Thursday, September 24, 2026

Belajar Memaknai Keberagaman dari Setiap Perjumpaan dengan Kelompok Berbeda

Sejarah mencatat sejumlah konflik besar antara komunitas Kristen dan Islam di Indonesia maupun dunia. Meskipun konflik tersebut kental dengan nuansa agama, akar masalahnya jauh lebih dalam dari yang selama ini dipahami: politik, ekonomi, perebutan wilayah, dan identitas.  Padahal, agama yang seharusnya menjadi dasar kedamaian karena konflik tersebut malah lebih sering tampil sebagai penyebab kekerasan di banyak catatan sejarah.

Perang Salib (1096–1291) adalah salah satu contohnya; peristiwa itu diperkirakan menelan korban jiwa sangat besar, meskipun angka pastinya tidak tunggal. Di Indonesia, Konflik Ambon (1999–2002) dan Konflik Poso (1998–2001) juga menimbulkan ribuan korban jiwa, ratusan ribu pengungsi, serta luka sosial yang mendalam.

Fakta sejarah tersebut sempat membentuk prasangka dalam diri saya, yakni seolah-olah begitu banyak perbedaan antara Kristen dan Muslim sehingga hidup rukun hanya mungkin jika masing-masing menjaga jarak dan kewaspadaan. Namun, pengalaman saya di sebuah desa di Pare, Kediri, dan di kantor PT Halal Digital Internasional, Kuningan, Jakarta Selatan, justru membantah anggapan itu.

Pada 25 Mei 2026 dini hari, tepat pukul satu, saya tiba di tempat yang paling saya nantikan, sebuah desa dengan kultur bahasa Inggris yang kuat. “Hai, nama saya Abid,” perkenalan singkat dari saya dengan tetangga kamar, yakni dua pemuda asal Sulawesi, Tahang dan Emmanuel. Setelahnya, saya tahu bahwa mereka berdua sangat dekat, bahkan Tahang secara terang-terangan menyebut Emmanuel sudah seperti keluarga baginya. Padahal, Tahang seorang Muslim dan Emmanuel seorang Kristen.

Singkat cerita, Emmanuel dan Tahang pertama kali berkenalan di salah satu universitas di Palopo, kota asal Emmanuel. Tahang adalah mahasiswa pendatang yang tinggal di kos. Mengetahui Tahang yang sendirian, Emmanuel sering datang ke kosnya untuk sekedar bermain. Dari pertemuan sederhana yang berulang itu, mereka tumbuh menjadi sahabat.

Hari Minggu, Emmanuel menghampiri saya di kamar untuk berjalan kaki menuju area car free day. Di Pare, Kediri, car free day pada Minggu pagi hingga pukul sembilan memang sudah menjadi agenda rutin. Di sela-sela percakapan, saya beberapa kali mendengar Emmanuel mengucapkan istighfar dan hamdalah; dua ungkapan yang diucapkan seorang Muslim. Mendengar hal tersebut membuat saya tertegun. Sejak kapan kalimat-kalimat itu menjadi bagian dari kosakata seorang pemuda Kristen?

Karena penasaran, saya bertanya bagaimana pandangan ajaran Kristen tentang hal itu. Emmanuel menjawab bahwa hal tersebut lumrah dan diperbolehkan oleh gereja. Sambil menikmati suasana car free day, ia melanjutkan bahwa kalimat itu adalah bahasa Arab, jika diterjemahkan, artinya memohon ampun dan bersyukur kepada Allah. Kata “Allah” dalam bahasa Arab juga dipakai oleh umat Kristiani untuk menyebut Tuhan.

Saya merenung dengan jawaban yang diberikan Emmanuel. Saya melihat bahwa kedekatan Emmanuel dengan lingkungan Muslim tidak membuatnya kehilangan identitas keagamaannya. Justru, perbedaan itu dapat hadir berdampingan dalam hubungan yang saling menghormati.

Hal lain yang menyentuh bagi saya adalah kebiasaan mereka saling mengingatkan ibadah. Saat kami bermain bertiga, Emmanuel sering mengingatkan saya dan Tahang untuk shalat. Ia bahkan menunggu kami di depan masjid. Sebaliknya, kami berdua juga kerap mengingatkannya untuk beribadah. Di antara kami tumbuh rasa toleransi yang kuat. Agama tidak lagi terasa sebagai jarak, melainkan sebagai bagian dari keberagaman yang perlu dihargai.

Kedekatan emosional mereka berdua memaksa saya mendefinisikan ulang makna perbedaan. Saya sadar bahwa perbedaan keyakinan tidak secara langsung memisahkan. Toleransi dan rasa kebersamaan yang diterapkan Emmanuel kepada Tahang, atau sebaliknya, memberi saya gambaran penuh tentang indahnya keberagaman.

Pengalaman serupa saya temukan ketika menjalani magang di PT Halal Digital Internasional pada Oktober 2023. Di sana, saya bertemu dengan Mas Moses Adi, seorang pendeta yang bekerja sebagai HRD. Beliau seringkali menyampaikan pandangan tentang toleransi dan kebersamaan yang kuat, bahkan kerap memuji nilai-nilai ajaran Islam yang menurutnya juga terdapat dalam ajaran Kristen. Toleransi itu beliau praktikkan sehari-hari, terlihat dari sikap dan tutur katanya.

Dalam Islam, pengalaman tersebut saya pahami sebagai pengingat bahwa perbedaan merupakan keniscayaan, bagian dari kehidupan manusia. Bagi saya, di sinilah nilai Islam progresif menjadi relevan, ajaran agama mendorong lahirnya hubungan sosial yang adil, damai, saling membantu, dan penuh kasih sayang.

Pengalaman bersama Tahang, Emmanuel, dan Mas Moses membuat saya menyadari bahwa kita dapat hidup rukun dan berdampingan dengan menjunjung nilai-nilai kebersamaan, toleransi beragama, kasih sayang, dan penghargaan terhadap keberagaman. Pengalaman ini menunjukan bahwa perjumpaan dan saling menjaga merupakan hal yang sangat mungkin terjadi, bahkan ketika sejarah mencatat luka yang mendalam. 

Dari situ, saya mulai berpikir lebih jauh: bukankah prinsip yang sama juga berlaku dalam relasi antara laki-laki dan perempuan? Saya mulai memahami bahwa keadilan dalam kehidupan seharusnya berlaku dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Masyarakat yang damai membutuhkan ruang yang aman dan setara bagi setiap orang untuk berpartisipasi, menyampaikan pendapat, dan dihargai martabatnya.

 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha