Editor: Yuyun Khairun Nisa
Buku Aku Menyayangi Maka Aku Disayangi disusun oleh sejumlah penulis dari Gerakan Literasi Bil Qalam; Muyassarotul Hafidzoh, seorang Ibu nyai muda yang aktif mengedukasi tentang kesehatan reproduksi remaja dan pemberdayaan perempuan; AI Umir Fadhilah, seorang penulis lepas di berbagai media; Siva Ramadina, seorang pendidik dan konten kreator di sebuah website; Mahmudah, seorang pendidik dan konten kreator tentang pendidikan dan anak; Ali Machfud, seorang dokter dan Kepala Klinik Pratama BKM Ali Maksum Krapyak Yogyakarta; Dina Wahidah, seorang psikolog profesional di Universitas Gadjah Mada fokus di bidang psikologi anak dan remaja serta kesehatan mental di dunia pendidikan dan korporasi. Secara kredibilitas, keilmuan para penulis ini tidak hanya mahir dalam teori melainkan sudah mempraktekkannya dalam waktu yang tidak sebentar.
Buku ini seakan menjadi pelita di tengah kebuntuan para remaja Gen Z dalam menghadapi masa pubertasnya. Generasi yang lahir sekitar tahun 1997 sampai 2012 sedang menghadapi tantangan yang cukup unik, sebagian besar karena perubahan teknologi, sosial dan ekonomi yang pesat, diantaranya; krisis identitas dan kesehatan mental, tekanan media dari sosial, overthinking terhadap masa depan, perubahan media yang tidak stabil serta nilai dan keyakinan yang sedang dipertaruhkan.
Buku ini disusun dengan sistematis dan memakai bahasa yang sangat ringan sehingga pembaca—yang ditargetkan adalah remaja Gen Z—tidak bosan. Alih-alih merasa digurui, buku ini disertai dengan halaman Let’s Memorize sebagai kesimpulan dari bab sebelumnya, dilengkapi dengan tabel dan gambar-gambar yang memudahkan pembaca memahami poin yang sedang dibahas.
Hal lain, yang membuat buku ini semakin unik adalah pembaca diajak berinteraksi secara aktif dengan diri sendiri melalui beberapa tabel yang harus diisi, misalnya Tabel Mengenali Diri Sendiri. Pada tabel ini, pembaca diajak untuk berefleksi dan menganalisis diri sendiri melalui teori SWOT tentang kekuatan (Strengths), kelemahan (Weaknesses), peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats).
Di halaman berikutnya, Tabel Menghormati dan Menghargai diri sendiri dan orang lain. Pada tabel ke-23 ini, pembaca akan berpikir bagaimana cara bersikap untuk menghormati diri sendiri dan orang lain. Sebab tak sedikit dari kita yang bingung mengapresiasi diri sendiri, apalagi orang lain.
Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual
Jika ditarik jauh ke belakang, ada tiga hal yang menjadi sebab terjadinya kekerasan seksual, dan inilah yang menjadi urutan bab dalam buku ini; bab pertama, “Mengapa Aku Diciptakan?” Bagi remaja dan anak, mengenali diri sendiri adalah hal krusial untuk menentukan arah tujuan masa depannya, mengapa ia diciptakan dan betapa istimewanya ia sehingga terpilih menjadi hamba dan khalifah di bumi ini.
Bab kedua, “Cara Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain”. Setelah mengenal diri sendiri seseorang akan cenderung bersikap bijak pada dirinya, untuk selanjutnya ia terapkan pada orang lain. Ia akan memandang orang lain sebagai manusia utuh yang juga berharga, istimewa. Ia akan memandang bahwa manusia (laki-laki dan perempuan) diciptakan sebagai hamba Allah dan khalifah (pemimpin) di muka bumi. Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki hak dihormati, dihargai dan dilindungi, sebagaimana juga memiliki kewajiban yang harus ditunaikan. Selanjutnya akan lahir prinsip “Aku Menyayangi Maka Aku Disayangi” sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW mengatakan bahwa:
من لا يرحم لا يرحم
Artinya: Barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi. (HR. Al-Bukhari)
Bab ketiga, “Aku Sehat, Aku Kuat”. Remaja dan anak sering bingung saat terjadi perubahan pada tubuhnya yang menjadi tanda pubertas. Padahal, pada masa ini seseorang harus meningkatkan perhatian terhadap kesehatan reproduksi demi menjaga dari timbulnya resiko yang tidak diinginkan di kemudian hari. Sudah saatnya kita aware pada kesehatan utamanya kesehatan reproduksi, jangan sampai karena dianggap tabu menghalangi kita menciptakan jasmani, psikologi dan sosial yang sehat.
Di samping itu, dalam bab ketiga penulis juga memberi langkah pemeliharaan kesehatan organ reproduksi untuk laki laki dan perempuan dengan rincian berbeda karena tidak bisa dipungkiri organ reproduksi laki laki dan perempuan memiliki perbedaan yang sangat signifikan. Pada laki laki, fase reproduksi “hanya” berkaitan dengan mimpi basah dan hubungan seksual dengan pasangan, sedangkan bagi perempuan, fase reproduksinya jauh lebih lama dan kompleks. Namun demikian perbedaan alat dan fungsi reproduksi laki laki dan perempuan jangan sampai menjadi alasan untuk melakukan ketidakadilan bagi salah satunya. Bukankah Tuhan mengutus Rasul untuk menaikkan derajat perempuan sebagai manusia utuh?







