Friday, May 29, 2026

Nenengisme dan Gerakan Kolektif Perempuan untuk Keadilan Sosial dan Lingkungan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Kesetaraan bukan lagi teori, KWT (Komunitas Wanita Tani) Mentari sudah menjalankannya: berbagi benih, berbagi hasil, berbagi beban bersama. Ini aksi nyata!” 

Kalimat di atas merupakan salah satu ungkapan menohok Neneng Rosdiyana dalam postingannya dengan kelompok petani perempuan yang ia bagikan. Postingan ini banyak diafirmasi oleh banyak orang karena relevan dengan kehidupan, khususnya para petani perempuan. Neneng Rosdiyana tampil sebagai petani perempuan revolusioner yang aktif di Facebook dengan merefleksikan isu-isu pertanian dan sosial masyarakat.

Aktif di akun sosial media Facebook, Neneng Rosdiyana tampil sebagai petani perempuan cerdas yang seringkali mengunggah kegiatan bertaninya dengan KWT Mentari yang dilengkapi dengan pesan inspiratif. Pesan inspiratif ini sarat akan pesan-pesan refleksi maupun sarkas tentang ide marxisme, isu sosial, dan pemberdayaan perempuan. Neneng seringkali muncul dengan pesan-pesan yang menohok dan selaras dengan kehidupan. 

Barangkali Neneng menjadi salah satu perempuan yang sangat jarang ditemui—dengan aktivitas bertaninya itu, tapi ia begitu vokal menyuarakan ide dan kritik bagi masyarakat dengan bahasa yang membumi. Neneng memang bukan akademisi, pakar lingkungan, atau bagian dari birokrasi. Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif berkomunitas dengan KWT Mentari di Lampung. Dari kegiatannya berkomunitas, ia aktif membagikan kegiatan bercocok tanam, panen, serta pemberdayaan ekonomi ibu-ibu di daerahnya. Dari Neneng dan KWT Mentari, warganet menyebutnya dengan istilah “Nenengisme”. 

Eksistensi Neneng menjadi kritik bagi para intelek maupun pemerintah yang seringkali terjebak dalam retorika dan aksi nyata. Neneng mengingatkan dengan ungkapannya yang menohok bahwa “makin panjang teori, makin jauh dari kenyataan.” Dalam potongan ungkapan lain—ia juga mengatakan, “KWT Mentari Hebat! Katanya perempuan harus mandiri? Kami sudah lama melakukannya tanpa banyak teori”. Gerakan Nenengisme lantas menjadi simbol petani perempuan berdaya yang berjuang untuk keadilan sosial dan lingkungan.

 

Gerakan Akar Rumput Pemberdayaan Perempuan

Eksistensi Neneng dan KWT Mentari mengindikasikan betapa semangat kolektif menjadi kekuatan perempuan untuk berdikari di tengah sistem kapitalis yang menghimpit. Perempuan di pedesaan umumnya mengalami triple burden yakni beban kerja produksi (bertani), reproduksi (mengurus rumah tangga), dan sosial (komunitas).

Neneng bersama teman-teman komunitasnya saling berbagi pengetahuan mengenai pertanian, pemasaran hasil panen, memproduksi hasil pupuk, dan penguatan ekonomi rumah tangga. Kegiatan produktif dari komunitas yang menjadikan solidaritas perempuan semakin kuat. Perempuan secara kolektif dapat membangun ekonomi sendiri yang tujuannya mengentas kemiskinan perempuan. Dan ini merupakan konsep inti feminisme, manifestasi kesetaraan gender yang perlu diarahkan pada akar persoalan struktur, kondisi, sosial, dan kultur masyarakat. 

Oleh karena itu, perempuan seharusnya tidak berjarak dengan isu-isu kekuasaan dan politik supaya mereka tidak gampang dimanipulasi—serta dapat melakukan transformasi struktural penguasaan. Serta dapat mengubah struktur ketidakadilan menuju struktur yang berkeadilan.

Dalam jurnal berjudul Gender Equality and Women’s Empowerment: A Critical Analysis of the Third Millenium Development Goals yang ditulis oleh Naila Kabeer menegaskan bahwa pemberdayaan merupakan arena kekuasaan yang membutuhkan kemampuan (the power within) dalam melakukan aksi nyata (power struggle) untuk mengakses, memanfaatkan, mengontrol, dan bertanggungjawab atas sumberdaya demi perubahan yang diharapkan. Maka dari itu, upaya pemberdayaan penting dilakukan sebab juga mengacu pada relasi yang setara meski sebenarnya juga tidaklah mudah. Dengan demikian, diperlukan proses yang utuh dan waktu yang agaknya tidak sebentar untuk mengupayakan pemberdayaan.

Dalam jurnal yang ditulis Ida Ruwaida berjudul Women Collective Action and empowerment: A Sociological Reflection memaparkan bahwa aksi kolektif adalah bagian yang melekat dalam proses pemberdayaan. Secara konkret, aksi kolektif terlaksana melalui tahapan. Pertama, membangun rasa ingin tahu atau ketanggapan. Kedua, melakukan identifikasi atas berbagai kondisi perempuan. Ketiga, berkembangnya kesadaran yang menjadi respon kemarahan pada situasi dan kondisi yang dialami perempuan. 

Keempat, melakukan konsolidasi internal maupun kepada pihak-pihak lain. Kelima, terbangun identitas kolektif yang juga mencerminkan kekuatan atau keberdayaan perempuan, baik sebagai individu maupun kelompok kepentingan. Dari tahapan ini setidaknya merefleksikan bahwa kesadaran kolektif tidak bisa dipisahkan dari berkembangnya kesadaran personal. 

Gerakan Nenengisme menjadi representasi para petani perempuan menciptakan ruang aman untuk belajar, berbagi, dan berjuang. Mereka dengan kekuatan kolektif, semangat yang besar, dan cinta baik pada lingkungan tak perlu bergantung pada lembaga yang besar. Mereka dapat membangun diri mereka sendiri dengan melakukan kerja-kerja yang ramah pada lingkungan.

 

Nenengisme dan Kampanye yang Membumi

Pemberdayaan perempuan dari KWT Mentari termasuk salah satu upaya membangun empowerment khas lokal dan membumi. Neneng dan apa yang telah dilakukannya—menjadi lokomotif perempuan lokal yang inspiratif. Apa yang disebarkannya merupakan bukti bahwa ia terpelajar meski berasal dari masyarakat biasa. Ia berani bersuara dan bertindak nyata tanpa embel-embel jargon dan teori yang melangit. 

Dengan kesederhanaan yang tampak, ia mudah diterima banyak kalangan dengan pesan-pesan yang ia sebarkan. Gerakan Nenengisme mentransformasikan perubahan dari gerakan kecil menuju entitas yang bermakna. Dalam satu postingannya, Neneng juga tampak mengutip ungkapan Emma Goldman, seorang feminis anarkis yang memperjuangkan berbagai isu, termasuk kesetaraan gender, hak-hak pekerja, dan pendidikan gratis.

Mengutip kata-kata Emma Goldman, “individu adalah jantung masyarakat… Jika ingin masyarakatnya baik, maka individunya juga harus dibentuk menjadi karakter yang baik. Manusia sejatinya adalah makhluk sosial, yang tidak mungkin bisa berdiri sendiri tanpa bantuan manusia lain. Untuk bisa berdiri tidak harus saling menginjak, tapi bisa saling merangkul dan berpegangan tangan”.

Solidaritas KWT Mentari membuktikan bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang konsisten. Penting untuk kita mengakui bahwa pengetahuan akan lingkungan bersumber dari kearifan lokal dan pengalaman sehari-hari. Bahasa Neneng telah menjadi kunci untuk menjangkau akar rumput juga menjadi sarkas bagi penguasa yang pintar beretorika tanpa memandang penting aksi nyata. Keberadaan Nenengisme mengingatkan kita bahwa kampanye yang otentik harus berangkat dari bahasa, nilai, dan keberpihakan pada realitas yang dituju. 

 

Niam Khurotul Asna
Niam Khurotul Asna
Penulis dan pembelajar.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha