Wednesday, August 5, 2026

Marianne Katoppo: Jejak Hidup dan Latar Belakang Pemikirannya (Bagian 1)

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Marianne Katoppo adalah sosok penting dalam sejarah teologi dan sastra Indonesia. Ia dikenal sebagai teolog feminis pertama di Asia yang berani menghadirkan perspektif baru dalam wacana keagamaan, budaya, dan kemanusiaan. 

Di masanya, bidang teologi masih sangat maskulin, namun Marianne berhasil membuktikan bahwa suara perempuan layak menjadi bagian integral dalam percakapan teologis. Perspektif feminis yang ia usung berangkat dari kesadaran akan konteks kesukuan, kebangsaan, dan ras. Identitas itulah yang selalu ia tegaskan sebagai titik tolak gagasannya.

Memiliki nama lengkap Henriette Marianne Katoppo atau akrab dipanggil “Jettie” oleh keluarga dan sahabatnya, ia lahir di Tomohon, Sulawesi Utara, pada 9 Juni 1943. Ia merupakan anak bungsu dari pasangan Elvianus Katoppo dan Pitong Agnes Stientje Rumokoij.

 Sejak kecil, Marianne tumbuh dalam keluarga yang menjunjung kesetaraan gender dan budaya yang cenderung kebarat-baratan. Lingkungan inilah yang menjadikan dirinya akrab dengan dunia sastra dan isu-isu kemanusiaan. Elvianus Katoppo—Menteri Pendidikan di Negara Indonesia Timur pada masa Republik Indonesia Serikat—menjadi sosok penting yang memperkenalkannya pada kemandirian berpikir dan cara pandang sejarah. Elvianus sendiri juga dikenal sebagai salah satu pendiri Universitas Kristen Indonesia di Jakarta serta Lembaga Alkitab Indonesia pada tahun 1954.

Kemampuan intelektual Marianne sangat menonjol. Ia menguasai 12 bahasa, termasuk bahasa Ibrani dan Yunani, yang kelak membantunya dalam studi teologi. Bakat sastranya muncul sejak usia delapan tahun ketika ia menerbitkan tulisan pertamanya di rubrik anak-anak berbahasa Belanda pada koran Niuewsgier

Novelnya, Raumanen, yang mengisahkan tentang pertemuan budaya dengan bentrokan yang terjadi di dalamnya, memenangkan Lomba Novel Dewan Kesenian Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama (1978), serta penghargaan bergengsi South East Asian Write Award (1982). Ia tercatat sebagai satu-satunya perempuan Indonesia yang pernah meraih penghargaan tersebut pada masanya. Selain Raumanen, ia juga menulis karya-karya lain seperti Dunia Tak Bermusim (1974), Terbangnya Punai (1978), Anggrek Tak Pernah Berdusta (1979), dan Rumah di Atas Jembatan (1981).

Yang membuat Marianne berbeda dari penulis perempuan lain di era sastra populer tahun 1970-an adalah keberaniannya menyentuh isu-isu tabu: kesukuan, kebangsaan, ketuhanan, bahkan seksualitas. Dalam Anggrek Tak Pernah Berdusta, misalnya, ia mengangkat tokoh laki-laki gay yang terjebak dalam sistem patriarki. 

Dengan begitu, Marianne sudah melampaui zamannya. Ia menghadirkan cara pandang yang kini kita sebut interseksional, jauh sebelum istilah itu populer di Indonesia. Cerita-cerita cintanya pun tidak selalu berakhir bahagia, tetapi sarat kritik sosial dan refleksi filosofis.

Selain sebagai sastrawan, Marianne adalah seorang teolog dengan pemikiran mendalam. Ia meraih gelar Sarjana Teologi dari Sekolah Tinggi Teologi Jakarta pada tahun 1977. Pada tahun 1978, Marianne meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studi di Institut Ekumenis, Bossey, Swiss. Pada tahun 1992, ia meraih gelar theol.lic dari lembaga tersebut. 

Namanya kemudian menorehkan sejarah ketika pada tahun 1979 ia menerbitkan buku Compassionate and Free: An Asian Woman’s Theology melalui World Council of Churches di Swiss. Buku ini menjadi tonggak penting dalam sejarah teologi feminis Asia, dijadikan literatur utama di berbagai sekolah teologi dunia, dan mengukuhkan Marianne sebagai teolog feminis pertama di Indonesia sekaligus Asia.

Dalam karyanya, Marianne menekankan bahwa perempuan Asia harus berani melepaskan diri dari belenggu kebudayaan luar yang asing dan nilai-nilai yang tidak sesuai dengan pengalaman hidupnya. Ia mendorong perempuan untuk melakukan kritik terhadap segala bentuk eksploitasi, termasuk model pembangunan ekonomi dan kesejahteraan yang kerap mengabaikan kepentingan perempuan. Bagi Marianne, berteologi ala perempuan Asia berarti berangkat dari realitas hidup perempuan itu sendiri.

Pemikiran tentang pembebasan itu tidak hanya ia tuangkan dalam gagasan teologis, tetapi juga tercermin dalam bahasa sehari-hari yang digunakannya. Bagi Marianne, bahasa adalah sarana penting untuk menegaskan identitas dan otoritas perempuan. Karena itu, sejak tahun 1978 ia bersikeras menggunakan istilah perempuan ketimbang wanita. Ia mengetahui betul asal-usul kedua kata itu, sementara banyak orang tidak menyadarinya.

Menurutnya, kata perempuan memiliki makna yang sangat dalam dan sama sekali berbeda dengan wanita. Perempuan, akar katanya adalah “empu,” yang berarti seorang ahli. Ia menganalogikannya dengan “mpu jari” (jempol), yang fungsinya sangat menentukan dalam setiap gerakan tangan. Jika maknanya disejajarkan, perempuan adalah orang yang memiliki otoritas atas diri dan tubuhnya. Perempuan adalah subjek yang aktif, yang mampu melakoni sekaligus mempengaruhi sesuatu.

Sebaliknya, istilah wanita dalam terminologi Jawa berasal dari “wani nek ditoto” yang berarti “berani jika ditata.” Bagi Marianne, istilah ini menggambarkan posisi yang pasif, seolah keberanian seorang wanita hanya muncul jika diarahkan atau dikendalikan oleh orang lain. Ia menjadi objek yang tidak memiliki kehendak penuh, hanya mau dipuja, diagungkan, atau bahkan dieksploitasi. 

Keteguhannya mempertahankan istilah perempuan lahir dari keyakinan bahwa bahasa harus jujur. “Bahasa atau karya sastra harus mencerminkan realitas. Bahasa adalah realitas itu sendiri. Perempuan nyatanya adalah pemberi dan pemelihara kehidupan. Ia yang berperan untuk terus-menerus menghidupi kehidupan ini,” ujarnya dengan tegas.

Warisan pemikiran Marianne Katoppo tetap relevan hingga hari ini. Keberaniannya menyuarakan perspektif perempuan dalam dunia teologi yang maskulin, keteguhannya membela bahasa sebagai identitas, serta konsistensinya membicarakan isu-isu kemanusiaan menjadikannya figur yang melampaui zamannya. Marianne tidak hanya menulis tentang perempuan, tetapi juga memberi teladan bagaimana perempuan bisa berdiri tegak sebagai subjek penuh otoritas dalam hidupnya sendiri.

Di tengah wacana teologi, sastra, dan budaya yang terus berkembang, suara Marianne Katoppo masih bergema: perempuan adalah empu, yang berkuasa atas dirinya, yang memberi dan memelihara kehidupan. Dengan gagasan dan karya-karyanya, ia telah membuka jalan bagi generasi baru untuk terus melanjutkan perjuangan menuju kebebasan, kesetaraan, dan keadilan.

 

Ayu Kristina
Ayu Kristina
Aku alumni Center for Religious and Cross-cultural Studies (CRCS) UGM yang tertarik pada isu-isu perdamaian, gender, dialog antaragama, lingkungan, agama lokal dan Hak Asasi Manusia (HAM).

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha