Thursday, August 13, 2026

Makna Motif Batik dan Seni Perlawanan Perempuan (Bagian 2)

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Lain masa penjajahan dan perang kemerdekaan, pada masa kini semangat perlawanan lewat simbol batik juga muncul sebagai bentuk perjuangan ekologis. Salah satunya yang dilakukan para perempuan akar rumput di wilayah pesisir Jambi. 

Batik khas Pangkal Babu asal Jambi ini memiliki motif flora dan fauna khas pesisir seperti mangrove, kepiting, udang, dan sebagainya. Motif ini memiliki makna sebagai gerakan peduli kelestarian alam khususnya bagi ekosistem pesisir.   

Motif-motif itu, kata Nurhasanah—anggota Kelompok Batik Taman Sari dari Dusun Bahagia, Pangkal Babu, Tanjung Jabung Barat, Jambi—merepresentasikan betapa penting hutan mangrove yang merupakan tempat hidup bagi berbagai jenis hewan, seperti kepiting dan udang, yang menjadi sumber kehidupan masyarakat sekitar, serta berfungsi sebagai penahan gelombang dan pencegah abrasi pantai.

Nurhasanah dan delapan perempuan lainnya pada 2021 memutuskan membentuk kelompok batik ini untuk menggabungkan dua keahlian yang mereka miliki, yaitu batik dan kecintaan terhadap alam pesisir.

Awalnya, mereka mengumpulkan iuran Rp100.000 dari masing-masing anggota untuk membeli peralatan yang diperlukan. Cetakan yang mereka gunakan sangat sederhana, terbuat dari karton bekas susu dan mie yang keras, bukan dari plat besi seperti alat batik umumnya. 

Meskipun peralatan seadanya, tak mengurangi semangat mereka terus berkarya, di mana tadinya berawal dari kegiatan membatik yang hanya dilakukan para ibu di halaman rumah, kemudian berkembang sebagai usaha kecil yang mampu memberikan penghasilan tambahan.

Sri Wahyunika, anggota Kelompok Batik Taman Sari lainnya, mengatakan bahwa sebelum bergabung dengan kelompok batik, dia hanyalah buruh kasar di kebun kelapa dengan upah Rp. 100.000 dari setiap buah kelapa yang berhasil dipetik. Setelah bergabung dengan kelompok ini, dia jadi merasa lebih produktif dan bisa membantu kebutuhan dasar keluarga.

Salma, anggota lainnya merasakan hal yang berbeda. Selain menambah penghasilan, membatik telah membantu meningkatkan kepercayaan diri. Dia senang dan jadi lebih percaya diri karena dapat menghasilkan batik yang indah dan bernilai jual bagi masyarakat.

Di sela kegembiraan karena bisa lebih produktif, para perempuan ini tak luput dari hambatan. Terutama terkait bahan-bahan untuk pembuatan batik, seperti lilin batik, kain putih, dan pewarna, mengingat tempat tinggal mereka di daerah pesisir, tepian pantai yang jauh dari kota. Lalu, bagaimana mereka akhirnya bisa menyiasatinya?

 

Kepemimpinan Perempuan Muda dan Terobosan Batik Ekologi

Adalah Qorry Oktaviani, seorang perempuan lulusan pendidikan biologi dari Universitas Andalas (Unand) Sumatera Barat yang sedang melakukan kuliah lapangan di daerah Jambi, ditempatkan di daerah Pangkal Babu, Tanjung Jabung Barat, tempat para perempuan pembatik.

Sebagai mahasiswa lulusan biologi, pemahaman Qorry mengenai tanaman mangrove membawanya pada kemampuan untuk mengolah kulit kayu bakau dan juga buah pidada—dari tanaman mangrove—yang bisa menghasilkan cairan dengan warna alami, yang bisa digunakan untuk mewarnai atau membatik kain.

Qorry Oktaviani, dok Anugerah Pewarta Astra

Dari situlah permasalahan bahan membatik ibu-ibu setempat menemukan solusinya. Kelompok batik Taman Sari yang mengusung konsep ‘Konservasi Mangrove dalam Selembar Batik’ tersebut sekarang menjadi dikenal luas sebagai penghasil Batik Mangrove. Bahkan karya batik mereka sudah resmi terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi.

Keunikan batik Mangrove ini cukup banyak. Tak hanya dari bahan pewarna alami yang berasal dari tanaman mangrove, tetapi juga dari proses pembuatannya yang terbilang masih alami dan tradisional. Yaitu dengan cap kardus dari bahan bekas seperti cerita Nurhasanah sebelumnya. Walau masih diproses secara sederhana, Qorry dan kelompok batik Pangkal Babu bertekad akan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas batik mereka. 

Dalam perkembangannya, setiap hari, Taman Sari mampu memproduksi sekitar 100 lembar kain batik dengan harga jual per lembar Rp135.000-Rp185.000 untuk batik cap dan Rp250.000-Rp300.000 untuk batik tulis. Karya-karya itu diwarnai sekitar 17 jenis motif dalam batik khas Pangkal Babu, yang diambil dari berbagai unsur kehidupan masyarakat pesisir, seperti kepiting, udang, dan mangrove.

Yang paling populer adalah motif mangrove, digambarkan dalam bentuk daun-daun mangrove, buah pidada, api-api, dan bakau. Selain itu, motif bangau putih juga sering digunakan dalam batik khas Pangkal Babu.

Qorry dan kelompok batik Pangkal Babu yang sudah mengenalkan Batik Mangrove ke masyarakat luas, menjadi bukti bahwa lewat batik sebagai salah satu warisan budaya bangsa, perempuan mampu berdaya dan melawan kemiskinan yang membelenggu. Khususnya bagi masyarakat pesisir yang notabenenya dari kalangan masyarakat menengah ke bawah. 

Berada jauh dari perkotaan, tak menjadi penghambat langkah mereka. Menggunakan alat-alat sederhana dari barang bekas pun, perempuan selalu punya cara untuk memanfaatkan dan mengolah bahan yang ada di sekitar menjadi barang yang bernilai.[]

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha