Monday, August 3, 2026

Nawal El-Saadawi : Resiliensi Perempuan Tak Berhenti Melawan

Editor: Adzka Hanina

 

Nawal El-Saadawi, merujuk  pada sosok perempuan fenomenal. Dia dikenal sebagai penulis dan feminis Mesir yang telah menerima penghargaan dari berbagai negara di seluruh dunia, tapi terkendala untuk diapresiasi negaranya sendiri.

Nawal sangat peka terhadap ketidakadilan, karena menurutnya sejak lahir, hidupnya telah dikelilingi ketidakadilan itu. Posisi sebagai anak kedua dari sembilan bersaudara, dan terlahir sebagai perempuan; membuat dirinya merasa tidak setara dengan temannya yang lain. 

Salah satu pengalaman masa kecil yang didokumentasikan Nawal dalam buku The Hidden Face of Eve (dialihbahasakan dalam Bahasa Indonesia dengan judul “Perempuan dalam Budaya Patriarki”) adalah praktik sunat perempuan atau female genital mutilation (FGM) yang dialaminya pada usia enam tahun.

Banyak orang merasa tidak nyaman dengan narasi pengalamannya di buku tersebut, tapi itulah fakta yang digambarkan Nawal. Bagaimana dirinya, yang masih usia anak dipaksa tradisi menjalani prosedur sunat perempuan yang menyakitkan di lantai kamar mandi, dengan ibunya berdiri di sampingnya. 

Pengalaman menakutkan itu menyalakan semangatnya untuk giat melakukan kampanye menentang sunat perempuan sepanjang hidupnya. Nawal beralasan bahwa praktik itu adalah alat yang digunakan untuk menindas perempuan, dan mematikan sosok ke-Perempuannya.

Perjuangannya berbuah hasil. Sunat perempuan secara resmi dilarang di Mesir pada tahun 2008. Walau pada praktiknya hal itu masih berlanjut, Nawal terus mengecam sampai akhir hayatnya. 

 

Menulis Sebagai Perlawanan 

Pengalaman merasai perlakuan diskriminatif sebagai perempuan memang dihadapi Nawal sejak kecil. Semisal dia pernah nyaris dipaksa menikah di usia anak, yaitu di usia 10 tahun, yang akhirnya batal karena pembelaan ibunya. 

Kelak sebagai perempuan, dia didukung penuh orang tuanya untuk menempuh pendidikan  sampai menjadi dokter. Meski demikian, Nawal menyadari bahwa anak perempuan di Mesir kurang dihargai dibanding anak laki-laki.

Salah satu perkataan nenek Nawal, “satu anak laki-laki berharga setidaknya 15 perempuan … Perempuan adalah hama” pada awalnya membangkitkan amarahnya. Namun, kelak hal itu yang mengobarkan semangatnya untuk memperjuangkan hak perempuan. 

Setelah bekerja sebagai dokter, Nawal menerbitkan novel pertamanya Memoirs of a Woman Doctor (1958).  Memoirs of a Woman Doctor mengisahkan protagonis yang melawan masyarakat patriarkis dan tradisional melalui aktivitasnya sebagai dokter—berdasar pengalamannya merawat pasien di pedesaan Mesir. (Sumber : Sekolah Pemikiran Perempuan)

Lalu, ketika menjadi direktur kesehatan masyarakat untuk pemerintah Mesir, perjalanan kepenulisan Nawal mulai menuai kontroversi. Dia dipecat setelah menerbitkan buku non-fiksi, Women and Sex (Perempuan dan Seks), yang isinya berupa kritikan keras terhadap sunat perempuan dan penindasan seksual terhadap wanita. Majalah Health, yang pernah Nawal dirikan ditutup juga sebagai ekses pemecatan itu. 

Setelah pembungkaman beruntun itu, dia tidak berhenti berbicara dan terus menulis. Pada tahun 1975, Nawal menerbitkan Woman at Point Zero yang dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia sebagai Perempuan di Titik Nol, sebuah tulisan yang mempopulerkan namanya di dunia.

Novel itu berdasarkan kisah nyata seorang perempuan terpidana mati yang pernah dia temui. Novel yang menghadirkan bagaimana sebagai perempuan mengalami ketidakadilan dalam budaya patriarki. 

Salah satu kutipan yang eksplisit menunjukkan situasi ketidakadilan tersebut, 

“Jika salah satu anak perempuan mati, ayah akan menyantap makan malamnya, Ibu akan membasuh kakinya, dan kemudian ia akan pergi tidur, seperti itu ia lakukan setiap malam. Apabila yang mati itu seorang anak laki-laki, ia akan memukul ibu kemudian makan malam dan merebahkan diri untuk tidur.” (Nawal El Saadawi 2002, h. 26)

Narasi yang sangat jelas itu menampar banyak pihak, apalagi ketika ditambah narasi lain dari novel yang sama, yang tak kalah kontroversial. 

“Saya tahu bahwa profesi saya diciptakan oleh seorang laki-laki. Karena saya seorang yang cerdas, saya lebih menyukai menjadi seorang pelacur yang bebas daripada menjadi seorang istri yang diperbudak.” (Nawal El Saadawi 2002, h. 133)

 

Melawan Sampai Akhir Hayat

Apa yang dilakukan Nawal El-Saadawi, sesungguhnya menunjukkan privilesenya sebagai seorang intelektual. Kecaman, ancaman tak menghentikannya untuk terus  menyuarakan perlawanan kaum tertindas. 

Novel Perempuan di Titik Nol, diikuti Hidden Face of Eve (Perempuan dalam Budaya Patriarki), yang di dalamnya Nawal mendokumentasikan pengalaman sebagai seorang dokter desa yang menyaksikan pelecehan seksual, “pembunuhan demi kehormatan”, dan prostitusi. Buku itu dianggap para pengkritik memperkuat stereotip perempuan Arab, yang berakibat, bulan September 1981, Nawal ditangkap sebagai bagian dari penangkapan para pembangkang di bawah pemerintahan Presiden Anwar Sadat dan ditahan di penjara selama tiga bulan.

Jeruji besi pun tak mampu menghentikannya untuk terus berkarya. Nawal makin bergiat menulis memoarnya di atas kertas toilet, menggunakan pensil alis yang diselundupkan kepadanya oleh seorang pekerja seks yang juga dipenjara.

Setelah Presiden Sadat dibunuh saat kudeta, Nawal dibebaskan, tetapi karyanya disensor dan buku-bukunya dilarang.

Sepanjang hidupnya, Nawal menerbitkan lebih dari 27 buku, baik non-fiksi, novel, cerita pendek, artikel, maupun drama yang berfokus pada perempuan—dan kaitannya dengan tiga wacana yang dianggap tabu di dunia Arab: seksualitas, agama dan politik. Dari semua isu itu, melalui karya sastra yang ditulisnya, Nawal mengakui lebih bisa dan lantang bersuara.

Ketika tahun-tahun berikutnya, dia menerima ancaman pembunuhan dari kelompok fundamentalis agama, dibawa ke pengadilan, dan akhirnya diasingkan di AS; perlawanan Nawal tak berhenti atau memilih jalan aman dengan berdiplomasi sana sini.  

Dia tetap kritis. Terus bersuara. Meski banyak mendapat kritikan karena dianggap terlalu keras, perempuan yang wafat di usia 89 tahun ini memberikan tanggapan yang menampar: 

“Tidak. Saya harus lebih blak-blakan, saya harus lebih agresif, karena dunia menjadi lebih agresif, dan kami membutuhkan orang-orang untuk berbicara keras melawan ketidakadilan.”

Sosok Nawal El- Saadawi, menjadi refleksi dan pengingat bahwa perlawanan bisa lahir dari mana saja, termasuk tulisan. Karena bisa jadi, kata-kata menjadi peluru yang lebih kuat dan abadi dibandingkan senjata. 

Terpopuler
Artikel

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here
Are you human? Please solve:Captcha