Wednesday, August 19, 2026

Novel Melupakan 98 dan Realitas yang Dihilangkan Negara

Editor: Yuyun Khairun Nisa

 

Tahun 1998 adalah tahun yang menakutkan. Rangkaian kejahatan terjadi saat itu, mulai dari aksi penjarahan dan kerusuhan, pemerkosaan massal, insiden Trisakti dan Semanggi, hingga penghilangan paksa para aktivis.

Saat itu, kondisi Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Melansir dari Magdalene.co, rangkaian tragedi 1998 menyisakan luka yang sangat mendalam bagi korban. Pasalnya seperti yang tercatat oleh Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang dibentuk oleh Presiden BJ Habibie, ada sekitar 1.190 orang yang tewas dalam peristiwa Mei 1998. Baik akibat luka tembak, pemerkosaan, pembantaian maupun akibat terjebak dalam kebakaran.

TGPF juga mencatat bahwa ada 85 perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual. 52 di antaranya ialah kasus pemerkosaan yang sebagian besar menimpa perempuan Tionghoa. Tragedi ini meninggalkan luka sejarah yang dalam. Para korban dan keluarganya terus menanggung trauma tanpa kepastian keadilan dari negara.

Fakta menyakitkan ini diabadikan dalam salah satu novel berjudul “Melupakan 98”. Novel karya Annisa Tang ini mengisahkan tentang penderitaan para korban perkosaan massal Kerusuhan 98. 

Lena yang diperkosa lalu bunuh diri. A Phei, remaja SMP yang diperkosa, disiksa, lalu dibunuh hingga tubuhnya nyaris tak dikenali. Mei Lan, tokoh utama yang mengalami pemerkosaan brutal oleh 8 orang dalam sebuah angkot.

Selain memperlihatkan tragedi pemerkosaan, Annisa juga menggambarkan ulang penjarahan dan pembakaran toko, bahkan ketika pemiliknya masih ada di dalam. Di sisi lain, penulis juga menceritakan tentang Ita, relawan perempuan Tionghoa yang diperkosa dan dibunuh ketika hendak pergi ke luar negeri untuk memberi kesaksian.

 

Gambaran Cerita Korban dalam Novel Melupakan 98

Mei Lan adalah putri dari pasangan pedagang keturunan Tionghoa. Dalam tragedi kerusuhan, ayahnya terbunuh saat tokonya dibakar. Ia dan ibunya ditolong oleh dan diberi tempat tinggal oleh keluarga A Cin. 

Beberapa saat setelah tragedi kerusuhan, Mei memutuskan untuk mencari pekerjaan. Karena ia sadar, meski berduka karena ayahnya mati terbunuh, ia dan ibunya tetap harus melanjutkan hidup. 

Awalnya ibu Mei melarangnya untuk bekerja karena situasi masih tidak aman. Namun ia tetap bersikeras untuk mencari pekerjaan. Pada saat itu lah, Chong Lie, pacarnya Mei datang dan menawarkan pekerjaan. 

Hubungan Mei dan Chong Lie sempat renggang. Karena pada saat peristiwa kerusuhan, Chong Lie menghilang entah ke mana. Bahkan di momen pertemuan terakhir mereka, Chong Lie juga terlihat memeluk Leni, sahabat dekatnya Mei. Yang plot twist-nya, ternyata Leni adalah korban perkosaan massal. Karena mengalami trauma berat, ia kemudian bunuh diri. 

Meski begitu, Mei tidak ada pilihan lain, ia menerima tawaran Chong Lie untuk bekerja di butik mamahnya. Mulai dari situ hubungan mereka membaik dan hampir setiap hari Chong Lie menjemput dan mengantar Mei ke tempat bekerja. 

Hingga suatu hari, Chong Lie tidak datang menjemput, (ternyata pacarnya mengalami kecelakaan). Mei pun memutuskan untuk berangkat menggunakan angkutan umum. Di sini lah, titik balik kehidupan Mei.

Di angkutan umum, Mei jadi korban kekerasan seksual. Ia diperkosa oleh 8 laki-laki. Setelah peristiwa tersebut, dunia Mei berubah. Ia depresi berat, dan berkali-kali melakukan percobaan bunuh diri. 

Dalam kondisi tersebut ia bertemu dengan Ita, seorang relawan perempuan Tionghoa. Melalui bantuan Ita, Mei perlahan kembali pulih dan mencoba melanjutkan hidup. Meski ia harus tertatih-tatih, karena luka perkosaan itu tidak pernah benar-benar pulih. 

Di bagian yang lain, Anissa Tang juga mengisahkan tentang Ita yang mati terbunuh pada saat hendak pergi ke luar negeri untuk memberi kesaksian tragedi perkosaan massal 98. Banyak kisah serupa. Tentang mereka yang memperjuangkan keadilan, tetapi justru dibungkam negara.

 

Melupakan 98 dan Luka Para Korban Perkosaan

Cerita yang disajikan dalam novel Melupakan 98 ini adalah reka ulang tentang luka para korban tragedi 98. Warga Tionghoa yang dijarah dan dibunuh dengan cara yang ekstrim, perempuan-perempuan yang diperkosa dan juga relawan pembela HAM yang terbunuh pada saat lantang menyuarakan hak para korban. 

Lebih dari itu, dalam novel ini juga memperlihatkan bahwa luka akibat perkosaan itu tidak pernah hilang dari tubuh para korban. Tragedi tersebut seperti mimpi buruk yang terus menerus menghampirinya. 

Karena itu, sangat lah wajar jika para penyintas dan juga aktivis HAM marah ketika Menteri Kebudayaan, Fadli Zon mengatakan tragedi pemerkosaan dalam Kerusuhan Mei 98 itu ‘rumor’ dan ‘tak ada buktinya’. 

Alih-alih mendapatkan perlindungan dan keadilan, pernyataan tersebut justru memberi luka baru bagi para korban. Bagaimana tidak, ketika pemerkosaan telah merampas kepemilikan korban atas tubuhnya, kini setelah sekian tahun ia harus menerima pernyataan bahwa pengalamannya tidak diakui. Sungguh narasi yang nir-empati. 

Sebagaimana yang disampaikan oleh Ester Lianawati dalam bukunya yang berjudul “Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan” bahwa dalam kasus perkosaan, korban seperti membelah jiwa dan tubuhnya. Jiwanya keluar dari tubuh untuk mampu bertahan dalam momen-momen menyiksa, untuk tetap bertahan hidup meski dikuasai rasa takut. 

Bahkan sebagian besar korban perkosaan juga mengalami gangguan kesehatan mental, seperti disosiasi traumatis, kehilangan ingatan akan peristiwa dan semua hal yang dialami pada waktu kejadian. Ada pula yang menjalani hidupnya dengan depersonalisasi, yaitu melihat dirinya dari kejauhan, mengamati dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena korban mengalami stress ekstrem saat peristiwa perkosaan. 

Oleh karenanya, sejarah perempuan di masa lalu tidak sepatutnya dihilangkan dalam sejarah. Justru negara penting hadir merawat ingatan kolektif masyarakat. Mendokumentasikan tragedi tersebut sebagai wujud memorialisasi dan bentuk pencegahan agar tidak terjadi kekerasan berulang. Juga sebagai pembelajaran dan pengingat generasi penerus, agar mereka dapat melanjutkan estafet pengetahuan dan perjuangan gerakan perempuan. []

Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah
Fitri Nurajizah, lebih senang dipanggil Fitri aja. Senang berkegiatan di alam, terutama hutan & gunung. Sehari-hari aktif bekerja di Media Mubadalah.id dan sedang menjadi sahabat teman-teman Program Beasiswa Sarjana Ulama Perempuan Indonesia (SUPI) ISIF menulis. Jika ingin lebih dekat, bisa disapa di akun Instagram @fitri-nurajizah

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha