Wednesday, August 19, 2026

Memperkuat Narasi Damai melalui Buku Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Banyak kisah-kisah hangat penuh haru terjadi saat konflik. Cerita bagaimana orang-orang bertahan menyelamatkan nyawa dan upaya membangun perdamaian. Buku Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, salah satu dokumentasi yang memotret gambaran tersebut.

Ditulis oleh Lian Gogali, pendiri Institut Mosintuwu. Ia merupakan alumni Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta yang menerima penghargaan Four Freedom Awards 2022. Lian Gogali konsisten membentuk ruang-ruang dialog antar agama dan kegiatan lintas agama di daerah pasca konflik, Poso sejak 2009.

Poso beberapa tahun silam mengalami konflik kepentingan dan kesalahpahaman yang menyebar luas. Kala itu, agama Islam dan Kristen kerap diadu domba dan dikambinghitamkan. Masyarakat sipil pada dasarnya tidak tahu apa dan tidak ingin konflik yang disertai dengan kekerasan itu terjadi. Sikap saling curiga pun tak dapat dipungkiri meletus di tengah masyarakat yang beragam.

Saat menyebutkan kata Poso, orang akan mengasosiasikan daerah tersebut penuh konflik. Padahal, aslinya masyarakat Poso sudah sejak lama hidup berdampingan antar agama dengan rukun. Orang-orang Poso terbiasa untuk menghargai dan hidup bersama dengan keragaman suku, budaya, dan kebiasaan sehari-hari. Berita simpang siur yang dibumbu-bumbui, ditambah-tambahi, dibelokkan itu menjadi pemicu pecahnya konflik.

Kemanusiaan merupakan hal yang sangat dipentingkan oleh masyarakat saat terjadi konflik. Orang-orang saling menjaga nyawa di kiri kanannya. Buktinya, mereka menolong dan menyelamatkan antar komunitas Islam dan Kristen saat terjadi konflik. Saudara, tetangga, orang yang tak dikenal, beda agama saling bantu untuk menyelamatkan nyawa, meski dengan menyamarkan identitas agama. Bagaimana caranya?

Buku ini menjelaskan sisi lain dan kisah-kisah persaudaraan yang jarang diungkapkan di media arus utama. Saat konflik meletus, ada saat dimana kerap terjadi sweeping KTP (Kartu Tanda Penduduk) di poros jalan keluar masuk Poso. Waktu itu, ada isu penyerangan dari kelompok yang mengatasnamakan Islam. Maka, orang muslim memberi peringatan dan memberikan perlindungan kepada tetangga, saudara, maupun orang tak dikenal yang Kristen. Begitupun sebaliknya.

Sebagai penguat strategi tersebut, keluarga Islam mengajarkan ucapan kalimat syahadat kepada keluarga Kristen. Keluarga Kristen mengajarkan doa Bapa Kami kepada keluarga Islam. Ini merupakan bukti bahwa masyarakat sejatinya saling menjaga, tidak membenarkan kekerasan, tidak meninggalkan saudara dan tetangga. Buku ini menceritakan bahwa kemanusiaan, persaudaraan, empati, dan saling menjaga kehidupan itu merupakan hal utama yang dipikirkan oleh masyarakat sipil.

Lian Gogali dalam bukunya juga menyebutkan bahwa orang-orang Poso punya keluarga dan saudara-saudara yang berbeda agama dan hidup rukun tanpa menjelekkan kepercayaan masing-masing. Nilai kemanusiaan dipeluk erat. Ketika konflik yang tidak pernah diharapkan itu meletus, anak-anak dititipkan kepada keluarga yang dianggap aman.

Orang Poso punya semboyan dari bahasa Pamona yaitu Sintuwu Maroso yang memiliki arti Persatuan yang Kuat. Sintuwu Maroso terus dilestarikan dan menjadi pondasi untuk menguatkan, menegakkan, menjaga keberagaman, dan saling tolong menolong dalam semua keadaan tanpa membeda-bedakan ‘saya Islam’ atau ‘saya Kristen’. Semboyan tersebut kemudian dijaga hingga sekarang, terukir dalam tugu di jalan raya.

Upaya saling menjaga antar umat beragama jarang diangkat dan diceritakan oleh media-media besar di Indonesia. Media banyak yang malah membesarkan stigma bahwa konflik di Poso terjadi karena perselisihan antar agama. Hoaks-hoaks yang terus direproduksi dan tersebar di media membuat persepsi masyarakat tentang Poso yang penuh konflik terus langgeng. Padahal, ajaran budaya dan keberagaman di Poso mendarah daging dan dijaga oleh budaya di sekitar.

Buku ini juga memotret ketika desa-desa ditinggalkan, kebun-kebun dibiarkan begitu saja saat konflik terjadi. Masyarakat kecil hidup dengan keadaan kekurangan dan kesulitan mendapatkan pangan. Orang-orang tanpa membedakan suku dan agama itu saling berbagi makanan dan informasi mengenai lokasi-lokasi yang terdapat sumber pangan. 

Upaya masyarakat Poso untuk melanjutkan kehidupan dengan saling tolong menolong ketika konflik ini sangat perlu diapresiasi, diingat, dimaknai, dan disebarkan kepada lebih banyak orang. Narasi-narasi adu domba, permusuhan, dan menyudutkan agama yang sering diulang-ulang, sehingga berdampak pada resiliensi komunitas.

Masyarakat kecil mengalami dampak nyata yang parah, seperti hidup tidak tenang, tidak bisa mengakses pendidikan karena sekolah ditutup, masalah ekonomi karena sulit mendapatkan kerja maupun berkebun, masalah kesehatan karena fasilitas sulit diakses, dan kekurangan makanan.

Sampai sekarang, masih dilakukan upaya-upaya memulihkan trauma dengan berbagai cara. Misalnya, orang-orang muda di Poso berusaha membuka kembali pintu persaudaraan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan seni yang menjadi ruang untuk berdiskusi dan bertemu dengan ragam komunitas. Seni menjadi wadah yang tepat untuk menyalurkan kreativitas, berkembang, berdaya, dan membuat prasangka memudar.

Termasuk lewat karya tulis berupa buku. Konflik Poso: Suara Perempuan dan Anak Menuju Rekonsiliasi Ingatan, sangat cocok dibaca oleh banyak orang. Termasuk mereka yang tinggal di luar daerah konflik. Seperti peneliti, mahasiswa, dosen, pemangku kebijakan, dan sebagainya untuk memahami suara masyarakat sipil yang terdampak dan bagaimana mereka melanjutkan kehidupan bersama saudara lintas iman.

Lena Susanti
Lena Susanti
Lena Sutanti merupakan konten kreator dan digital storyteller yang belajar tentang manusia dan budayanya di Antropologi. Dari 2019 sampai sekarang bikin ilustrasi, tulisan, komik, dan video tentang keberagaman gender dan seksualitas, kebebasan beragama dan berkeyakinan, budaya dan lingkungan. Lena hobi traveling, eksplorasi fesyen, dan kuliner lokal. Karya-karyanya bisa ditengok di Instagram @lenasutanti.

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha