratis. Citizen Kane menggambarkan persoalan tersebut melalui sosok pemilik media yang memiliki kepentingan politik secara langsung.

Persoalannya bukan semata-mata apakah media mendukung atau menyerang seorang politisi. Yang lebih mendasar adalah siapa yang memiliki kemampuan untuk menentukan narasi publik. Jika kekuasaan tersebut terlalu terkonsentrasi, masyarakat dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara informasi publik dan kepentingan pribadi.

Persoalan ini membuat film tersebut tetap relevan dalam memahami politik informasi saat ini. Konsentrasi pengaruh tidak lagi hanya berlangsung melalui surat kabar, tetapi juga melalui televisi, platform digital, media sosial, dan jaringan komunikasi yang memungkinkan individu atau kelompok tertentu menjangkau jutaan orang. Bentuk medianya berubah, tetapi pertanyaan yang diajukan Citizen Kane tetap sama: siapa yang mengontrol narasi, dan untuk kepentingan siapa?

 

Demokrasi dan Bahaya Kekuasaan Terpusat 

Perjalanan Kane pada akhirnya memperlihatkan bahwa kekuasaan yang tidak dibatasi dapat mengubah hubungan seseorang dengan masyarakat maupun orang-orang terdekatnya. Ia memiliki kekayaan, media, dan akses politik, tetapi semakin besar kekuasaannya, semakin jauh pula dirinya dari orang-orang yang ingin ia pengaruhi.

Kane juga memperlihatkan paradoks politik populis. Ia membangun citra sebagai tokoh yang berbicara atas nama rakyat, tetapi pada saat yang sama menggunakan sumber daya dan pengaruh pribadinya untuk memperluas kekuasaannya sendiri. Mounk (2018) menjelaskan bahwa politik populis dapat menjadi persoalan bagi demokrasi ketika klaim berbicara atas nama “rakyat” digunakan untuk melemahkan batas-batas institusional dan pluralisme politik.

Dalam konteks ini, persoalan utama Citizen Kane bukan hanya karakter Kane sebagai individu yang ambisius. Film ini menunjukkan bagaimana konsentrasi kekayaan, kepemilikan media, dan ambisi politik dapat saling memperkuat. Ketika ketiganya berada di tangan satu orang, kemampuan masyarakat untuk memperoleh informasi yang independen dan menilai kekuasaan secara kritis dapat ikut terancam.

Karena itu, film ini mengingatkan bahwa demokrasi tidak hanya membutuhkan pemilu dan institusi politik, tetapi juga distribusi kekuasaan informasi yang lebih plural. Media yang independen dan beragam memungkinkan masyarakat mendengar lebih dari satu perspektif, mempertanyakan narasi dominan, dan mengawasi mereka yang memiliki kekuasaan.

Pada akhirnya, Citizen Kane tidak hanya menceritakan kejatuhan seorang taipan media. Film ini mempertanyakan sesuatu yang lebih mendasar: apa yang terjadi ketika orang yang memiliki kemampuan untuk membentuk opini publik juga memiliki ambisi untuk menguasai politik? Jawabannya menjadi peringatan bahwa demokrasi dapat melemah bukan hanya ketika kekuasaan politik terkonsentrasi, tetapi juga ketika kekuasaan untuk menentukan apa yang dipercaya masyarakat terkonsentrasi pada segelintir tangan.

 

Referensi

McChesney, R. W. (1999). Rich Media, Poor Democracy: Communication Politics in Dubious Times. Urbana: University of Illinois Press.

Mounk, Y. (2018). The People vs. Democracy: Why Our Freedom Is in Danger and How to Save It. Cambridge, MA: Harvard University Press.

Schudson, M. (2003). The Sociology of News. New York: W. W. Norton & Company.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha